CERMIN Para MARTIR
Kisah-kisah gagah berani kaum Anabaptis dari abad XVI yang telah mengorbankan hidup demi iman mereka, yang diceriterakan kembali untuk membangkitkan semangat.
Alih Bahasa : Sri Wandaningsih
Penyunting : Pdt. Charles Christano dan Ev. Paul Gunawan
Korektor : Eline Mulyanti
Penerbit : Sinode GKMI Semaran, Juni 1999
Ucapan Terima Kasih
Untuk mempersiapkan buku ini, saya berterima kasih atas nasihat dan bantuan banyak pihak: Amos B. Hoover, Gray Waltner dan Willy Hege; John Janzen, Reinhild Janzen, Robert Regier, Chuck Regier dan staf Museum Kauffman (Kauffman Museum), di North Newton, Kansas; John D. Roth, Joe Springer dan staf Perpusatakaan Sejarah Mennonit (Mennonite Hitorical Library), di Goshen, Indiana; Dale Schrag dan staf Perpustakaan dan Arsip Mennonit (Mennonite Library and Archives), di North Newton, Kansas; Stanley Kaufman, perajin seni cetak; Alvin Hosterler, jurupotret; Phyllis dan Merle Good dan staf Good Books; Ervin Beck, Marry Ellen Martin, James Juhnke, Mary Oyer, Mary Sprunger, Ruth Unrau dan masih banyak lagi yang lain.
Kami berhutang budi atas sumbangan yang diberikan oleh enam belas orang pendukung pada zaman dulu: Sam dan Esther Bontrager, La Verne dan Luella Gerig, John Kreider, Robert dan Lois Kreider, Mennonite Indemnity, Inc. Myrl Nofziger, Herbert dan Louise Regier, Erie dan Orlyss Sauder, Richard dan Shirley Schiedel, Yayasan Schowalter (Schowalter Foundation), Milo dan Laura Shantz, Maurice dan Opal Stahly, Elroy dan Elberta Troyer, Leroy dan Phyllis Troyer, Ora dan Mary Troyer, dan Dale serta Irene Weaver. Ditambah lagi dengan sumbangan besar dari Kultusministerium dari Rhineland- Pfalz, Jerman Barat, dan bantuan logistik dari Komite Pusat Mennonit (Mennonite Central Committee), di Akron, Penssylvania.
Robert S. Kreider, John S. Oyer.
PENGANTAR
Bagi banyak warga GKMI, GKMI dipahami dan dihayati sebagai gereja di Indonesia yang terkait dengan tradisi Mennonit. Namun perlu diakui bahwa keterkaitan warga GKMI dengan tradisi ini bukanlah berarti bahwa mereka dapat mengenal tradisi tersebut secara mendalam. Bahkan dapat dikatakan para warga GKMI masih bergumul untuk mengenal lebih banyak karakter-karakter khas tradisinya dan juga bergumul bagaimana dapat mengekspresikan dan mengaktualisasikan dalam kehidupannya kini dan disini. Bagi sebuah komunitas (kelompok masyarakat tertentu) seperti GKMI, mengenal dengan baik karakter khas komunitas tersebut (atau dalam hal ini teologi dan ekspresi teologinya dalam kehidupan harian) berarti ia harus belajar dari lingkungannya ataupun dari sejarah komunitasnya yang diteruskan dan dikembangkan secara terus menerus. Hal yang menghambat warga GKMI untuk mewujudkan hal ini adalah: pertama, tidak adanya komunikasi kehidupan riil yang langsung dan berkesinambungan dengan kehidupan Mennonite awal karena GKMI terletak di benua yang lain dan jauh dari tempat komunitas Mennonit itu tumbuh dan berkembang. Yang kedua, kurangnya bahan- bahan pembantu (buku-buku) baik yang berupa biografi ataupun historis yang mengungkapkan kehidupan riil komunitas (bukan lembaga institusinya) tersebut.
Dipersembahkannya buku “Cermin Para Martir” yang merupakan terjemahan dari buku Mirror of the Martyrs, karya John S. Oyer dan Robert S. Kreider merupakan sumbangan berharga untuk usaha warga GKMI mengenal kekhasan bagimana kehidupan riil warga Mennonit kuno mengenal kekhasan prinsip teologisnya dan mengekspresikannya dalam hidup mereka. Dari judul, jika kita lihat sekilas, seolah buku ini menonjolkan keberanian para warga Mennonit kuno di Eropa menghadapi kematian karena imannya. Namun jika kita simak secara cermat, Mirror of the Martyrs juga menggambarkan bagaimana keadaan komunitas yang dapat seketika kehilangan perlindungan (seperti kisah Agustijn), terjadi suatu pengkhianatan (Anneken Hendruks dsb.). Memang kenyataann itu mengakibatkan banyaknya orang- orang Mennonit dibunuh. Namaun ada hal-hal yang penting untuk dihayati secara teologis yang disaksikan oleh Mirror of the Martyrs antara lain :
Dalam suasana seperti itu, kacau dan hukuman mati yang tidak adil, ternyata Tuhan tetap bekerja untuk menyentuh hati nurani manusia (misalnya kisah Simon de Kramer yang menunjukkan bagimana hati nurani hakim tergugah karena membunuh orang tak bersalah). Berteologi dalam kehidupan dengan cara mengekspresikan iman secara nyata dalam keadaan yang sulit sebagaimana dikisahkan dalam kehidupan Joris Wippe.
Mirror of the Martyrs memang menyaksikan kehidupan keluarga-keluarga Mennonit kuno. Namun ia bukan sekedar menyaksikan tradisi Mennonitnya. Ia menyaksikan bagaimana Tuhan bekerja dan bagaimana makna salib mewujud dan menguatkan kehidupan orang percaya. Melihat kenyataan tersebut diatas maka buku “Cermin Para Martir” sebagai terjemahan “Mirror of the Martyrs” mengajar warga GKMI untuk mengenal kekhasannya lebih baik dan mengajar orang percaya pada umumnya untuk melihat kuasa Tuhan lebih dalam. Ia akan sangat membantu kita dalam hidup sebagai umat Kristen dalam masa yang sulit ini dan ia akan membantu mengokohkan iman kita.
Semarang, 20 Mei 1999
Pdt. Aristarchus Sukarto, Ph.D.
Ketua Bidang Teologia SMI
Periode 1995 -1999
PENGANTAR PENERBIT
Salah satu tujuan yang hendak dicapai oleh Rencana Induk Jangka Panjang (RIJP) GKMI dari tahun (1989) 1992 – 1999 adalah lebih memahami dan menghayati jati-diri GKMI sebagai gereja Mennonit di Indonesia. Untuk memahami dan menghayati jati-diri GKMI sangat terkait dengan tradisi Mennonit. Untuk mengenal lebih baik karakter- karakter khas tradisi Mennonit, perlu cukup tersedia buku-buku dalam bahasa Indonesia baik yang berupa biografi maupun historis yang mengungkapkan kehidupan komunitas Mennonit.
Maka salah satu program Sinode Muria Indonesia Bidang Teologi tahun 1998 – 1999 adalah menerjemahkan dan menerbitkan buku “Mirror of the Martyrs” tulisan John S. Oyer dan Robbert S. Kreider yang diterbitkan oleh Good Books, Intercourse, PA 17534. Kalau saat ini terjemahan buku tersebut sudah ada di tangan Anda, itu berkat usaha dan bantuan banyak pihak, baik lembaga maupun pribadi.
Melalui kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
- Mennonite Central Committee (MCC) yang telah menghubungi pihak penulis dan penerbit sehingga kami diizinkan untuk menterjemahkan dan menerbitkan buku “Mirror of the Martyrs” dalam edisi bahasa Indonesia. Selain itu MCC juga bersedia membantu membayar royalti bagi penulis dan penerbit.
- Penerbit Good Books serta John S. Oyer dan Robert S. Kreider, sebagai penerbit dan penulis buku “Mirror of the Martyrs” yang telah memberikan izin kepada kami untuk menterjemahkan dan menerbitkan buku tersebut dalam edisi bahasa Indonesia.
- Ny. Sri Wandaningsih yang telah bersedia menjadi alih bahasa.
- Pdt. Charles Chritano dan Ev. Paul Gunawan yang telah bersedia menjadi penyunting.
- Pdt. Aristarchus Sukarto yang telah bersedia menulis Pengantar untuk buku ini.
- Elina Mulyanti yang telah bersedia menjadi korektor hingga naskah siap cetak.
Kami berharap melalui buku ini kita akan lebih mengenal tradisi komunitas Mennonit. Tapi lebih daripada itu, kita akan dapat semakin diberdayakan untuk mengekspresikan iman kita secara nyata dalam hidup sehari-hari dalam situasi yang sulit bagaimanapun juga. Selamat membaca. Tuhan memberkati.
Semarang, 8 Juni 1999
Penerbit.
PRAKATA
Bagi gereja-gereja Mennonit dalam sejarahnya selama 465 tahun, di samping Alkitab, tidak ada buku lain yang lebih berpengaruh untuk menghidupkan dan memelihara iman mereka selain buku Martyrs Mirror. Terutama buku edisi kedua yang sangat berharga, terbitan 1685, telah mendapat penghargaan atas 104 gambar etsanya yang dibuat oleh artis Menonit berbakat bernama Yan Luyken. Sebelumnya lempengan-lempengan cetakan tembaga yang asli dari ke-104 gambar etsa* itu dianggap hilang diantara puing-puing Perang Dunia II.
Dalam tahun 1975, tiga puluh lempengan diantaranya ditemukan kembali – sebagai hasil karya yang terselamatkan setelah berkelana selama 300 tahun. Pada waktu itu, teman-teman dari Amerika Utara memperoleh tujuh lempengan, tetapi yang dua puluh tiga lainnya terhilang di tangan seorang pengumpul benda-benda bernilai seni dari daerah Rhineland yang tidak suka membuka suara mengenai lempengan-lempengan tadi.
Pada akhir bulan Mei 1988 ada berita melalui telepon. Kedua puluh tiga lempengan lainnya itu akan dijual. Atas sumbangan dana dari enam belas orang pendukung, lempengan-lempengan terebut dibeli. Begitu kami mengklaim lempengan- lempengan Martyrs Mirror tersebut, Martyrs Mirror pun mengklaim kami pula. Setelah lempengan-lempengan tersebut dapat kami miliki, maka terciptalah trust antar Mennonit, merencanakan dan merancang pameran keliling, menulis dan menyunting buku katalog, membaca dan melakukan riset selama berbulan-bulan, menyiapkan bahan-bahan pendidikan, membuat sebuat kaset nyanyian pujian kaum martir dari abad ke-16, menggalang dana dan mengatur organisasi untuk membantu memperlengkapi sejumlah proyek pendukungnya. Kami mendapati, buku besar yang mengagumkan ini tidak hanya menyita waktu dan tenaga kami saja, tetapi telah menyita pikiran dan perasaan kami juga.
Sejak kami menerima telepon pada akhir Mei 1988 itu, rencana kami dibentuk oelh tiga keperdulian: pertama, barang berharga yang terdiri dari lempengan-lempengan berumur 300 tahun ini harus dijaga agar tetap utuh, tidak menjadi milik kebanggan satu lembaga pun, tidak perlu terpencar-pencar menjadi milik orang banyak. Koleksi barang-barang ini dimiliki oleh perserikatan kaum Mennonit yang mewakili seluruh sahabat pewaris kaum Anabaptis. Karena itu, bantuan Komite Pusat Mennonit di Akrton, Pennsylvania, sangat menentukan untuk memungkinkan semua itu.
Kedua, lempengan-lempengan tembaga ini harus dipandang lebih daripada sekerdar benda-benda kuno peninggalan sejarah yang menantang, dan yang hanya dapat dinikmati oleh sejumlah kecil orang-orang tertentu. Sebaliknya, hasil karya seni yang indah ini harus diterima dengan penuh rasa syukur, sebagai sarana yang dapat menngatkan kembali pada kenangan bersama. Dikelilingi oleh sayap-sayap keperdulian terhadapa kisah, orang-orang memelihara iman mereka dan mewariskan imannya itu kepada orang-orang lain. Lempengan-lempengan kuno ini menawarkan kesempatan untuk menceritakan dengan segar bagaimana disaat-saat yang berbahaya itu orang-orang yang setia itu mengikuti Kristus dengan sukacita yang tiada batasnya.
Ketiga, lempengan-lempengan yang tua ini tidak hanya membawakan cerita gerejawi yang aneh-aneh, melainkan sebuah kisah yang mendunia (universal). Meskipun menyangkal secara terbuka, banyak pemerintah masih melakukan tindakan- tindakan penyiksaan secara keji. Kini, lebih banyak orang yang ditahan karena keyakinan mereka dan hidup merana di dalam sel-sel yang sepi, daripada mereka yang ditahan pada tahun 1500-an.
Di abad kedua puluh jumlah orang yang dibunuh karena keyakinan mereka lebih banyak daripada di abad-abad lain dalam sejarah. Para martir Anabaptis mempunyai hubungan persaudaraan dengan sejumlah martir di masa lalu dan di masa sekarang.
Katalog buku cerita ini dirancang bangun baik sebagai pendaping dalam pameran “Mirror of the Martyrs’, maupun untuk memperkaya pemahaman mengenai pameran itu sendiri, tetapi juga untuk memperkenalkan kepada pada pembaca, baik dalam kata-kata maupun dalam citra mengenai pengalaman para martir Anabaptis.
Robert S. Kreider
North Newton, Kansas
dan
John S. Oyer
Goshen, Indiana
Keterangan gambar dalam buku Cermin Para Martir
- Halaman 9.
Seorang Martir Kristen dibakar pada Tiang Pembakaran, Polycarpus 155
Proconsul: “Bersumpahlah dalam nama Kaisar yang mulia, bertobatlah, dan katakanlah: ‘Singkirkan para atheis!’ … Bersumpahlah, dan saya akan melepaskanmu, Kutukilah Kristus.”
Polycarpus: “Selama 86 tahun aku telah melayani Dia, dan Dia tidak pernah membuat kesalahan padaku; bagaimana mungkin aku dapat menghujat Rajakku yang telah menyelamatkan aku?”
-
Eusebius, Sejarah Gereja
-
Halaman 10.
Seorang Kristen Dianiaya dan Dikucilkan, Origenes, sekitar tahun 200
Marilah kita berdiri teguh agar jangan sampai kita menjadi ragu sedikitpun apakah kita harus menyangkali Tuhan atau mengakui-Nya
Origenes, dalam suratnya kepada orang-orang Kristen baru selagi terjadi penganiayaan terhadap Septimus Severus, 211
- Halaman 13.
Kematian dengan cara dianiaya merupakan semacam seni untuk mempertahankan kehidupan dalam kesakitan, dengan cara membagi-bagikannya dalam “seribu kematian.” …
Kematian menjadi bagian dari upacara agama.
Michel Foucalt
Disiplin dan menghukum.
- Halaman 14.
Tak ada apa pun yang dapat menutupi kenyataan bahwa sangat lebih sukar menjadi orang Kristen pada abad sekarang ini dibandingkan dengan pada abad-abad permulaan
…Ketika “melakukan dosa” menjadi “tugas suci” bagi seseorang, maka orang Kristen tidak tahu lagi bagaimana dia harus hidup. Tak ada satu pun yang dapat dia kerjakan kecuali menjaga kesaksian dirinya sendiri. Dan dimana ada kesakisan semacam itu, di situ ada Kerajaan Allah.
-
Reinhold Schneider -
-
Halaman 15.
Ketika nyala api peperangan semakin membubung tinggi, tidak ada orang yang dapat mengatakan apakah salib dan penyiksaan orang-orang Kristen yang berpendirian teguh untuk tidak melawan kekerasan dengan kekerasan tidak akan segera terjadi, dan karena itu, penting bagi kita untuk memperisapkan diri untuk menghadapai keadaan serupa ini dengan sabar dan penyerahan diri, dan menggunakan apa saja yang dapat meneguhkan iman. Seluruh masyarakat kami telah mewujudkan tekat yang bulat untuk mendapatkan terjemahan dari buku Bloody Theare (Teater Berdarah) karya Thieleman Jansz van Braght dalam bahasa Jerman … kami menganggap bahwa sungguh sangat penting bagi kami untuk mengenal saksi-saksi yang dapat dipercaya itu, yang telah berjalan dalam kebenaran dan mengorbankan hidup mereka demi kebenaran itu.
Surat Jemaat Menonit di Pennsylvania kepada jemaat Menonit di Amsterdam, Negeri Belanda, untuk meminta pertolongan agar buku Martyrs Mirror diterjemahkan dan diterbitkan, 1745.
Mengenai Kisah-kisah
Kami menyajikan satu seri cerita-cerita pendek para martir, setiap cerita tidak lengkap pada dirinya sendiri. Kami ingin memberi gambaran kemartiran yang lebih terpadu secara utuh - yang menyinggung banyak segi dan variasinya - daripada gambaran melalui sejumlah kecil cerita saja. Oleh karenanya untuk setiap cerita, kami telah memilih beberapa elemen tunggal, sering kali tiada duanya, untuk menunjukkan berbagai macam kenyataan sosial politi yang harus dihadapi para korban diskriminasi agama pada abad keenambelas. Cerita rinci selengkapnya mengenai setiap martir dapat ditemukan pada buku Martyrs Mirror itu sendiri, atau lebih sering terdapat pada Ensiklopedia Menonit. Kami telah memilih sumber materi yang tidak digunakan baik oleh van Braght maupun oleh para penulis Ensiklopedia Menonit.
Kumpulan kisah kami peroleh baik secara kebetulan atau kami pilih secara kebetulan atau kami pilih secara berhati- hati. Kami memilih dua puluh tiga cerita kemartiran yang digambarkan dengan seni etsa oleh Luyken, dari antara tiga puluh lembar lempengan asli yang selamat dari keganasan perang dan musibah lain karena diabaikan. Kami mereproduksi ketiga puluh lempengan itu dalam bentuk cetakan. Sebagai tambahan, kami memasukkan sejumlah cerita dengan lukisan yang berasal dari ketujuh puluh empat lempengan etsa yang hilang itu. Seluk beluk cerita mengenai lempengan-lempengan itu juga diceriakan di bagian lain dari buku ini.
Kami menyusun kisah-kisah ini menurut temanya, bukan urutan peristiwanya: kemartiran sebagai bahan tontonan bagi orang-orang yang sangat ingin tahu mengenai bagaimana kaum Anabaptis ditangkapi, bagaimana gerakan Anabaptis menguatkan beberapa anggota keluarga yang lain, bagaimana kaum Pesakitan and para korban Anabaptis diperlakukan, bagaimana perkelahian kaum Anabaptis mempermudah penangkapan mereka (para martir Anabaptis memang sangat gagah perkasa, tetapi mereka juga masih manusia biasa). Kami berharap kiranya susunan kisah-kisah yang kami buat ini dapat menyajikan jangkauan rincian kisah yang luas berdasarkan pengalaman para martir Anabaptis.
Catatan akhir menyajikan kuktipan-kutipan yang hanya berasal dari sumber yang kurang jelas dan keterangan- keterangan mengenai beberapa hal yang lebih kontroversial – terutama hal-hal yang sumber materinya tidak kami miliki cukup lengkap, dan kami memilih untuk melakukan perkiraan.
Satu catatan penutup: dalam abad keenambelas, kota-kota atau desa-desa di dataran rendah, kawasannya ditandai dengan batas-batas provinsi: Holland, Zeeland, Gelderland, Brabant, dan lain-lainnya. Hanya pada tahun 1579, dibawah pemerintahan Wangsa Orange, sekelompok kecil provinsi di dataran rendah yang paling utara mulai muncul sebagai negara dari suatu bangsa yang kini kita kenal sebagai Negeri Belanda. Kami menggunakan istilah yang moderen, yang tidak sesuai dengan zaman itu, untuk mempermudah menemukan nama tempat, baik di dalam kisah maupun pada peta.
Makan, Minum dan Bersukacita
Gerrit Hazenpoet, Nijmegen 1557
Pelaksanaan hukuman mati pada abad keenambelas merupakan tontonan umum yang mengandung moral: bahwa pemerintah akan menghukum dengan kejam orang-orang berdosa yang menyedihkan di dunia ini, dan selanjutnya gereja menyerahkan jiwa mereka ke neraka. Beberapa pelaksanaan hukuman mati didahului dengan pemberian jamuan. Korbannya dipaksa duduk di kursi kehormatan di antara walikota dan pendeta yang terkemuka. Perjamuan-perjamuan serupa ini dimulai di Perancis dan dibawa ke Negeri Belanda oleh tuan-tuan tanah Burgundi pada abad keempatbelas dan kelimabelas.1 Para pembesar dan penguasa selalu minum-minum secara berlebih-lebihan.
Pada perjamuan untuk Gerrit Hazenpoet, ia sama sekali menolak untuk minum anggur. Ia mengatakan, bahwa ia akan minum “anggur baru di kerajaan Bapa,” pernyataan protesnya terhadap apa yang berlebih-lebihan dan rasa muaknya terhadap upacara ritual biadab yang diadakan bagi orang tidak bersalah yang diperlakukan seperti pelaku kriminal biasa. Hazenpoet, seorang penjahit pakaian yang sederhana, melarikan diri ke Nijmegen, Negeri Belanda. Ketika dengan diam-diam ia kembali ke kotanya untuk mengunjungi isteri dan anak-anaknya, seorang polisi mengetahuinya. Ketika ia ditahan bersama-sama kaum Anabaptis lainnya, Hazenpoet disiksa, dipenjarakan selama dua puluh empat hari, kemudian dihukum mati dengan cara dibakar. Isterinya datang ke balai kota, kemungkinan dipenghujung perjamuan untuk menyampaikan salam perpisahan (peristiwa ini diabadikan oleh Luyken). Ia pingsan karena sedih dan harus diangkat keluar gedung itu.
Pemerintah kota itu harus mengeluarkan biaya lebih dari tiga puluh tujuh Brabant guilders untuk menahan, memberi makan, menginterogasi dan menyiksa Hazenpoet, untuk membeli bahan bakar yang diperlukan (kayu dan jerami), untuk mendirikan tonggak; untuk menghukum mati; dan akhirnya untuk membeli anggur untuk merayakannya (empat puluh persen dari biaya tadi untuk membeli anggur ini). Pemerintah kota harus mengeluarkan uang untuk dua puluh orang lebih yang mengambil bagian dalam jejaring pelaksanaan kematian ini.2
Pada tonggak kayu, Hazenpoet menyanyikan lagu pujian sebagai perpisahannya kepada saudara-saudara seiman yang pasti menjadi saksi-saksi pada jam terakhir masa hidupnya.3
Biaya untuk Hukuman Mati Garrit Hazenpoet
Berikut ini adalah jumlah yang dikeluarkan untuk membiayai tugas-tugas dan pelayanan-pelayanan tertentu. Satuan-satuan tadi di dalam guilder Brabant. Satu guilder terdiri dari 20 stuiver dan harga seperempat liter anggur 4 stuiver Brabant. Tiga puluh tujuh guilder sekarang bernilai sekitar $70,-. Kalau orang membandingkan standar hidup pada waktu itu dengan standar hidup kita sekarang, maka tiga puluh tujuh guilder itu bernilai mendekati $5000.
% dari Total
- Polisi yang bertugas menangkap korban 2/14 7,3
- Petugas Penyiksaan :
- Tambang untuk menyiksa /3 ,4
- Anggur untuk penyiksa /3 ,4
- Celijs van Aken yang bertugas memberi makan korban selama 24 hari 7/4 19,5
- Jan van Venloe yang bertugas mendirikan tonggak pengikat korban /6 0,8
- Gaert Ketell yang bertugas mengisi bahan bakar 1/7 3,7
- Celijs van Aken (kayu bakar) /13 1,8
- Petugas pembawa jerami dan rumput kering /14 1,9
- Dr. Theologia Borchardt von den Berch yang bertugas membujuk korban agar mengaku bersalah 2/8 6,5
- Pimpinan Gereja Benedectine, untuk membujuk korban agar mengaku bersalah 3/12 9,7
- Petugas pemerintah kota yang membawa korban ke pengadilan /3 0,4
- Petugas pemerintah kota yang mengikat korban di tonggak kayu /15 2
- Algojo yang bertugas membunuh korban /15 2 Biaya-biaya lain untuk pembunuhan /15 2
- Tuan-tuan besar yang memimpin upacara penghukuman mati 14/16 40,0
TOTAL 37/ 100,1
Berikut ini adalah catatan lain mengenai biaya untuk kepentingan yang lebih luas, untuk menangkap atau berurusan dengan orang-orang Anabaptis lainnya yang tidak dikenal.
- Walikota, pergi ke Arnhem untuk mengurus orang-orang Anabaptis (mungkin untuk meminta nasihat) 12 qu. 2/8 16,7
- Walikota, untuk menerima penghargaan kepada walikota Ubbergen, tentang bagaimana menghadapi orang-orang Anabaptis, 20 qu 4/ 27,9
- Polisi, mencari orang-orang Anabaptis dan kaum non Anabaptis, 95 qu 4/15 33,1
- **Petugas-petugas di Sunter Claes (8 orang) yang bertugas mengunjungi orang-orang Anabaptis di penjara, dll. 16 qu 3/4 22,0
TOTAL 14/7 100,0
*Pembayarannya menggunakan anggur, seperempat liter seharga 4 stuiver. Seperempat liter merupakan ukuran untuk satu botol; kira-kira sama dengan seperempat liter ukuran kita sekarang.
**Ini adalah orang-orang yang diberi mandat untuk mengunjungi orang-orang di penjara dan bertugas menghadiri rapat-rapat dewan kota untuk menjamin, bahwa hak-hak orang-orang yang terpenjara dan hak-hak pemerintah kota dihormati.
Ketulusan yang Membawa Maut - Kebodohan yang Kudus
Simon de Kramer, Bergen op Zoom, 1553
Simon, si pedagang warung tempel (Kramer), menjual barang-barang sederhana di bawah tenda di lapangan pasar kota Bergen op Zoom, Negeri Belanda. Pada suatu hari, dalam suatu pameran kemewahan yang menampakkan kesalehan dan kekuasaan, pendeta setempat membawa roti perjamuan kudus yang sudah didoakan dalam iring-iringan berkeliling kota. Ketika mereka melalui warung itu, simon tidak mau berlutut. Saat itu ia sudah meninggalkan gereja Katolik untuk mengikuti iman dan perbuatan orang-orang Anabaptis, dan ia menganggap roti perjamuan yang dianggap berubah menjadi tubuh Kristus itu hanya penyembahan berhala semata. Para pelanggannya dan sesama pemilik warung meminta dengan sangat agar ia mau berlutut dan menyelamatkan dirinya. Namun ia menolak. Kramer ditangkap oleh para pengikut pendeta tadi, sebagai seseorang yang dicurigai seorang bidat, ia segera disidangkan dan dijatuhi hukuman mati. Dalam beberapa hari ia dibakar pada tonggak kayu di depan umum di luar tembok kota.4
Pengikut Anabaptis yang mula-mula, yakin bahwa Tuhan mendatangkan pembalasan bagi para tiran yang menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah. Mereka pun berulang-ulang menceritakan kisah tentang murka Tuhan yang dicurahkan kepada sebagian dari penyiksa-penyiksa mereka, termasuk Kepala Polisi Bergen op Zoom. Setelah Kepala Polisi itu menjatuhkan hukuman mati kepada Kramer, hati nuraninya begitu terusik karena ia telah menjatuhkan hukuman mati kepada orang yang tidak bersalah, ia mulai berbicara sendiri secara kacau, “Oh, Simon, Simon.” Baik anggota keluarganya maupun pendeta tidak dapat menentramkan pikirannya kembali. Ia mati beberapa hari kemudian. Tradisi orang-orang Menonit yang mula-mula, membandingkan nasib Kepala Polisi tadi dengan Herodes yang sakit cacingan dan tidak lama kemudian mati setelah ia, dengan congkak, menerima sambutan meriah masyarakat yang menganggapnya sebagai Tuhan. Orang-orang Menonit yang masih suka membaca Kitab Apokrip, juga membandingkan nasih Kepala Polisi itu dengan nasib Antiokus pada zaman Makebeus.
Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: “Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya.” Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu. Jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku.
- Yohanes 15 : 20-21 (TB)
Dikhianati Oleh Seorang Anabaptis yang Seperti Yudas
Anneken Hendriks, Amsterdam, 1571
Anneken de Vlaster dari Frisia, seorang ibu rumah tangga dan mungkin juga penenun kain lenan, dijatuhi hukuman mati dengan sangat biadab. Algojo mengikatnya pada sebuah tangga, menjejali mulutnya dengan bubuk mesiu dan melemparkan tubuhnya di atas setumpukan arang yang menyala. Pada saat itu pasukan garnisun Spanyol sedang menteror Amsterdam dan berusaha menghentikan pertumbuhan semangat nasional bangsa Belanda yang sedang berkembang untuk mendapatkan lebih luas kebebasan berpolitik dan beragama.5 Bagaimana pun juga, jarang seorang wanita, sekalipun ia seorang bidat, dihukum mati dengan cara dibakar, bukan ditenggelamkan. Mengapa kekejaman yang berlebihan ini terjadi?
Sembilan belas tahun sebelumnya, pada tahun 1552, Anneken sudah bergerak di kalangan para simpatisan Anabaptis di Amsterdam. Ia meninggalkan kota ini ketika penguasa setempat meningkatkan tekanannya terhadap orang-orang Anabaptis. Dua orang teman dekatnya, Aechgen Jacobsdr. dan Filistis Ericxdr., ditangkap. Mereka sudah menyangkal minat mereka terhadap gerakan itu, namun demikian mereka tetap dijatuhi hukuman pembuangan walaupun sebenarnya mereka belum dibaptis. Anneken meninggalkan kotanya menuju kota Franeker di Frisia. Minatnya terhadap aliran Anabaptis akhirnya hidup kembali dan ia pun dibaptis. Ia menikah secara “rahasia menurut kebiasaan Anabaptis” (menurut catatan pengadilan; upacara peresmian pernikahannya itu tidak disahkan oleh pengadialan).
Ketika ia kembali ke Amsterdam pada bulan Oktober 1571 ia diketahui oleh seorang anggota Polisi atau informan, yang dikemudian hari disebutnya sebagai “Yudas”. Dari sebutan itu tersirat, bahwa orang itu tentu pernah menjadi anggota persekutuan Anneken, yang terdiri dari orang-orang yang mencari kebenaran yang dianut kaum Anabaptis dan ia tentu sudah mengenal Anneken dengan cukup baik, sehingga ia dapat mengenalinya kembali sembilan belas tahun kemudian. Kaum Anabaptis yang dibuang harus bersumpah bahwa mereka tidak akan kembali lagi dan biasanya mereka diperlakukan dengan keji kalau mereka kembali dan tertangkap. Anneken mungkin melanggar janji untuk menghormati perintah tentang pembuangan itu, yang pernah diucapkannya. Orang-orang Anabaptis sering mengabaikan pernyataan penguasa mengenai pergusiran mereka itu berdasarkan Mazmur 24:1 (TB), “TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya; dan dunia serta yang diam didalamnya.” Mereka percaya bahwa tidak ada satupun lembaga manusia dapat dengan sombongnya menganggap mempunyai hak untuk mengendalikan dan mengatur daerah, terutama tidak dalam kasus-kasus yang berkaitan dengan kepentingan orang-orang Kristen.6
Baik para petugas kantor pemerintah maupun petugas keagamaan heran menyakiskan iman Anneken yang kokoh tadi
– ketegarannya, demikian mereka mengatakannya. Pada saat pelaksanaan hukumannya ia menyatakan kepada umum, bahwa Tuhan akan menuntut balas kepada Yudas, yang namanya tidak dikenalnya itu, yang telah mengkhianatinya. Mulutnya dijejali dengan serbuk mesiu untuk mencegah agar ia tidak dapat menyampaikan “kesaksian baik” berupa amanat menjelang ajal kepada orang-orang yang menyaksikannya. Luyken menggambarkannya dengan mulut setengah terbuka, mungkin karena mulutnya itu tersumbat, penuh dengan serbuk mesiu.
Hampir di sepanjang masa dewasanya, Anneken bergerak dalam sebuah kelompok kecil umat Kristen pembaca Alkitab dan keluar masuk kelompok-kelompok kecil orang-orang Anabaptis. Di kemudian hari, orang-orang Menonit Belanda menyanyikan lagu-lagu pujian yang berdasarkan pada kisah hidupnya.7
“Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” 1 Korintus 2:9 (TB)
Penyamaran Seorang Anabaptis Terbongkar
Augustijn, Beverwijk, 1556
Banyak orang Anabaptis tinggal di antara teman-temannya yang bukan orang Anabaptis dan tetangga-tetangganya yang tidak mau membuka rahasia. Tidak setiap orang bersikap kejam terhadap mereka. Seringkali mereka dihargai karena semangat moral mereka, dihormati karena ketulusan mereka. Augustijn, seorang tukang roti dari Beverwijk, Negri Belanda, bahkan mempunyai teman-teman di kalangan pegawai tinggi.
Pejabat kepolisian Beverwijk, kawan Augustijn, menjanjikan perlindungan kepadanya. Sebaliknya, walikota Beverwijk adalah orang yang fanatik terhadap iman yang tradisional, dan ia bersumpah akan menangkap dan membunuh orang Anabaptis manapun yang dapat ditemukannya. Pada suatu hari ketika pejabat kepolisian itu sedang pergi ke luar kota, tiba-tiba walikota itu memaksa pejabat kepolisian lainnya untk menahan Augustijn. Mereka mengejutkan Augustijn yang sedang berada di dekat papan rotinya, sedang meremas-remas adonan roti. Tanpa menyadari bahaya yang sedang mengancam, ia tidak mempunyai waktu untuk melarikan diri. Dalam pengadilan tidak sah yang diselenggarakan dengan tergesa-gesa, opsir-opsir polisi itu menjatuhkan hukuman mati kepadanya dan bergegas membawanya ke bara pembakaran sebelum pejabat kepolisian, teman Augustijn itu, kembali.
Pada acara perjamuan malam yang diselenggarakan dengan tergesa-gesa, Augustijn bercakap-cakap dengan temannya, seorang pejabat tinggi lainnya, Joost Cornelissen. Mereka menyampaikan ucapan perpisahan, berjanji akan berjumpa lagi secepatnya di surga. “Tidak,” kilah walikota, “Augustijn disiapkan untuk masuk ke neraka.” Augustijn berpaling memandang penganiayaannya dan dengan tajam ia memerintahkan agar penyiksanya itu tampil di hadirat sidang pengadilan Tuhan dalam waktu tiga hari!
Segera sesudah hukuman mati itu dijatuhkan, walikota itu jatuh sakit. Dengan ingatan yang terganggu, ia berseru-seru terus menerus, “Bahan bakar dan kayu” dan ia pun mati dalam tiga hari kemudian.
Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah. Kemalangan akan mematikan orang fasik, dan siapa yang membenci orang benar akan menanggung hukuman. Mazmur 34 : 21-22 (TB)
Jaringan Keluarga Anabaptis
David van der Leyen dan Levina Ghyselins, Gent, 1554
Para misionaris Anabaptis menyebarluaskan pesan-pesan mereka di kalangan orang-orang yang berlatar belakang sosial dan ekonomi yang sangat berbeda-beda. Pada masa itu sudah menjadi kebiasaan dan sangat wajar bagi para petobat yang karena rasa syukurnya mereka menceritakan iman baru mereka kepada sesama anggota keluarga dekat mereka. Karena itu, Mollers dari Zwickau, Nespitzers dari Passau dan Kleins atau Schleifferins dari Augsburg, memperkenalkan iman mereka yang baru itu kepada saudara-saudara kandung mereka. Para pembantu rumah tangga merekapun ikut bergabung dengan mereka, seperti Cornelius dalam kisah Alkitab seluruh isi rumah tangganya kemudian menerima iman nya itu.
Beberapa keluarga Anabaptis telah kehilangan lebih dari seorang anggota keluarganya karena dipancung kapak algojo. Salah seorang contohnya adalah van der Leyens dari Gent, daerah tempat sebuah gereja kecil tumbuh dengan suburnya pada tahun 1540-an. Van Braght menerbitkan kisah tentang pelaksanaan hukuman mati atas David van der Leyen, berdasarkan informasi yang diperoleh dari buku nyanyian paling awal yang diterbitkan dalam buku martir Menonit Belanda, Het Offer des Heeren.8
David dibakar pada tahun 1554. Saudara perempuannya, Tanneken, ditenggelamkan di sungai Antwerp pada tahun 1555, saudara laki-lakinya yang lain, Franchois, ditangkap dan diadili pada tahun 1558, keberadaan selanjutnya tidak diketahui; kami menduga ia pun dibunuh. Akhir kisah ayah Anabaptis dari keempat orang bersaudara itu pun tidak diketahui. Demikianlah kisah satu keluarga yang gagah berani, yang berdiri teguh dalam siksaan dan hukuman mati.9
Levina Ghyselins dibakar bersama David, tetapi penangkapan dan pengadilannya tidak ada hubungannya dengan David. Ia adalah isteri seorang Anabaptis pembuat sepatu, Willem, yang telah dihukum mati beberapa bulan sebelumnya. Hukumannya ditangguhkan karena ia hamil. Setelah ia melahirkan bayinya, ia dibunuh oleh para penguasa, meningggalkan enam orang ankanya sebagi yatim piatu.
Algojo-algojo itu sering bekerja dengan serampangan dan pada gilirannya, mereka diejek oleh para penonton dalam suasana karnaval teater berdarah itu. Pada suatu saat, seorang algojo memerlukan tujuh ayunan kapak yang tumpul untuk memancung kepala seorang Anabaptis.10 Algojo itu mencekik, lalu membakar David dan Levina. Setelah bara arang mati di sekitar jasad David yang dianggap telah mati, para penonton berteriak-teriak mengatakan bahwa David masih hidup. Karena terpojok oleh cemoohan para saksi itu, maka algojo itu menancapkan sebuah garpu besi besar ke dada David.11
Tanpa saling mengenal sebelum saat penghukuman mati itu, David dan Levina dipersatukan dalam nasib yang sama. Mereka saling menguatkan dengan janji untuk menerima hidup kekal yang keberkatan secepatnya. Ketika tambang-tambang akan dililitkan di sekitar leher mereka, mereka menyerahkan roh mereka kepada Tuhan.
Orang yang diberkati Tuhan akan hidup,
demikianlah yang diajarkan Alkitab kepada kita.
Mereka dibuang keluar.
Kami berseru-seru tak henti-henti :
Tuhan, jagalah mempelai wanita-Mu yang Kau kasihi,
orang-orang baik ini,
Peluklah mereka di dalam pelukan-Mu.
Inilah keputusanku (untuk memohon).
- Bait terakhir dari lagu
“Ghy Christen al te samen” - Het Offer.
Keluarga Bangsawan Terpecah Belah
Maria dan Ursula van Beckum, Deventer, 1554
Anabaptis dapat pula menjadi pedang Kristus yang memecah belah keluarga. Ketika Maria van Beckum bergabung dengan para Anabaptis, ibunya mengusirnya dari rumah mereka. Maria meninggalkan Frisia dan pergi ke rumah Ursula, iparnya, di dekat Deventer, tetapi ibunya meminta polisi mengikuti jejaknya. Pada suatu pagi buta sekelompok orang mengepung rumah Ursula dan menyeret Maria dari tempat tidurnya. Seorang gadis muda harus melawan banyak laki-laki bersenjata, ia membujuk Ursula untuk menyertainya menghadiri pendakwaan dan pemeriksaannya. Ursula curiga, kalau iparnya itu jatuh ke tangan para imam yang dengki, maka ia sendiri pasti tidak akan dibebaskan. Karena itu, Ursula memperoleh izin suaminya, Jan, untuk pergi. Ibu Maria dan ibu Jan, datang ke Deventer untuk mencegah kedua wanita itu, tetapi tidak berhasil. Jan tidak memberi dukungan kepada kedua orang yang tertangkap itu dan bahkan ia tidak muncul juga pada saat hukuman mati dijatuhkan kepada mereka. Inilah kisah seorang ibu beragama Katolik dan anak laki-lakinya yang mengadukan anak/saudara wanitanya dan menantu wanita/isterinya, karena mereka menentang pengikut Jorist (sebuah kelompok Anabapis).12
Kisah kedua wanita itu seorang terhadap yang lainnya dan keberanian Ilahi telah membuat mereka tetap tabah. Mereka menjawab para penanya dengan singkat dan tepat; keduanya memahami dan menerangkan imannya dengan andal, sehingga mereka membuat beberapa imam marah. Penanya utama mereka didatangkan dari Burgundy untuk membujuk mereka agar mau bertobat. Mereka berdoa meminta kekuatan untuk menahan panasnya api, tetapi juga meminta keberanian untuk menyampaikan kesaksian yang baik. Ketika para penonton di tempat penghukuman itu menangis keras-keras, kedua wanita itu mengingatkan agar mereka meratapi dosa-dosa mereka sendiri dan mempelajari rahmat Allah yang mengatasi rasa takut dan membawa anak- anak-Nya kembali ke rumah-Nya. Mereka memancarkan sukacita di dalam kematian mereka.
Kisah keberanian mereka di bawah tekanan keluarga itu membuat kesan yang sangat dalam di hati banyak orang. Kisah mereka diceritakan di dalam buku-buku martir termasuk yang di luar lingkungan kaum Menonit, nyaris tidak ada duanya. Barangkali latar belakang kelahiran mereka yang mulia itu telah memberi mereka keunggulan dan bahkan juga mempertinggi konflik batin keluarga mereka dalam menghadapi pengaruh kaum Anabaptis.
Para pengarang cerita rakyat menggunakan kisah kematian Maria itu untuk membuat kisah tentang alam yang menjadi murka terhadap kematian yang tidak adil dari gadis yang masih muda itu. Menurut cerita tadi, keesokan paginya tonggak tempat ia diikatkan, yang sudah menjadi arang itu, bersemi dengan banyak daun yang hijau.13
Kita memuji Tuhan,
Yang menganugerahi umatnya dari sorga,
Rahmat dan kekuatan,
Yang membawakan kamu kemenangan,
Bersama orang-orang benar,
Yang memenangkan mahkota,
Bila kita mendapat ujian,
Kita belajar bersama mereka,
Apa yang telah mereka temukan,
Tuhan dimuliakan selamanya. Amin,
- Bait 43, Lagu Pujian No.17, Ausbund
“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.”
- Maitus 10 : 34-36 (TB)
Para Pemburu Anabaptis Menyusup ke Dalam Jemaat yang Hidup Damai
Hans Schmidt (atau Raiffer), Aachen, 1558
Pemburu-pemburu Anabaptis biasanya menangkapi mereka seorang demi seorang atau dalam kelompok-kelompok kecil. Kadang-kadang mereka beruntung, ketika melakukan penangkapan mereka menemukan jemaat yang sedang berbakti, dan menangkap mereka semua sebelum ada seorangpun yang dapat melarikan diri. Polisi berhasil menciduk delapan puluh delapan orang di Augsburg pada hari Minggu Paskah, 12 April 1528. Polisi menerobos suatu jemaat kecil yang terdiri dari duabelas orang di Aachen pada 9 Januari 1558, bahkan menangkap bayi yang sedang tidur di buaiannya. Penguasa sipil menyiksa orang- orang yang setia itu di Aachen dengan cara merentangkan dan menarik-narik tubuh mereka di rak-rak, dan juga mengikat lengan-lengan mereka serta membebani kaki-kaki mereka dengan besi-besi berat. Seorang laki-laki mengaku bersalah, lima orang lainnya tetap mempertahankan iman mereka. Termasuk pemimpin mereka yang bernama Hans Schmidt. Enam orang wanita dicambuki dan dibuang; lima orang dicekik dan dibakar dalam bulan Oktober 1558.
Schmidt adalah misionari jemaat Hutterite, yang berhasil membangun Jemaat Persaudaraan di Swiss menjadi pengikutnya. Dia memanfaatkan situasi yang kacau yang terjadi di antara orang-orang Anabaptis di Palatinate, dan ia mendapat keuntungan dari perselisihan di antara mereka itu.
Sekelompok orang yang dipimpin oleh Lorenz Huf kemudian bertobat, lalu pindah ke Moravia. Schmidt kemudian meneruskan perjalanannya menyusuri sungai Rhine menuju Aachen dan Negeri Belanda, dan meyakinkan kaum Anabaptis yang dipimpin oleh Hans Arbeiter untuk bergabung dengan dia. Schmidt begitu berpengaruh dalam hal yang berhubungan tentang umat Kristen dengan negara; banyak orang mendapatkan, bahwa pandangan kaum Hutterite yang lebih keras itu menarik. Namun sebagian keberhasilannya tadi disebabkan karena kefasihannya dalam mengetengahkan kepercayaan Hutterite dengan cara yang menarik bahwa masyarakat yang beriman seharusnya tidak mempunyai hak pribadi atas kekayaan. Pada kenyataannya, kaum Hutterite menuduh Kelompok Persaudaraan Swiss dengan mengabaikan panggilan yang benar sebagaimana dinyatakan Alkitab untuk menolak kekayaan mereka sebagai milik pribadi dan untuk hidup dalam masyarakat yang tertutup, yang memperlakukan kekayaan sebagai milik bersama.14
Schmidt mencurahkan tenaganya tanpa batas untuk mengarang lagu-lagu pujian – paling sedikit enambelas lagu, setelah ia ditangkap – dan beberapa lusin surat yang penuh dengan cerita yang rinci mengenai penyiksaan, interogasi dan kehidupuan di dalam penjara. Dipisahkan di sel mereka masing-masing, para tahanan menyanyi dengan keras untuk saling membangkitkan semangat mereka masing-masing.
Sebagai pemimpin, Hans dibunuh paling dulu. Ia melakukan apa yang disebut oleh kaum Anabaptis sebagai “kesaksian yang baik” di hadapan orang banyak. Ketika kaum Anabaptis yang dipenjara itu berdoa kepada Tuhan, memohon kekuatan dan keberanian untuk memberikan kesaksian yang baik, pertama-tama mereka bermaksud memberikan kepada para penyelidik tentang alasan-alasan bagi iman mereka sesuai dengan Alkitab dan untuk tetap teguh walau disiksa dan kedua, mengajak orang-orang yang menyaksikan hukuman itu agar bertobat pada saat orang-orang Anabaptis itu dijatuhi hukuman mati. Mereka dengan sengaja memanfaatkan saat penghukuman itu sebagai kesempatan untuk memberitakan Injil. Kadang- kadang petugas-petugas penjara yang licik melaksanakan hukuman secara diam-diam.
Schmidt menanyikan sebuah lagu pujian dengan penuh sukacita ketika ia menghadapi kematiannya.15
Di dalam-Mu, Oh, Bapa,
Terdapat sukacitaku,
Meskipun aku harus menderita di sini!
Biarlah aku dicaci,
Oleh setiap orang,
Asalkan rahmat-Mu tetap menyertai!
Para Petugas Enggan Menjatuhkan Hukuman
Joris Wippe, Dordrecht, 1558
Joris Wippe orang yang baik, sangat dihormati oleh tetangga-tetangganya dan penduduk di Dordercht, Negeri Belanda. Sebagai pewenter, ia menggalang hubungan baik dengan para penyalur kain yang menangani produknya. Ketika pandangan agamanya mulai diragukan, ia dipanggil oleh penguasa kota itu. Rekan-rekan dagangnya menasihatinya agar tidak meninggalkan kota dan mempercayai maksud baik dari para petugas itu. Para penguasa kecewa ketika mendapati ia adalah seorang Anabaptis. Mereka mengharapkan ia meninggalkan kota itu, supaya mereka dapat menghindari perintah yang tidak menyenangkan dari kerajaan untuk menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Oleh karena itu mereka mengirimkan dia ke ibu kota propinsi, kota Hague, sambil mengharapkan agar kasus itu dilepaskan dari tangan mereka. Namun upaya ini tidak berhasil. Wippe dikirimkan kembali ke Dordrecht untuk diadili dan menerima hukuman.
Masih dengan sikap enggan, para petugas pengadilan mengulur waktu. Akhirnya, mereka menjatuhkan hukuman mati kepadanya, karena hukum yang berlaku menuntutnya demikian. Tidak seperti kebanyakan kasus martir Anabaptis, rupanya tidak seorang pun membujuk Wippe meninggalkan imannya. Bagi teman dan tetangganya, agamanya adalah sah. Mereka terkesan pada kebaikannya terhadap orang-orang miskin.
Berulang-ulang algojo di kota itu menolak perintah untuk membunuh Wippe. Wippe telah memberi bantuan kepadanya berupa makanan dan barang-barang kebutuhan lainnya. Algojo-algojo biasanya miskin, diangkat dari kalangan masyarakat lapisan bawah. Selama tujuh minggu Wippe tinggal di penjara menara kota tanpa dijatuhi hukuman. Akhirnya seorang serdadu yang mau membunuhnya dapat ditemukan. Untuk menghindari protes keras masyarakat, maka Wippe dibenamkan di sebuah tong berisi air yang terdapat di dalam penjara itu. Seperti yang biasa berlaku, maka petugas-petugas penjara menggantung mayat Wippe dengan kepala terbalik di tiang gantungan yang terdapat di pinggiran kota.
Firman Tuhan mana yang menguatkan seorang Anabaptis yang sedang menjalani hukuman? Wippe menulis dua pucuk surat kepada isterinya, yang isinya penuh dengan sukacita dan nasihat yang penuh kasih; dan sepucuk surat lain kepada tiga orang anak yang tertua dari ketujuh anaknya. Ketiga surat itu penuh dengan kutipan firman Tuhan. Untuk meyakinkan, bahwa Allah mempedulikan orang-orang yang tidak berdaya dan untuk menceritakan tentang pahlawan-pahlawan iman lainnya yang sedang menghadapi hukuman mati, Wippe mengutip Mazmur 34 dan 128, Yohanes 15:20-21 dan 2 Makabens 7 (pada Alkitab Deuterokanonika, pen.). untuk menasihati isteri dan anak-anaknya, ia mengutip Ibrani 13:16-17, 1Petrus 4:9, Matius 12:42-43, 1Timotius 5:10 dan nasihat Tobias kepada anak laki-lakinya (pada Alkitab Deuterokanonika, pen.). Ia bahkan meminta kepada anak laki-lakinya yang tertua untuk mengajar membaca kepada keempat adiknya. Dalam ayat-ayat tadi dan ayat-ayat Kitab Suci lainnya Wippe menyingkapkan rahasia kekayaan baik dalam penghiburan maupun kepastian, yang selalu dihayati dengan sukacita.
“Dan, sekarang aku meminta kalian, Joos dan Hansken, agar bersama dengan Barbelken, saudara perempuanmu yang patuh itu, mengasihi ketiga orang adik perempuan kalian yang masih kecil-kecil itu, dan juga Pierken, dan ajarlah mereka membaca dan bekerja, supaya mereka dapat tumbuh dalam kebenaran untuk kemuliaan Allah dan untuk keselamatan jiwa mereka … ingatlah perkataan rasul ini: “Terlebih berkat memberi daripada menerima.”
Surat Wippe kepada anak-anaknya yang ditulisnya dari penjara, MM, 1685, II, 207; Eng., 587.
Berbelaskasihlah Terhadap Musuh
Dirk Willems, Asperen, 1569
Tidak ada kisah martir Anabaptis yang dapat menangkap imajinasi lebih besar daripada cerita tentang Dirk Willems. Bahkan hingga kini kaum Amish dan Menonit masih tetap menceritakannya kepada anak-anak mereka. Orang-orang yang sekarang hidup di desa asal Willems, Asperen, di Negeri Belanda, dapat menceritakan secara rinci mengenai penangkapan dan kematiannya yang tidak diketahui oleh van Braght. Ternyata cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut itu memperkaya kisah tertulis yang memang tidak banyak yang dapat dikumpulkan oleh van Braght. Cerita berikut ini sebagian besar bedasarkan cerita mereka itu.
Dirk ditangkap, diadili dan dituduh sebagai seorang Anabaptis dalam tahun-tahun terakhir masa penjajahan Spanyol yang keras, di bawah pemerintahan Duke of Alva, di Negeri Belanda. Ia melarikan diri dari sebuah puri yang telah diubah menjadi penjara, lewat jendela dengan menggunakan tambang yang terbuat dari robekan-robekan kain yang telah disambung satu dengan lainnya, menjatuhkan diri di atas lapisan es yang menutupi parit puri itu. Begitu melihat ia melarikan diri, seorang penjaga mengejar dia. Dirk melintasi lapisan es yang tipis di atas sebuah kolam, kolam “Hondegat”, dengan selamat. Rupanya, berat badannya menurun karena ia menerima ransum makanan penjara yang tidak cukup. Namun orang yang mengejarnya itu, yang berbadan lebih berat, terperosok ke dalam kolam itu. Ketika mendengar teriakan penjaga meminta tolong, Dirk kembali dan menyelamatkannya. Namun penjaga yang kurang tahu berterima kasih itu menangkap Dirk dan menggiringnya kembali sebagai tawanannya. Kali itu para penguasa menjebloskan Dirk ke dalam penjara yang lebih aman, ruangan kecil berteralis besi rapat yang terdapat di sebuah menara gereja yang sangat tinggi, diatas lonceng. Disana barangkali ia dipasung apda balok-balok kayu yang hingga kini masih ada ditempat itu. Tidak lama kemudian ia digiring ke luar untuk dibakar sampai mati. Menurut tradisi, hukuman matinya itu dilakukan dengan serampangan, dibawah tiupan angin kencang yang menjauhkan arah api dari tubuhnya, sehingga ia tidak segera mati. Terlalu banyak algojo yang berbuat tidak pada tempatnya; biasanya sampai menjijikkan dan bahkan mendatangkan cemoohan dari orang-orang yang menyaksikannya.
Beberapa penduduk Asperen masa kini, dan tidak ada yang beraliran Menonit, rupanya menganggap Dirk sebagai pahlawan rakyat. Seorang Kristen yang begitu berbelaskasihan, sehingga ia mengambil resiko untuk ditangkap kembali, demi keselamatan jiwa pengejarnya yang hampir tenggelam itu, telah menimbulkan rasa hormat dan kenangan yang baik. Baru-baru ini Asperen menamai sebuah jalan dengan nama Dirk sebagai penghoramatan kepadanya.16
Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel:
“Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engaku, Aku telah memanggil engaku dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engaku, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engaku. Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu.” Yesaya 43:1-3a (TB).
Ketabahan di Bawah Siksaan
Ursula dari Essen, Maastricht, 1570
Di abad ke enambelas, para hakim di Eropah memerintahkan secara rutin agar hukuman siksa diterapkan dalam kasus- kasus kriminal. Orang-orang Anabaptis dan kelompok lain yang memiliki keyakinan agama yang berbeda, tidak mendapatkan perlakuan yang berbeda. Penyiksaan tidak hanya berdasarkan hukum Romawi dan prosedur pengadilan saja, tetapi juga berdasarkan harapan yang wajar, bahwa pelaku kriminal mau mengatakan yang sesungguhnya kalau mereka disiksa. Namun demikian, dalam banyak kasus yang melibatkan orang-orang Anabaptis, setelah pengadilan menginterogasi seorang tahanan Anabaptis tanpa melakukan siksaan dan mencatat seluruh jawabannya, para petugas penjara tetap melakukan penyiksaan dan meminta orang-orang terpidana itu menegaskan kembali kebenaran dari kesaksiannya sebelumnya, atau memberi keterangan tambahan dari yang sebelumnya telah diberikan. Sedikit saja kaum Anabaptis yang pernah mengubah cerita mereka atau memberi keterangan tambahan di bawah ancaman penyiksaan.
Algojo-algojo memulai siksaannya dengan melakukan tekanan psikologis: mengancam anggota keluarga, berjanji akan melakukan penyiksaan dan meletakkan alat penyiksaan di hadapan sang korban. Untuk penyiksaan rutin, mereka menggunakan rak untuk tahanan pria dan sekrup untk ibu jari tahanan wanita. Mereka merentangkan tubuh-tubuh tahanan laki- laki di atas sebuah papan atau tangga, mengikat kuat-kuat tangan dan kakinya pada papan itu, kemudian mengikat anggota badan lainnya pada sebuah roda yang dapat digerakan perlahan-lahan, dihubungkan serta ditahan pada sebuah roda yang bergerigi. Tubuh yang terentang dengan keras dapat benar-benar tertarik hingga terlepas bagian-bagiannya. Para petugas penjara menempatkan ibu jari narapidana wanita di antara dua lembar lempengan besi, kemudian dipasang sekrup-sekrup pada akar kuku pada tiap ibu jari, yang lalu diputar dan dikencangkan perlahan-lahan ke atas kuku ibu jari. Kedua jenis siksaan ini sangat menyakitkan. Laporan-laporan penjara penuh dengan cerita mengenai narapidana-narapidana yang berteriak-teriak dengan sangat memilukan.
Pada akhir tahun 1569, Ursula dari Essen dan suaminya, Arent, ditahan di Maastricht, selama gelombang penyiksaan ditingkatkan oleh Duke of Alva, wakil residen Negeri Belanda, di bawah pemerintahan Raja Philip II dari Spanyol. Ursula dan Arent serta dua orang wanita lainnya kerap menjadi korban penyiksaan di penjara: mula-mula diancam secara lisan, kemudian disiksa dengan menggunakan rak. Ursula direntangkan di rak dua kali, kemudian tangannya digantung dan dicambuki punggungnya yang terbuka. Tiga orang dari empat narapidana tadi sering disiksa untuk memaksa agar mereka mau menyebutkan nama-nama rekan Kristen di dalam jemaat yang akhir-akhir ini berkembang, namun mereka menolak. Para korban itu tetap menutup mulut. Keempat orang korban itu dibakar secara terpisah supaya mereka tidak dapat saling menghibur. Mulut mereka semua ditutup rapat dengan kepingan kayu untuk mencegah agar mereka tidak bernyanyi atau berbicara kepada orang- orang yang menyaksikan mereka, sebagian dari para saksi itu melakukan protes kepada para penguasa Spanyol. Keempat orang itu dibakar sampai mati di dalam pondok-pondok jerami.17
Musuhku mengatakan yang jahat tentang aku: “Bilakah ia mati, dan namanya hilang lenyap?” Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku. Tetapi Engkau, ya TUHAN, kasihanilah aku dan tegakkanlah aku, maka aku hendak mengadakan pembalasan terhadap mereka. Dengan demikian aku tahu, bahwa Engkau berkenan kepadaku, apabila musuhku tidak bersorak-sorai karena aku. Tetapi aku, Engkau menopang aku karena ketulusanku, Engkau membuat aku tegak di hadapan-Mu untuk selama-lamanya.
- Mazmur 41:6, 10-13 (TB)
Bersukacita dalam Kematian, Berputus Asa dalam Siksaan
Christiaen Janssens, yang disebut juga Langedul, Antwerpen, 1567
“… Isteriku yang kukasihi, bersukacitalah selalu dalam penderitaanmu yang disebabkan oleh keadaanku, … Hiburkanlah dirimu dengan Firman Tuhan … Aku percaya, bahwa engkau tidak akan membuat aku lebih sedih daripada yang kurasakan sekarang ini (dengan menahan tekanan selagi menantikan kematian). Aku tahu, engkau akan sangat berani menghadapinya … Aku berharap, kiranya Tuhan menguatkan kita sampai pada akhirnya … Aku berharap dapat berjumpa kembali denganmu di dalam kehidupan yang kekal kelak, di mana kita tidak akan saling berpisah lagi.”18
Kaum Anabaptis yang diceritakan oleh van Braght itu sering bersukacita ketika menghadapi kematian. Janssens menulis tiga pucuk surat kepada isterinya, masing-masing dipenuhi dengan sukacita. Sungguh, kesedihannya yang terdalam karena isterinya masih harus lebih lama menanggung kesedihan daripada dirinya, sebab isterinya masih harus hidup terus, terpisah dari dia sampai mereka dapat berkumpul kembali di dalam kehidupan yang kekal kelak. Namun kegembiraan Janssens menjelang kematiannya tampak lebih jelas ketika kami membaca komentarnya mengenai kesakitan yang tak terperikan sebagai akibat siksaan yang dialaminya tentang kekuatirannya yang mendalam bahwa dia dan teman-teman sependeritaannya tidak akan mampu bertahan dan mungkin juga akan mengaku bersalah, atau tentu saja menderita kesakitan yang tak terperikan dalam siksaan yang akan segera datang. “Kemudian mereka merentangkan tubuhku kuat-kuat, hingga memutuskan dua utas tali pengikatku …19 dan menuangkan banyak air ke dalam tubuhku dan ke dalam hidungku …” Petugas penjaranya mengizinkan ia menggunakan bantal dan selimut yang dikirim oleh isterinya, selimut yang akan mengurangi rasa sakit pada luka-lukanya yang sangat parah itu. “Kami takut bahwa kami harus disiksa untuk kedua kalinya, siksaan yang telah kami alami dengan sangat mengerikan, lebih menyakitkan daripada kematian …”20
Di pertengahan tahun 1567 Janssens ditangkap dalam sebuah pertemuan kaum Anabaptis yang diselenggarakan untuk menyelesaikan perselisihan di Antwerpen. Karenaia lancar berbahasa Perancis, maka ia mengalihkan perhatian kapten polisi dengn mengajaknya bercakap-cakap dengan akrap, untuk memberi peluang kepada teman-teman Anabaptisnya, supaya mereka melarikan diri melalui pintu belakang. Tiga orang tertangkap bersama dia. Mereka semua menulis surat kepada isteri mereka dan teman-teman mereka untuk meminta tolong agar disediakan: sisir, Kitab Perjanjian Baru, buku pujian, dan sebuah topi untuk malam hari. Sebenarnya, tujuan utama penulisan surat itu adalah untuk memberi penghiburan dan mencari dukungan dari umat Kristen. Oleh karena itu, mereka menyebutkan hukuman perentangan tubuh yang mereka alami, cara mereka saling tolong menolong, dan juga mengutip ayat-ayat firman Tuhan yang memberi mereka keberanian. Dalam hal ini, seorang jurukunci yang bernama Pieter (Janssens memberitahukan isterinya agar ia mempercayai Pieter) bersedia menjalankan misi rahasia untuk mengirimkan pesan dan membawakan titipan untuk orang-orang yang terpidana itu. Ini mengagumkan, karena tujuan utama penyiksaan itu justru untuk mempelajari tempat-tempat persembunyian keluarga-keluarga korban, supaya mereka dapat ditangkap juga.
Keempat orang itu akhirnya dicekik, kemudian dibakar. Mereka diikat pada tonggak kayu di dalam gubuk yang terbuat dari jerami. Gubuk-gubuk itu terbakar ketika bahan bakarnya yang ditumpuk di sekitar tonggak-tonggak tadi dinyalakan.
Kalau pencekikan yang terlebih dulu dilakukan mengakibatkan korban dalam keadaan koma (tidak sadarkan diri), maka kesesakan napas dan keadaan yang disebabkan oleh kekurangan zat asam di dalam darah akan cepat mengakibatkan kematian. Para korban itu memasuki gubuk kematian itu sambil bernyanyi memuji Tuhan.
“Apakah yang Anda harapkan untuk mendapatkan keterangan dengan menanyai kami? Kami siap untuk mati daripada melanggar hukum leluhur kami”.
Selagi asap [dari seorang putera/saudara sedang dibakar sampai mati] menjalar kemana-mana, ibu dan anak-anaknya saling menguatkan agar siap mati dengan anggunnya. “Tuhan Allah sedang melihat,” kata mereka, “dan tanpa keraguan Dia menaruh belas kasihan kepada kita. Tidakkah Musa berkata kepada Israel secara terbuka dalam lagu yang menentang kemurtatan: ‘kami akan menaruh belas kasihan kepada hambanya?’”
- 2 Makabe 7:2, 5b-6
Dihukum Sebagai Budak Pendayung Perahu
Kelompok Persaudaraan Hutterian, Austria, 1540
Bagi orang-orang Anabaptis yang dijatuhi hukuman mati, mengucapkan selamat berpisah dengan isteri dan anak-anak mereka merupakan suatu pengalaman yang menyiksa perasaan. Ada orang-orang tertentu yang mempunyai waktu luang dan keterampilan kesusastraan untuk menulis surat dari sel-sel dan menara-menara penjara. Di puri Falkenstein di Austria bagian Timur Laut beberapa anggota persaudaraan Hutterian, yang dijatuhi hukuman mati secara perlahan-lahan sebagai budak pendayung perahu di bawah pemerintahan Admiral Andrea Doria, menyampaikan salam perpisahan mereka secara pribadi kepada isteri dan anak-anak mereka masing-masing. Kemudian keluarga mereka itu diizinkan melintasi daerah perbatasan menuju koloni Hutterite di Moravia.
Ada sekitar delapanpuluh saudara seiman yang tidak mau menyangkali iman dan kehidupan bersama mereka yang rukun itu, ditangkap di daerah koloni mereka, Steina-brunn, di daerah wilayah keluarga Hapsburg, Austria Bawah. Mula-mula, mereka dipaksa berbaris dan diikat dengan rantai menuju Falkenstein, untuk diinterogasi dan disiksa, kemudian mereka dirantai berdua-dua dan digiring melintasi Austria dan Italia Utara menuju pelabuhan Trieste. Kebanyakan mereka dapat mati dalam beberapa bulan, paling lama beberapa tahun, baik karena kelelahan yang luar biasa, atau ironisnya, karena peperangan di laut di mana mereka dipaksa mendayung perahu. Entah bagaimana, dengan bantuan orang-orang yang menjaga mereka, orang-orang Anabaptis yang berbahasa Jerman itu dapat melarikan diri dari penjara, mengambil jalan melalui penggiran pedesaan Italia dengan pertolongan yang terang-terangan dari orang-orang Italia yang bersimpati terhadap mereka, dan kembali ke Moravia. Duabelas orang tertangkap kembali dan kabar tentang mereka tidak pernah terdengar lagi. Beberapa orang Italia yang bersimpati kepada mereka itu kemudian bertobat dan akhirnya menemukan jalan ke koloni mereka di Moravia. Orang-orang Anabaptis memanfaatkan penyiksaan yang mereka alami itu sebagai sarana penginjilan.
Hal ini bukanlah kejadian yang langka. Orang-orang Anabaptis sering mendapat simpati dari para pertugas penjara dan jurukunci berkebangsaan Austria, bahkan dari para pejabat yang lebih tinggi, yang telah membuktikan bahwa iman orang- orang Anabaptis itu sangat meyakinkan sehingga mereka menolak perintah raja yang keras untuk membantai para bidat itu. Banyak orang Anabaptis melarikan diri dari penjara secara misterius, dan memuji Tuhan atas pembebasan mereka. Para penyair Hutterite merekam kisah kedelapanpuluh orang budak pendayung perahu itu ke dalam delapan nyanyian pujian yang sampai sekarang masih tetap dinyanyikan. Para sejarawan Hutterite mencatat doa berikut ini.
“Oh, Allah di sorga, kiranya Engkau berkenan memandang kesengsaraan umat-Mu yang menderita ini di hari-hari akhir di dunia ini. Anugerahilah mereka dengan kemurahan dan tolonglah mereka, demi nama-Mu yang kudus, karena Engkau telah memberi mereka tuga untuk pengakuan orang [saksi-saksi yang setia di dunia ini]. Bapa yang Kudus, kuatkanlah dan mampukanlah umat-Mu; berperanglah demi mereka dan jadilah Pemimpin mereka. Biarlah mereka dengan sungguh- sungguh Engaku puji, berilah mereka kesabaran dan kemenangan dalam segala yang mereka butuhkan, dan laksanakanlah tujuan-Mu sendiri melalui mereka sampai selesai. Oh, Bapa yang Kudus, selamatkan mereka dan peganglah mereka dengan tangan-Mu yang kuat; Oh, Allah yang Mahatinggi, jangan biarkan mereka dipermalukaan. Kiranya nama-Mu yang Kudus dipuji karena mereka, dan pimpinlah mereka menuju kebenaran-Mu, agar mereka tetap teguh hingga akhirnya.”21
Pembantaian Besar-besaran di Salzburg
Matthaus Lang, Penganiaya Terbesar, 1528
Pada tahun-tahun awal gerakan Anabaptis, muncullah penyiksa-penyiksa yang fanatik di berbagai tempat, orang-orang yang giat berusaha menghabisi semua orang Anabaptis dan secara ragawi menyingkirkan semua bekas-bekas keberadaan mereka. Beberapa diantara penyiksa-penyiksa itu bahkan membunuh orang-orang Anabaptis, termasuk mereka yang mau mengaku bersalah. Ada juga yang berusaha mengusir mereka dari tanah-tanah milik mereka. Ada lagi yang membakar rumah- rumah tempat orang-orang Anabaptis melakukan pembaptisan, dengan maksud mengusir setan, roh jahat.
Prince Archbishop Cardinal Matthaus Lang dari Salzburg (1468-1540) adalah orang yang sangat menginginkan setiap orang di daerahnya menjadi orang Katolik yang setia. Ia mengembangkan kebencian yang kejam terhadap orang-orang Anabaptis, mengejar-ngejar mereka tanpa belas kasihan sampai ia mengusir hampir semua pengikut Anabaptis dari daerahnya. Keuskupan agung Salzburg merupakan daerah yang mempunyai hukum sendiri, di bawah kekuasaan uskup agung tersebut.
Lang mengeluarkan perintah, mengirimkan polisi-polisinya secara sistematik untuk melakukan pencarian orang-orang Anabaptis, melarang orang membicarakan tentang aliran-aliran Anabaptis dan Lutheran di kedai-kedai atau rumah-rumah penginapan, melarang memperkerjakan orang-orang asing di segala bidang keahlian atau perdagangan di Salzburg, memerintahkan agar semua orang yang sedang melakukan perjalanan melalui Salzburg diperiksa seteliti mungkin oleh polisinya. Jaringannya yang diperketat itu menangkapi kelompok-kelompok Anabaptis sejak akhir tahun 1527 hingga awal
- Pada akhir bulan Oktober 1527 ia menangkap sekelompok orang Anabaptis yang terdiri dari tiga puluh dua orang, termasuk para pemimpin, yaitu Jerome dari Mondsee dan Eukarius Binder. Lang membakar banyak orang. Ia memerintahkan agar lima orang di antara mereka yang mengaku bersalah dibunuh dengan lebih manusiawi, mula-mula kepala mereka dipenggal kemudian jasad mereka dimasukkan ke dalam api.
Pada awal bulan November, polisi Lang menangkap dua puluh tujuh orang Anabaptis. Ia memerintahkan agar lima orang dari mereka diikatkan dengan kuat pada rumah tempat mereka bersekutu, kemudian rumah itu dibakar. Setelah itu ia menguduskan tanahnya dengan membakar dua rumah lagi, yang sudah digunakan sebagai tempat kebaktian oleh orang-orang Anabaptis.23 Disini seorang pangeran uskup agung kristen menggunakan cara kafir untuk mengusir setan dan upacara penyucian, untuk memuaskan nafsunya dalam muluruskan ajaran agama.
Catatan yang masih ada menunjukkan paling tidak empat puluh satu orang Anabaptis dipenjarakan di penjara-penjara bawah tanah di Salzburg pada tahun 1528. Tidak ada satupun keterangan yang menunjukkan bahwa mereka dibunuh, kecuali kisah singkat kematian delapanbelas orang yang ditulis oleh van Braght.22
“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.
- Yohanes 15:18-19 (TB)
Jemaat Buronan Melakukan Kebaktian
Pieter Pietersz, Amsterdam, 1569
Sejak awalnya orang-orang Anabaptis harus melakukan pertemuan secara rahasia. Pieter Pietersz, seorang pengusaha perahu tambang yang bergerak di sungai Amstel di Amsterdam, menawarkan perahunya sebagai tempat pertemuan. Orang- orang yang datang untuk beribadah itu dapat bersikap seakan-akan sebagai penumpang-penumpang yang tidak bersalah. Bagaimanapun, pihak penguasa tahu bahwa Pietersz, adalah seorang Anabaptis, barangkali karena ia membawa bayinya yang baru lahir ke suatu tempat persembunyian di desa. Seseorang menduga, bahwa bidan yang menolong kelahiran bayi tadi melaporkan hilangnya bayi itu. Para penguasa pun mencarinya dan menahan Pietersz, karena ia menolak membaptiskan bayinya.
Ditahan pada bulan Januari 1569, ia segera disiksa, dihukum dan dibunuh pada tanggal 26 Febuari. Kami tidak mengetahui apa yang terjadi pada isteri dan anaknya itu.23
Orang-orang Anabaptis mengelola sebuah gereja bawah tanah menggunakan berbagai kiat agar mereka tidak ketahuan. Dengan sengaja mereka tidak mau mengenal nama para pengkhotbah keliling, bahkan nama para pembaptis mereka sendiri, demikian juga nama orang-orang yang memberi tumpangan dan makanan kepada mereka selama mereka menjadi pengungsi.24 Bila mereka berjumpa dengan orang-orang baru yang mereka duga sebagai pengikut Anabaptis, mereka menyampaikan salam yang sederhana dan unik untuk membuktikan bahwa mereka mempunyai hubungan persaudaraan secara rohani, misalnya seperti jemaat gereja purba yang menggunakan lambang ikan untuk mengetahui sesama orang Kristen. Mereka beribadah di tempat-tempat yang tersembunyi: sebuah tempat penggilingan yang dibuat terpisah dari desa utama; hutan yang terletak di lima atau enam kilometer dari Strasbourg; sebuah kamar yang lebih luar daripada kamar biasa dan terletak di bagian belakang sebuah rumah biasa; dan dalam kasus Pietersz., sebuah perahu tambang. Para pemimpin mereka sering berpindah- pindah tempat persembunyian di loteng-loteng rumah dan dilumbung-lumbung yang sederhana saja.25 Hidup sebagai orang- orang buronan meminta korban, meningkatkan tingkat keprihatinan orang-orang percaya dan menarik minat pengikut Anabaptis yang jumlahnya semakin besar itu kepada bentuk kerohanian tertentu yang kurang berminat terhadap gereja yang bersifat fisik dan dapat dilihat. Mengelola gereja yang dapat dilihat menjadi sangat berbahaya.
Kehangatan murka-Mu menimpa aku, kedahsyatan-Mu membungkamkan aku, mengelilingi aku seperti air banjir sepanjang hari, mengepung aku serentak. Telah kaujauhkan dari padaku sahabat dan teman, kenalan-kenalanku adalah kegelapan.
- Mazmur 88:17-19 (TB)
Persaudaraan dalam Kematian
Willem Jansz. dari Durgerdam, Amsterdam, 1569
Ketika Willem Janz. terlambat mendengar, bahwa kawan baiknya, Pieter Pietersz., akan dijatuhi hukuman mati di Amsterdam, ia cepat-cepat meninggalkan desanya.26 Namun demikian, ia terlambat tiba di pintu gerbang kota Amsterdam. Pintu itu sudah ditutup untuk mengadakan upacara itu. Ia menyuap penjaga pintu itu supaya dapat masuk. Ketika ia tiba di tempat penghukuman itu yang terletak di atas Dam tepat pada waktu ia melihat temannya diikatkan pada tiang penyiksaan.
Karena ia berdiri di pinggiran kerumanan orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu, ia memanjat tangga rumah tempat untuk menimbang agar ia dapat menyakikan dan dapat didengar. Ia berseru-seru untuk mendukung temannya, “Berjuanglah dengan gagah berani, Saudaraku.” 27 Ia pun segera ditangkap, disiksa dan diadili dalam beberapa hari, dan dijatuhi hukuan serta dibunuh dengan cara dibakar, hanya dalam dua minggu setelah hukuman mati temannya itu dilaksanakan.
Jarang ada seorang Anabaptis begitu terbuka mengundang penangkapan. Sesama orang Anabaptis menyaksikan hampir semua hukuman mati yang ditimpakan kepada para pengikut Anabaptis, tetapi biasanya mereka tetap diam. Mengapa seruan yang gegabah dan bodoh yang pasti menyebabkan kematian yang lebih dini?
Willem hidup di desanya yang tersembunyi, terputus – oleh salah satu dari perpecahan-perpecahan yang sering terjadi di antara kelompok-kelompok Anabaptis – dari kelompok sesama Anabaptis yang pernah memelihara imannya. Dirk Philips sudah mengucilkan anggota-anggota Willem yang kecil jumlahnya. Perpisahan itu sangat menyakitkan hati Willem, dan di dalam kesengsaraannya, ia kehilangan pengendalian diri yang biasanya mengikat seorang Anabaptis untuk tetap diam bila sedang berada di muka umum agar dapat menghindari kematian yang sudah pasti. Barangkali jaringan mata-mata, yang digelar dengan canggih untuk menangkapi orang-orang Anabaptis, telah lama sekali menghalangi Willem untuk bertemu dengan saudaranya dalam Tuhan itu. Barangkali ia mengira Pietersz., secara emosional kurang kuat untuk menanggung derita tonggak hukuman itu, suatu keadaan yang menghantui anggota-anggota Anabaptis lainnya. Bagaimanapun juga, secara naluriah kasih persaudaraannya lebih kuat daripada kewaspadaannya yang sewajarnya.
Dalam suatu kasus yang tidak ada hubungannya, Jan Quirijnsz. dan Cornelis Jansz. Dihukum mati bersamaan dengan bersamaan dengan Willem. Tindakan ini memang menghemat waktu bagi penguasa, tetapi yang lebih penting, menyediakan tontonan drama kematian yang lebih mencekam bagi masyarakat umum yang haus akan hiburan.
Tidakkah kau tahu dan tidakkah kau dengar ? Tuhan ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru; mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.
- Yesaya 40:28-31 (TB)
Pesan Terakhir Seorang Ibu
Maeyken Wens, Antwerpen, 1573
“Hendaklah kalian saling mengasihi selama hidupmu; gendonglah si Hans kecil sekarang dan seterusnya demi aku. Kalau ayahmu pun akan diambil dari padamu, hendaklah kalian saling memperhatikan … Tuhan menjaga kalian semua.”
Sejenak sebelum menjalani hukuman mati, Maeyken Wens menulis surat kepada anak laki-lakinya yang sulung, Adriaen, yang berumur lima belas tahun. Ia meminta anak itu agar menjaga semua saudaranya, terutama anak laki-lakinya yang terkecil, Hans. Ia mendorong Adriaen untuk mengikuti Yesus seperti yang telah dilakukannya, sekalipun jika karenanya ia harus menghadapi kesakitan sementara karena dipenjara maupun kematian. Ia mengharapkan dapat berjumpa kembali dengan anaknya itu di Yerusalem Baru. Dari penjara di Antwerpen, sekarang terletak di Belgia, ia menulis dua pucuk surat kepada Adriaen, dua pucuk kepada suaminya, pendeta Mattheus Wens, dan surat terakhir kepada temannya yang juga seorang pendeta, Jan de Metser.
Surat-suratnya merupakan surat-surat Anabaptis dari penjara yang paling mengharukan, sebab ia mengutarakan emosinya pada saat kematian sedang menghampirinya. Ia merasa senang, bahkan bersukacita, pada keberaniannya sewaktu ia harus menghadapi para penyelidik yang memusuhinya di pengadilan, tetapi ia juga senang pada harapan kehidupan mendatang yang lebih kaya. Namun demikian, kematian membuatnya takut juga. Seorang korban yang sedang menantikan hukuman mati menderita dengan dahsyatnya di antara harapan dan keputusasaan.
Di kalangan wanita Anabaptis Belanda terdapat beberapa orang yang dapat membaca, meskipun pada waktu itu tingkat kemampuan baca seluruh masyarakat di Eropah masih rendah. Salah satu surat Maeyken merupakan surat kemartiran satu-satunya yang berada di tangan kaum Menonit Belanda sekarang.
Suami Maeyken tetap merupakan misteri bagi kami. Karena ia mempercayakan anak laki-laki sulungnya itu di bawah pendidikan ayahnya, jelas bahwa Mattheus masih tetap setia. Surat-surat Maeyken kepada Adriaen mengisyaratkan bahwa suaminya juga menghadapi resiko dipenjara dan dibunuh. Meskipun demikian, ia mengundang suaminya ke penjara, hanya dengan peringatan bahwa untuk itu, ia harus membayar mahal. Bagaimana mungkin sebagai pendeta, ia dapat berkunjung tanpa ditahan? Atau, mungkinkah masalah keuangan menunjukkan bahwa ia telah meninggalkan tempat tinggalnya dan menuju ke daerah utara yang lebih aman kemudian menjadi United Netherlands, sehingga perjalanan ke selatan menuju Antwerpen menjadi sangat mahal? Baik catatan pengadilan maupun surat-surat Maeyken tidak menolong kita menemukan jawaban atas pertanyaan- pertanyaan ini. Ketidakhadiran Mattheus pada saat hukuman Maeyken dijatuhkan menunjukkan bahwa ia telah melarikan diri untuk menyelamatkan dirinya.
Anak-anaknya terhindar dari penangkapan. Adriaen tertarik untuk mendatangi tempat ibunya menjalani hukuman mati, sambil menggendong adiknya, Hans. Namun pada saat hukuman itu benar-benar terjadi ia pingsan, dan siuman kembali setelah tubuh ibunya dihancurkan api. Dengan kesedihan yang mendalam, ia mencari-cari sesuatu di antara abunya dan menemukan sebuah sekrup bekas digunakan untuk menekan lidah ibunya, untuk mencegah agar ia tidak menyampaikan “kesaksian yang baik”. Sekrup itupun masih terjaga dengan baik di tangan kaum Menonit Belanda.28
Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat, baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian. Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya.
- Ibrani 10:32-34 (TB)
Garam Kudus di Dalam Luka
Leonard Bernkop, Salzburg, 1542
Leonard Bernkop ditangkap si Salzburg. Karena ia tidak mau mengaku bersalah ketika ia disiksa, maka ia dihukum mati dengan cara dibakar secara perlahan-lahan; tidak dengan cara yang lebih manusiawi supaya korbannya cepat mati. Selama proses pembakaran itu, imannya membuat semangatnya tetap tinggi. Di tonggak penyiksaan ia bahkan mengejek orang yang membantu petugas yang harus menggantungnya, “Tolong putarkan tubuh saya; bagian yang dekat api sudah cukup matang, padahal bagian yang lain masih mentah.” 29
Ejekan Bernkop itu mengingatkan kepada kematian orang kudus yang telah lama terkenal di daerah itu – Santo Lawrence. Bahkan sekarang di daerah tersebut, yang sejak itu menjadi bagian dari negara Austria, terdapat banyak tenpat yang dikeramatkan untuk mengingat Santo Lawrence, banyak lukisan yang menggambarkan penderitaannya. Lawrence, seorang diaken dari Gereja purba, dipanggang sampai mati di atas alat pemanggang di Roma pada tahun 258, tiga hari setelah uskupnya menderita nasib yang serupa. Di tengah proses pembunuhan yang mengerikan itu, dengan lucu ia mencela penyiksa- penyiksanya, “Aku sudah cukup matang di bagian sini, puterlah aku dan makanlah.”30 Untuk menafsirkan apa yang diisyaratkan sebagai ejekan oleh Bernkop, “Sekarang kalian membunuh kami dengan cara yang sama biadabnya dengan yang dilakukan oleh Roma ketika membantai orang-orang Kristen yang mula-mula, yaitu orang-orang yang keberaniannya kalian puja-puja.” Para martir Anabaptis tidak lebih daripada garam yang dioleskan pada luka-luka para penganiaya mereka. Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu.
Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya. Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.
- Mazmur 34:5-8 (TB)
Martir-martir Anabaptis Tanpa Nama
Tujuh Orang Terbunuh di Schwabisch Gmund, 1528
Banyak nama kaum Anabaptis yang tidak kita kenal, bahkan beberapa dari mereka yang sudah mati. Pelaksanaan hukuman mati atas tujuh orang Anabaptis di Schwabish Gmund pada tahun 1528 mengingatkan kita, bahwa banyak catatan yang dihancurkan atau tidak dipelihara dengan baik. Walaupun tujuh orang itu masing-masing menulis sebuah bait untuk sebuah lagu pujian yang hingga kini masih tetap dinyanyikan, kita hanya mengetahui nama dua orang saja di antara para martir itu. Di dalam kelompok martir itu terdapat seorang anak laki-laki berumur empat belas tahun yang namanya tidak disebutkan salah seorang martir Anabaptis yang termuda. Umurnya yang masih muda itu menarik perhatian orang-orang yang mengamati mereka, termasuk seorang bangsawan yang – setelah menjanjikan sejumlah penghasilan kepadanya untuk seumur hidupnya – berusaha membujuknya agar ia mau mengaku bersalah. Namun anak laki-laki itu menolak. Dari antara sekelompok orang-orang Anabaptis yang terdiri atas paling tidak empat puluh orang, anak laki-laki itu dan keenam rekan martirnya, termasuk seorang wanita, merupakan orang-orang yang tetap bersikukuh menentang permintaan agar mereka mau mengaku salah.
Ketujuh orang martir dari Gmund yang namanya tidak disebutkan itu mengingatkan kepada kita, bahwa keterangan mengenai Anabaptis sangat kurang lengkap. Mungkin ada beratus-ratus orang Anabaptis yang tidak cukup menggugah perhatian orang untuk mencatat nama-nama mereka. Catatan pengadilan yang masih terpelihara dengan baik memberi kesaksian yang cukup banyak mengenai beratus-ratus Anabaptis yang namanya tidak disebutkan, yang hanya diingat oleh sesama orang-orang percaya yang juga tidak mengetahui nama mereka.31
Setiap orang dari kelompok tujuh orang dari Gmund itu mengarang sebuah doa, yang diulang lagi pada saat mereka menjalani hukuman mati, barangkali sebagai bentuk “kesaksian baik” mereka. Boleh jadi, ketujuh orang itu membuat doa-doa itu dalam bentuk birama selama mereka terbaring di dalam penjara. Di sana mereka tentu sudah saling berhubungan cukup lama untuk memutuskan bersama, bahwa doa-doa mereka itu diberi bentuk puisi yang umum berlaku.
Nyanyian pujian ini dimasukkan ke dalam Ausbund terbitan pertama pada tahun 1583. Karena setiap bait mengandung ciri yang khas, sangat jelas bahwa setiap bait itu ditulis oleh penulis yang berbeda-beda, tidak semua ditulis oleh penyunting yang lain di kemudian hari. Empat bait merupakan seruan untuk meminta pertolongan kepada Tuhan, dua bait mengandung ketakutan ketika mereka menghadapi kematian yang menyakitkan. Satu bait mendoakan orang-orang yang menganiaya mereka. Satu bait yang lain memohon agar Allah menguatkan orang-orang yang setia (permohonan yang menyedihkan, karena sebelumnya sebagian besar warga jemaat Anabaptis mengaku bersalah). Satu bait lagi untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan yang telah menjadikan mereka pelayan-pelayan-Nya.
Pembaca tidak dapat membedakan bait mana yang ditulis oleh martir wanita itu atau mana yang ditulis oleh martir anak laki-laki itu. Bagi orang-orang Anabaptis, menghibur diri sendiri di dalam penjara dengan mengarang dan menyanyikan lagu-lagu pujian merupakan hal yang biasa. Orang-orang Anabaptis yang berjumlah enam puluh orang lebih yang dipenjarakan selama empat setengah tahun di Passau setelah tahun 1535 telah mengarang paling tidak lima puluh tiga lagu pujian. Oh Tuhan, Engkaulah perisai kami, kepada-Mu, kami berpaling.
Penderitaan ini hanya ringan bagi kami, ketika mereka mengambil hidup kami.
Dalam kekekalan yang telah Engkau siapkan bagi kami,
sehingga jika kami menderita malu dan tertekan disini,
hal itu tidaklah sia-sia bati kami.
[Kami akan diberi upah yang cukup berlimpah.]
Bait ke-6, Lagu pujian No. 61, Ausbund
Para Penyiksa Orang-orang Menonit di Zurich Berhasil
Catherine Muller, Canton Zurich, 1637
Walaupun saudara-saudara yang berkebangsaan Belanda telah mencoba menolong, orang-orang Menonit di Canton Zurich akhirnya meninggalkan rumah-rumah mereka untuk pergi ke tempat-tempat lain karena penindasan yang kejam. Dalam gelombang penganiayaan terakhir ini tidak seorang pun terbunuh. Martir Menonit-Anabaptis terakhir di Swiss adalah Hans Landis, yang dijatuhi hukuman mati di Canton Zurich pada tahun 1614. Dua puluh tahun kemudian, Zurich memutuskan untuk memaksa orang-orang Menonit kembali ke gereja negara. Zurich berulang kali menangkap mereka, memenjarakan mereka selama bertahun-tahun setiap kali mereka tertangkap, merampas kekayaan mereka, dan menyatakan perkawinan secara Menonit tidak berlaku dan semua anak-anak orang Menonit sebagai anak-anak yang tidak sah. Orang-orang Menonit di Negeri Belanda membujuk pemeritnah daerah Amsterdam dan Rotterdam serta Majelis Perwakilan Tinggi Belanda agar menekan Zurich secara diplomatik, untuk melonggarkan tekanan mereka kepada kaum Menonit itu. Akhirnya pemerintah Zurich mengizinkan orang- orang Menonit untuk bermigrasi. Kadang-kadang para penyiksa itu berhasil membersihkan tanah mereka dari orang-orang Anabaptis/Menonit.
Setelah sensus baru pada tahun 1633, empat orang pemimpin Menonit ditangkap dan dipenjarakan pada bulan Desember 1635. Felix Urnne melarikan diri; dan tiga orang lainnya (Rudolf Egly, Ully Schmidt, Hans Muller) tinggal di penjara kota Zurich selama dua puluh dua minggu. Diskusi formal tidak membawa hasil. Kaum Menonit siap untuk menyetujui, bahwa Tuhan memanggil mereka untuk mematuhi pemerintah, tetapi mereka menolak untuk berbakti di gereja-gereja milik pemerintah.32
Mereka menuntut kemerdekaan beragama, dan karena tuntutan ini, persetujuan tidak mungkin dibuat. Pada tahun 1637 Zurich menahan sebagian besar orang Menonit, barangkali ada tiga ratus orang dewasa. Luyken telah memilih penangkapan ini untuk dituangkan ke dalam karya etsanya, dan membuat etsa khusus dari salah seorang tokohnya, Catherine Muller, yang riwayatnya tidak kita ketahui. Banyak orang Menonit melarikan diri dari penjara, mungkin dengan pertolongan teman-temannya. Pada tahun 1639 Zurich meningkatkan tekanannya. Namun orang-orang Menonit tetap tidak mau menyerah. Usaha-usaha selanjutnya juga tidak mendatangkan hasil.
Akhirnya, setelah Perang Tiga Puluh Tahun berakhir (1648) dan pangeran-pangeran Jerman mencari-cari petani untuk menggarap tanah-tanah mereka yang tidak berpenduduk, orang-orang Menonit di Zurich bermigrasi ke sana, dan membawa sebagian harta milik mereka masing-masing. Kebanyakan mereka pergi ke daerah Palatinate, sebagian terus ke Amerika Utara. Kawan-kawan orang Menonit membantu mereka melarikan diri dari penjara dan juga menekan orang-orang lain agar tidak membeli barang-barang orang menonit yang diobral oleh pemerintah Zurich.33
Engkau telah membawa kami ke dalam jaring, mengenakan beban pada pinggang kami; Engkau telah membiarkan orang-orang melintasi kepala kami, kami telah menempuh api dan air; tetapi Engkau telah mengeluarkan kami sehingga bebas.
- Mazmur 66:11-12 (TB)
Hidup Miskin Seperti Para Rasul
Arnold dari Brescia, 1155
Arnold dari Brescia adalah seorang penentang mula-mula terhadap kekayaan dan kekuasaan politik Paus dan imam dibawahnya. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Brescia, Italia, dan belajar di Perancis dengan Abelard, orang yang berpikiran paling hebat pada abad kedua belas. Arnold setuju dengan beberapa kritikan yang tajam dari gurunya terhadap imam. Beberapa kota mengusir imam ini, dan beberapa uskup mengucilkan dia karena khotbah-khotbahnya yang menawan menyerang kehidupan para uskup yang bergaya tinggi. Ia bahkan berkhotbah di Roma. Di sana ia lebih memilih senat lebih dari pemerintahan Paus sebagai penguasa yang berhak atas Roma.
Arnold mengajarkan dan mempraktikkan hidup “miskin seperti para rasul”. Ia berpendapat bahwa para pengerja gereja harus meninggalkan kekuasaan dan kekayaan duniawi dan hidup miskin seperti para murid Yesus. Dalam pandangannya ini, para imam yang memiliki kekayaan material kehilangan keselamatan mereka. Semua imam seharusnya hidup hanya dari persembahan persepuluhan yang dikumpulkan secara teratur di gereja oleh orang-orang awam. Gereja tidak boleh memiliki tanah. Pandangannya tentang hidup sederhana imam menghubungkannya dengan sekelompok orang yang disebut orang-orang Humiliati. Mereka adalah imam-imam dan orang-orang awam yang mengenakan pakaian yang terbuat dari kain kasar, yang biasanya berwarna sama. Di kemudian hari dalam abad itu mereka mempengaruhi orang-orang Waldensia dan pengikut Franciskus untuk menerima kesederhanaan hidup kristiani.
Pemerintah kepausan yang baru dibawah pimpinan Paus Eugenius III dan kemudian Paus Adrian IV menanti Anrnold, dan akhirnya menangkapnya serta membakarnya sampai mati pada tahun 1155. Mereka menebarkan abu jenazahnya di Sungai Tiber untuk mencegah agar para pengikutnya yang setia kepadanya tidak mengawetkan tulang-tulangnya sebagai barang peninggalan yang dikeramatkan.
Barangkali karena pandangannya tentang kemiskinan seperti rasul bagi para imam dan orang awamlah, yang telah membuat ia dikasihi oleh orang-orang Anabaptis, kaum Menonit yang mula-mula dan para penulis Protestan lainnya.34
Lagi aku melihat segala penindasan yang terjadi di bawah sinar matahari, dan lihatlah, air mata orang-orang yang ditindas dan tak ada yang menghibur mereka, karena di fihak orang-orang yang menindas ada kekuasaan. Oleh sebab itu aku menganggap orang-orang mati, yang sudah lama meninggal, lebih bahagia daripada orang-orang hidup, yang sekarang masih hidup.
- Pengkhotbah 4:1-2 (TB)
“Bunuh Mereka Semua; Tuhan Tahu Milik-Nya Sendiri”
Pembasmian Terhadap Para Bidat Perancis Selatan di Abad Pertengahan
Dalam abad ketigabelas sebuah aliansi yang tidak suci antara kepausan dan kerajaan Perancis melakukan pembasmian orang-orang yang disebut para bidat dari Perancis Selatan. Mereka memporakporandakan seluruh daerah dan menghancurkan suatu kebudayaan yang sangat baik. Gereja dan pemerintah menetapkan untuk menghancurkan seluruh penganut imam Cathari, membantai tanpa pandang bulu kapan saja mereka berhasil merebut suatu benteng militer yang besar. Sungguh. Pembasmian ini menghasilkan komentar sinis dari seorang pemimpin kepausan, ketika serdadu-serdadu dan imam-imam menghalang-halangi pembunuhan itu, sebab mereka tidak dapat membedakan antara bidat dan umat Kristen yang tertangkap di antara penduduk kota, “Bunuh mereka semua; Tuhan Tahu Milik-Nya Sendiri.”
Orang-orang Cathari, yang berarti “murni”, percaya bahwa kuasa kejahatan dan kegelapan setara dengan kuasa kebaikan dan terang. Mereka mengambil banyak pandangan dari aliran “Zoroastrianisme” dan dari ajaran Kristen untuk dijadikan doktrin dan praktik kehidupan mereka. Sejumlah kecil orang yang disebut kaum “Perfecti” memisahkan diri dari kelompok besar orang-orang setia, yang disebut kaum “credentes”, dan mereka melaksanakan kehidupan oral yang sangat ketat. Mereka tidak makan daging, juga tidak makan telur dan ikan. Mereka hidup tanpa menikah selama hidup. Mereka harus sama sekali jujur terhadap setiap orang. Orang-orang Kristen di Perancis Selatan tertarik pada mereka, sebab mereka hidup dengan moral yang jauh lebih baik daripada teman-teman Kristen mereka lainnya, terutama para imam. Beberapa di antara mereka hidup di kota Albi dan disebut kaum Albigensis, nama yang digunakan oelh van Braght.
Menjelang tahun 1200 seorang Paus baru, Paus Innocent III, memutuskan suatu kegiatan pembasmian untuk menghapuskan mereka. Ia memanfaatkan para padri beraliran Cisterian untuk berkhotbah mengenai pembasmian itu. Para penerus Paus Innocent menjelma menjadi ordo baru yang merupakan biarawan pengkhotbah keliling, yang disebut kaum Dominikan.35
Para pemimpin gereja bersama dengan para bangsawan dan ksatria Perancis dari utara menyerbu penduduk kota-kota Perancis Selatan yang tidak berdaya, menggempur dinding kota-kota Perancis Selatan yang tidak berdaya, menggempur dinding kota, dan tak terelakkan lagi, mereka membantai hampir setiap orang. Pada tahun 1210 pembunuhan terhadap orang-orang Cathari dimulai. Pada tahun 1243 beberapa ratus dari mereka mundur ke Montsegur, sebuah benteng di Pegunugan Pyrenees. Para pengepung menjanjikan akan memberikan kehidupan yang bebas jika mereka dapat menyerahkan dua ratus orang “perfecti”, suatu janji yang tidak dipercaya oleh seorangpun. Setelah terlibat pertarungan sengit, para penyerang menguasai benteng itu dan menghukum mati beberapa ratus “perfecti” dengan cara melemparkan mereka hidup-hidup ke dalam nyala api yang besar.
Para pembasmi itu menempatkan kaum bangsawan Perancis Utara untuk memerintah orang-orang selatan yang masih hidup, meskipun sudah dijaga dengan cermat. Mereka memaksakan bahasa dan kebudayaan Perancis Utara kepada kebudayaan “langue d’oc” yang kaya. Gerakan pembasmian ini tetap dikenang oelh masyarakat Barat sebagai salah satu penghancuran yang paling biadab atas bangsa dan kebudayaan di dalam sejarah Barat.36
Sidang Peradilan dengan Menggunakan Tes Ketahanan
Conrad dari Marburg dan Kaum Waldenses, 1214
Dapatkah manusia membujuk Tuhan untuk turut campur dalam urusan manusia, terutama untuk menghakimi kaum pria dan wanita yang didakwa menganut kepercayaan atau perbuatan yang sesat? Sejak abad ke-5 sampai ke-12 orang Kristen menggunakan tes ketahanan untuk meminta Tuhan membantu memberikan keputusan. Dalam pengadilan seperti itu, terdakwa harus menjalani beberapa tes fisik yang keras di dalam api atau air, dan Allah diminta menggunakan tes itu untuk menunjukkan apakah orang itu bersalah atau tidak.
Para pengurus gereja berusaha bertidak adil, tidak kejam. Mereka menyadari ketidakmampuan mereka untuk membaca pikiran orang atau untuk mengetahui apa yang berkecamuk di dalam hati mereka. Bagaimana mungkin para pengurus gereja yang bersungguh-sungguh dapat mengetahui kesalahan yang bersifat keagamaan di dalam hidup penganutnya? Ironis dan tanpa mereka menyadari, dengan menggunakan pengadilan berdasarkan tes ketahanan itu, mereka mundur ke praktik yang digunakan oleh orang-orang kafir untuk memanggil dewa-dewa mereka untuk minta mereka bersikap adil. Mereka hanya mengganti dewa-dewanya, bukan ketahayulannya.
Pengadilan dengan menggunakan besi panas adalah salah satu penyiksaan yang paling kejam. Biasanya korban dipaksa berjalan di atas tujuh, sembilan atau duabelas (masing-masing adalah bilangan sakral) pisau bajak yang merah membara. Kadang-kadang terdakwa disuruh membawa dengan tangannya sebatang besi panas sejauh jarak tertentu. Kemudian hakim membalut dan menyegel tangan atau kakinya, dan memeriksa luka-lukanya setelah tiga hari. Jika tangan atau kaki itu tidak terbakar, maka korban itu dinyatakan tidak bersalah.
Pada awal abad ketiga belas Paus Gregorius IX mengangkat padri Dominican, Conrad dari Marburg, untuk menjadi Pemimpin Para Penyelidik yang pertama bagi rakyat Jerman. Conrad dengan rajin mengupayakan dukungan pangeran-pangeran Jerman, beberapa di antara mereka menginginkan agar Paus tidak ikut campur dengan urusan keagamaan mereka. Conrad berusaha menghukum seorang pangeran yang menentangnya, tetapi ia gagal dan mati pada tahun 1233 kena tusuk pisau oleh seorang pembunuh. Orang-orang Kristen taat yang disiksanya, seperti kaum Waldenses, mempunyai kenangan pahit terhadap dirinya.
Van Braght mengulangi cerita tentang Conrad tanpa menyebutkan satu persatu anggota kaum Waldenses yang menderita di tangannya.
Siapa yang menakar air laut dengan lekuk tangannya dan mengukur langit dengan jengkal, menyukat debu tanah dengan takaran, menimbang gunung-gunung dengan dacing, atau bukit-bukit dengan neraca? … Sesungguhnya, bangsa-bangsa adalah seperti setitik air dalam timba dan dianggap seperti sebutir debu pada neraca
- Yesaya 40:12,15a (TB)
Lollards: Suatu Gereja Bawah Tanah
William dan Joan White, Norwich, Inggris, 1424
Sebelum Reformasi ada kaum Injili yang menentang apa yang mereka anggap kejahatan Gereja Roma. Suatau kelompok di Inggris yang diorganisasikan secara longgar, yang disebut ‘the Lollards’ menentang anggapan roti dan anggur yang benar-benar berubah menjadi tubuh dan darah Kristus, hidup tanpa menikah bagi imam, larangan untuk mempelajari Kitab Suci dan kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik umum lainnya. Mereka bertemu secara rahasia di rumah-rumah kediaman untuk membaca Alkitab, mengelola sebuah gereja bawah tanah yang berhasil dan pada waktu-waktu tertentu mengadakan khotbah di tempat umum. Ketika Henry VI yang masih muda menjadi raja Inggris, beberapa orang dari kalangan mereka mengkhotbahkan agama mereka secara terbuka, dengan berani menentang kekayaan dan hak-hak istimewa bagi para imam Roma.
William White adalah salah satu pengkhotbah yang berbuat demikian. Ditahbiskan sebagai seorang imam, ia beralih menjadi seorang Lollardy, menikah dan pergi berkeliling ke berbagai tempat di Inggris dengan menyebut-nyebut Paus sebagai “Antikristus”, menyatakan lukisan-lukisan yang berada di gereja-gereja sebagai berhala, dan mengumumkan bahwa hanya Allah saja, bukan gereja, yang memberikan pengampunan dosa. Selagi White mempersiapkan diri untuk khotbah kepada orang-orang yang menyaksikan hukuman pembakarannya, seorang polisi datang dan memukuli mulutnya dengan kejam, sehingga ia tidak dapat berbicara.
Kehidupan yang kudus tetap diingat oleh anggota-anggota Lollards yang lain, terpelihara oleh pelayanan Joan, isterinya yang masih hidup. Kelompok keagamaan seperti Lollard ini seringkali mengandalkan wawasan keagamaan dan khotbah-khotbah kaum wanita, suatu hal yang ditentang oleh gereja Roma. Joan White “mengajar dan menaburkan Firman Tuhan secara luas, meyakinkan orang banyak pada kebenaran Tuhan,” dan oleh karenanya, ia banyak menderita dari para uskup.37
Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.
- Yohanes 16:2 (TB)
Kaum Waldenses
Dulcinus dan Margaret, Novara, Italia, 1308
Suatu kelompok beragama anti Katolik yang sudah ada sebelum masa Reformasi masih tetap hidup sampai zaman kita ini – Kelompok Waldenses atau Vaudois, begitulah mereka menamakan diri mereka sendiri di daerah Italia barat laut. Barangkali Peter Waldo adalah pendirinya. Ia mulai berkhotbah tentang “hidup miskin seperti para rasul” bagi semua orang Kristen, tidak hanya bagi para imam saja, seperti yang telah dilakukan oleh Arnold dari Brescia.
Pada tahun 1170-an di sekitar Lyon, Perancis, para pengikut Waldo menyebut diri mereka sendiri “orang miskin dari Lyon”. Mereka menggunakan kewibawaan Alkitab untuk menentang gereja, menerjemahkan Alkitab dari bahasa Latin ke dalam bahasa rakyat jelata. Mereka mengikuti perkataan Yesus dalam Khotbah di Bukit. Pada awalnya mereka menentang semua pembunuhan, tetapi kemudian mereka menggunakan senjata untuk membela diri mereka sendiri di tempat persembunyian mereka di pengunungan, untuk menghadapi kemarahan penyiksa-penyiksa mereka. Mereka lebih suka kepemimpinan awam daripada para imam, dan hal ini membuat marah pemimpin gereja Roma yang menyatakan mereka sebagai bidat pada tahun 1184.
Kesederhanaan cara hidup mereka menarik perhatian banyak orang, barangkali menarik bagi kelompok awal Humiliati (dan Arnold) dan kelompok-kelompok sejenis, dan mengilhami gerakan-gerakan yang serupa di kemudian hari dengan nama yang berbeda-beda. Pada tahun 1190-an Franciskus dari Assisi mendirikan suatu gerakan untuk hidup miskin seperti para rasul dan hidup sederhana. Akhirnya, Gereja menerima alirannya yaitu “Ordo Franciskus”. Gerakan itu telah memetik hikmat dari penolakan yang terburu-buru dan berlebihan terhadap kelompok Waldenses. Waldo dan para pengikutnya telah berusaha untuk tetap berada di lingkungan Gereja, Pada tahun 1532 kelompok Waldenses bergabung dengan Gereja Reformasi.
Pada tahun 1305 pemerintahan Paus, yang dilecehkan oleh raja Perancis Philip IV, berpindah dari Roma ke Avignon di Perancis Selatan. Paus Perancis yang pertama, yaitu Clement V, mulai mempertahankan kekuasaan kepausan di Italia dengan menyerang orang-orang yang tidak sepakat dengannya. Ia melampiaskan suatu gelombang pembunuhan dan penyiksaan lainnya terhadap Kaum Waldenses yang berdiam di dataran dan di lembah-lembah di Italia Barat Laut. Salah satu dari pendetanya dan isterinya, yaitu Dulcinus dan Margaret, ditangkap dan dibunuh di Novara pada tahun 1308. Kemudian para ahli kemartiran seperti van Braght, melaporkan kematian mereka. Tidak ada catatan sejarah pada waktu itu yang dapat memberikan keterangan secara rinci kepada kami.38
Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: “Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?” Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka.
- Wahyu 6:10-11 (TB)
Dan ketika Anak Domba itu membuka materai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki.
- Wahyu 6:9 (TB)
Dua Orang Pemintal Anggota Kaum Waldenses Mengajukan Permintaan
Hans Kager dan Hans Speyser, Augsburg, 1524
Beberapa orang Kristen menolak praktik-praktik perjamuan kudus yang dilakukan oleh gereja Roma hanya dengan membagikan roti yang sudah dikuduskan saja. Gereja itu tidak mengizinkan orang awam minum anggur yang telah dikuduskan, karena khawatir kegembiraan orang-orang untuk memegang cawan dan meminum apa yang dianggap darah Kristus yang
sesungguhnya itu akan menyebabkan anggur itu tumpah dan mencemarkan sakramen itu sehingga karenanya menghina Yesus Kristus sendiri. Para imam selalu meletakkan roti yang berbentuk roti wafer kecil ke dalam mulut setiap orang yang mengikuti perjamuan itu. Para imam dapat diandalkan tidak akan menjatuhkan roti itu sehingga mencemarkan “tubuh Kristus”.
Para anggota kelompok Waldenses dan kelompok agama lainnya yang melakukan protes pada penghujung abad pertengahan, menuntut hak untuk mengikuti perjamuan kudus dengan “anggur dan roti”. Di beberapa kota dan desa sejumlah besar orang awam berkumpul menentang Gereja dalam hal itu. Kadang-kadang mereka juga membuat kerusuhan jika para penguasa pemerintah menolak permintaan keagamaan mereka. Hans Kager dan Hans Speyser, dua orang pemintal anggota kelompok Waldenses dari Augsburg yang berumur enampuluhan tahun, mengajukan permintaan sederhana tersebut dan kerusuhan pun terjadi. Pemerintah menangkap mereka dan dengan cepat mengadili dan menjatuhkan hukuman pancung kepada mereka secara senyap, untuk mencegah ledakan perlawanan baru dari penduduk kota itu. Untuk saatnya yang terakhir, sikap Kager berbalik dan ia mau menerima sakramen perjamuan kudus hanya dengan roti saja. Speyser tetap bertahan tidak mau menerima perjamuan kudus, kecuali jika diberikan roti dan anggur. Ia mati “tanpa viaticum,” yaitu kondisi yang secara wajar dianggap mengerikan, tetapi tidak mengganggu keyakinannya terhadap hubungannya dengan Tuhan.39
Seorang penyair menggubah doa terakhir Kagen dan Speyser ke dalam lagu pujian. Meskipun dicetak pada buku nyanyian Ausbund, namun di kalangan kaum Amish yang berada di tempat-tempat lain, lagu itu tidak dinyanyikan lagi.
Kami harus menderita malu,
Karena kami tidak
Menentang-Mu.
Jika kami sedikit berdosa,
Menyembah berhala [roti dan anggur perjamuan kudus]
Roti dan anggur tidak akan merugikan kami.
Dengarkanlah kami, Oh Tuhan, angkatlah pedangMu,
Hakimi semua orang di sini,
Yang dengan seenaknya menilai kekuatanMu.
- Bait 6
Oh Allah, dalam segala kemahakemuliaan-Mu,
Dengarkanlah kiranya,
Doa kami dengan penuh rahmat.
Karena kami menderita kecemasaan dan tekanan jiwa,
Jangan tinggalkan kami,
Tambahkan kesabaran kami,
melalui Anak-Mu, Pemimpin kami,
Yang layak dihargai dan dimuliakan – Ia berperang melawan Setan dan tentaranya.
Amin
- Bait 14, lagu no.40, Ausbund.
Seorang Martir Lutheran
Leonhard Kaiser, Scharding, 1527
Leonhard Kaiser dari Scharding, Bavaria, adalah seorang pendeta Lutheran yang mati sebagai martir oleh orang-orang Katolik pada bulan Agustus 1527. Karena kaum Lutheran mengetahui bahwa pangeran-pangeran dan dewan kota mendukung posisi keagamaan mereka, maka mereka biasanya dapat bertahan dengan aman di daerah-daerah tempat tinggal mereka. Hanya sedikit orang saja yang ditangkap dan dibunuh. Charles V, kaisar Katolik, bertekad memanfaatkan tentara Spanyolnya untuk menyatukan kembali agama yang terpecah-pecah. Namun ia tidak dapat menghindari perselisihan politik lain untuk membawa tentaranya ke Jerman hingga tahun 1546, ketika gerakan Reformasi terbukti terlalu kuat untuk digoyahkan. Membunuh kaum Lutheran secara besar-besaran dapat memicu perang di seluruh Jerman.
Kaiser ditangkap di daerah kekuasaan kaum Katolik, diinterogasi dan dituntut oleh seorang teolog yang bersungguh- sungguh, diadili oleh uskup yang terlalu bersemangat dan dibunuh walaupun dengan rasa enggan oleh algojo yang berkerja dengan serampangan. Imannya yang teguh dan sikapnya yang tenang untuk menerima kematian itu memberi kesan yang mendalam di hati banyak orang yang menyaksikannya. Ia mempunyai pengikut yang populer dan karenanya hakimnya yang terakhir, yaitu Duke Wilhelm dari Bavaria, ingin menghukumnya secara diam-diam. Namun orang banyak menginginkan tontonan yang mengerikan itu.
Di tempat hukuman mati itu dijatuhkan, kaiser mengampuni algojonya yang meminta maaf kapadanya. Ia menghibur orang banyak, berdoa kepada Tuhan untuk menopang dan menguatkannya, kemudian meminta para pengikutnya menyanyikan lagu pujian “Datanglah, Roh Kudus.” 53 Meskipun tumpukan kayu bakar yang baru sudah dinyalakan, nyala api tidak membakar tubuhnya. Kemudian algojo secara sadis membalik-balikkan jasadnya dengan tombak dan memotongnya berkeping- keping – suatu pemandangan yang sangat mengerikan.
Luther menggunakan hukuman mati itu untuk menentang pembunuhan atas orang-orang yang dianggap melawan agama. Dalam tiga tahun kemudian, dengan rasa enggan, ia menyetujui penghukuman mati bagi orang-orang Anabaptis untuk menghentikan pertumbuhan mereka.
Van Braght dan para pengisah Anabaptis yang lebih awal,40 mengira Kaiser adalah seorang Anabaptis. Barangkali salah seorang dari mereka pernah membaca pernyataannya mengenai baptisan. Ia menerima pandangan Lutheran mengenai baptisan sebagai suatu sakramen, tetapi secara panjang lebar ia menulis mengenai baptisan orang-orang yang sudah percaya, yaitu yang dapat menerima hanya salib dan penderitaan – yang adalah tema orang-orang Anabaptis.41 Catatan yang paling awal tidak menunjukkan bukti yang mendukung legenda, bahwa bunga-bunga yang dipetik oleh Kaiser tetap segar dan tidak hangus pada jenazahnya setelah api yang membakarnya untuk kedua kali padam.
“Dalam konflik sejarah dimana martir menemukan dirinya sendiri,
apa yang diperbuatnya adalah apa yang dikatakan
dan apa yang dikatakannya, diperbuatnya.”
Dari karya H.von Campenhausen,
Die Idee des Martyriums in der alten Kirche
(Gottingen:1964)
Desah Nafas Terakhir Penyiksa yang Geram
Gereja Purba
Penyiksaan yang paling kejam dari semua penganiayaan di zaman Gereja Purba dilakukan atas nama Kaisar Diocletianus (th 284-304 M). Sejak Nero (54-68) hingga Diocletianus bangsa Romawi sebentar-sebentar menganiaya orang- orang Kristen dalam berbagai tingkat kekejaman. Dalam dua penyiksaan yang dilakukan secara sistematik dan merata di seluruh kekaisaran Romawi (di bawah pemerintahan Decius [249ff.] dan Diocletianus), Roma mengembangkan tingkat penyiksaan, yang berakhir dengan kematian. Roma menghancurkan gereja-gereja, membakar Alkitab dan buku-buku Kristen lainnya, dan akhirnya terhadap orang-orang Kristen itu sendiri.
Dalam penyiksaan yang dilakukan oleh Diocletianus, orang-orang Kristen harus mempersembahkan korban kepada dewa-dewa atau dibunuh. Roma menyiksa umat Kristen dengan merentangkan tubuh dan meregang tulang, menguliti, memenggal kepala, membakar, menenggelamkan, membiarkan mati kelaparan, atau menyalibkan mereka (kadang-kadang dengan kepala di bawah), atau menggunakan binatang buas untuk membunuh mereka. Para algojo kadang-kadang mengikatkan masing-masing kaki pada suatu cabang pohon muda, melengkungkannya ke bawah lalu secara tiba-tiba melepaskan kedua cabang pohon tersebut hingga mencabik tubuh orang Kristen tadi. Roma selalu dapat menemukan cara-cara baru untuk membunuh orang. Orang-orang Kristen, jika dibandingkan dengan penjahat-penjahat biasa, tidak dikecualikan dalam menerima kekejaman penyiksaan itu. Kebrutalan penyiksaan yang sangat mengerikan itu dan kehebatan pelaksanaannya di seluruh kekaisaran, membuat penyiksaan oleh Diocletianus terkenal sangat buruk di dalam sejarah.
Beberapa orang Kristen meningkatkan minatnya terhadap kemartiran. Misalnya, ketika maklumat untuk menentang kekristenan dipasang di muka umum di bagian timur ibukota, Nicomedia, seorang pemuda Kristen bernama Euethius menyobeknya. Penguasa kemudian menangkapnya dan menjatuhkan hukuman mati kepadanya sebagai pengkhianat sebelum hari itu berakhir. Pada saat hukuman mati dilaksanakan di muka umum di amfiteater, yang hampir selalu dihadiri oleh orang- orang Kristen lain yang belum ditangkap, ada beberapa orang Kristen di antara kerumunan orang itu yang secara sukarela maju ke muka untuk meminta agar algojo menjatuhkan kapaknya ke atas diri mereka sendiri.42
Mengapa mereka membunuh orang-orang Kristen? Kekristenan mempunyai ratusan ribu pengikut termasuk pejabat- pejabat tinggi, khusunya di bagian timur kekaisaran. Bisa saja berbahaya jika menyerang mereka di sana. Karena Diocletianus menyadari kekaisarannya terus makin merosot, maka ia memutuskan untuk menghancurkan unsur anarkis yang mengancam masyarakat Romawi terkoyak-koyak. Beberapa orang penasihatnya mempengaruhinya bahwa kekristenan yang merupakan suatu agama baru yang lancang dan tidak mau menyesuaikan diri dengan agama kafir apapun yang ditoleransi oleh Roma, secara serius mengurangi semangat masyarakat Romawi dan menghancurkan loyalitasnya kepada negara. Orang-orang Kristen menyembah Allah yang lain, bukan ilah dari negaranya.
Pandangan yang terbaik dari bangsa Romawi selalu menganggap hal-hal yang ilahi sebagai kuasa. Allah orang Kristen tidak akan tunduk kepada kekuasaan Romawi dan oleh karena itu harus dimusnahkan dari hati setiap pengikut-Nya.
Diocletianus memulai program penyiksaan selama sepuluh tahun, namun delapan belas bulan setelah itu ia mengundurkan diri dari jabatannya dan mengerjakan hobinya bercocok tanam kubis. Wakil Kaisar, Galerius, dan seorang kaisar berikutnya, Maximinus, adalah algojo-algojo yang paling brutal dalam masa penyiksaan itu. Namun akhirnya mereka harus menyerah pada semangat kemartiran umat Kristen yang penuh kejayaan. Pada tahun 311 Galerius mengeluarkan surat ketetapan pertama Roma mengenai toleransi terhadap kekristenan, dan akhirnya ia meminta orang-orang Kristen berdoa baginya kepada Allah mereka ketika ia sakit parah.
Kurang dari sebad kemudian, kekristenan, yang sejak saat itu menjadi satu-satunya agama negara yang resmi, mulai menghukum para penyembah berhala. Ironisnya, pada tahun 525, seorang senator kafir Romawi menulis salah satu pembelaan yang paling indah dalam kebudayaan Barat tentang toleransi agama - menentang orang-orang Kristen yang menjadi penyiksa itu.
Hendrik Eemkens, seorang penjahit yang buta huruf dari Frisia Timur, dengan sangat berhasil menggunakan perbendaharaan ayat-ayat Kitab Suci yang banyak dihafalkan untuk berdebat dengan imam yang mengadilinya yang berupaya untuk membujuk dia agar bertobat. Luyken menggambarkan algojo Eemkens sedang menyalakan sekantung serbuk mesiu yang digantungkan pada lehernya sebelum membakar tubuhnya. Pembunuhan dengan serbuk mesiu dianggap lebih manusiawi daripada pembunuhan yang terjadi secara pelan-pelan karena dibakar.
Sang Seniman: Jan Luyken
Perajin Seni Cetak, 1649-1712
Jan Luyken adalah perintis kerajinan seni cetak berkebangsaan Belanda pada generasi setelah Rembrandt. Ia merancang lebih dari 3.000 lempengan tembaga untuk menggambarkan sejarah, Alkitab dan sebelas buku syair-syair keagamaan. Sebagai orang yang lemah lembut dan saleh, ia menggalang persekutuan dengan kelompok Menonit dan Collegiant.
Seratus empat buah hasil karya etsanya ditampilkan dalam buku Martyrs Mirror edisi tahun 1685. Tiga puluh lembar dari lempengan-lempengan tembaga tersebut tetap ada hingga sekarang.
Jan Luyken adalah anak kelima dari pasangan suami isteri sederhana dari Amsterdam penganut setia aliran Remonstrant – Casper Luyken dan Hester Corres. Ayah Jan, teman baik Pendeta Menonit yang disegani, Galenus Abrahamz. de Haan, adalah seorang guru sekolah yang mengajar sendiri. Dia pula yang mengajar sendiri anaknya itu hingga tamat sekolah dasar. Keluarga Jan mendorong bakat melukisnya, yang mulai bersemi, dengan mengikuti kursus melukis pada Martinus Saeghmolen. Namun entah bagaimana, ia dikenal untuk pertama kali sebagai pengarang syair-syair asmara, The Dutch Lyre, yang mengisyaratkan bahwa kehidupannya sebagai remaja kurang saleh.
Di tahun 1675 ketika Jan Luyken berumur dua puluh enam tahun, sesudah ia menikah dan mempunyai beberapa anak, ia mengalami pertobatan. Ia digambarkan bagaikan “bersinar dan terbakar oleh kasih Allah”.1 Ia merayakan sukacita rohaninya yang baru itu dengan membuat satu seri 39 puisi yang diterbitkan pada tahun 1678 dengan judul, “Yesus dan Jiwa”. Seorang kritikus kesusastraan berkebangsaan Belanda menyebut puisi ini, “salah satu karya lirik terbesar dalam kesusastraan kita. Suatu adikarya, yang seluruh komposisinya lengkap, suatu penggambaran dari jiwa yang kembali kepada Allah selangkah demi selangkah, dengan tekad yang pasti, dengan kejutan-kejutan yang mengikat dan menyatukan.”2 Ahli sejarah Irvin B. Horst menilai kesalehan Luyken sebagai “spiritualisme Yesus dengan memberikan tekanan pada persekutuan dengan Kristus dan mengikuti jejak-Nya.” 3 Ia memahami dirinya sendiri terutama sebagai pengarang puisi, didukung oleh kemampuannya di bidang seni grafis.
Ketika berumur duapuluh delapan tahun, Luyken rupanya telah meninggalkan kuas lukis dan beralih ke jarum etsa. Seperti Rembrandt sebelumnya, Luyken mengikuti prosedur yang masih digunakan hingga kini oleh para perajin seni cetak.
Selembar lempengan tembaga dilapisi dengan aspal, damar dan lilin tipis yang tahan terhadap asam. Garis-garis diguratkan dengan jarum pada dasar yang berlilin itu, sehingga menampakkan logam di bawahnya. Ketika lempengan dibenamkan di dalam cairan asam, maka larutan asam tadi menggerogoti lempengan pada garis yang dibuat dengan jarum tersebut, sehingga menciptakan ceruk-ceruk berbentuk U. Perajin seni cetak kemudian menuangkan tinta ke ataas lempengan itu dan menyeka lempengan sehingga bersih dari lumuran tinta, dan meninggalkan tinta hanya yang terdapat di dalam garis-garis dan ceruk- ceruk. Kertas yang telah dibasahi diletakkan di atas lempengan itu dan ditekan dengan alat penekan yang dioperasikan dengan tangan, yang menekan kertas ke dalam ceruk-ceruk yang bertinta di atas lempengan itu. Kertas itu kemudian menghasilkan gambar terbalik dari gambar pada lempengan tembaga tersebut.
Luyken pertama kali menunjukkan bakatnya sebagai seorang perajin seni cetak dengan menghasilkan empatpuluh lembar etsa yang menggambarkan “Yesus dan Jiwa”, yang diterbitkan oleh Pieter Arentsz., seorang Menonit yang menjadi penjual buku di Amsterdam. Bukunya yang menggambarkan seratus macam perdagangan dan profesi yang diterbitkan pada tahun 1694, telah mengukuhkan kepopulerannya hingga sekarang. Pada tahun 1681 ia menyumbangkan karya etsa tentang Menno Simons untuk karya lengkap Simons yang disebut “Menno dengan Alkitab yang Terbuka.” Kitab Suci dibuka pada Matius 5:39, bagian Alkitab tentang memberikan pipi yang kiri bila pipi yang kanan ditampar orang. Tigaratus empatpuluh lembar etsa besar karyanya yang menggambarkan Sejarah dan tokoh-tokoh dari Kitab Suci (1712) mempunyai skala sebagaimana karya Breughel dan memiliki rincian yang sangat mempesona. Terjemahan berbahasa Belanda dari The Pilgrim’s Progress, yang dilengkapi dengan illustrasi karya Luyken, terbukti menjadi salah satu buku terlaris yang cukup lama. Pada tahun 1682, isteri Luyken meninggal dunia. Sejak itu ia memilih jalan hidup miskin dan menyangkali diri. Sejak masa ini lahirlah Surat-surat Rohani yang diterbitkan setelah ia meninggal dunia. Sejak tahun 1689 Jan mulai bekerjasama dalam usaha pembuatan cetakan, dengan anaknya, Caspar, yang mati pada tahun 1708, empat tahun sebelum ayahnya.
Jan Luyken, yang telah membubuhkan illustrasinya pada lebih dari 500 buah buku selama hidupnya, menghabiskan sisa umurnya bekerja dengan tenang di studio cetakannya, hidup sederhana, menolong orang-orang miskin serta menyediakan pelayanan rohani kepada teman-temannya dan orang-orang asing. Sebuah potret Jan Luyken pada tahun kematiannya, 1712 menyandang tulisan singkat Spinniker, “Jiwa Luyken naik kepada Tuhan, tetapi ia tetap berada pada syair-syair dan karya seninya untuk mengajak kita mendekat kepada Tuhan.”
Ketika Luyken dipercaya untuk membubuhkan illustrasi pada buku Martyrs Mirror karya van Braght edisi tahun 1685, ia telah membubuhkan illustrasinya pada lebih dari 90 buku. Ia menyumbangkan 104 lempengan tembaganya4 yang ditampilkan dalam karya berukuran folio. (Salah satunya, yang diserahkan sebagai penghias halaman tajuk buku ditolak dan diganti dengan satu hasil karya I. van der Vinne.)
Luyken, yang hidup dekat dengan masa para martir Anabaptis itu, mungkin telah memperoleh kebebasan untuk memilih cerita yang menarik perhatian mata artistiknya itu dan yang membangkitkan semangatnya. Orang kagum atas kepekaannya terhadap hal-hal yang rinci dan kemampuannya untuk menggambarkan ketenangan para martir ketika melintasi perbatasan mistik antara hidup dan mati. Untuk menghindari agar karyanya tidak hanya berpusat pada drama eksekusi saja, maka Luyken menyelidiki dengan cermatnya pengalaman para martir dalam kepelbagaian terang dan bayangannya.
Jan Luyken jelas berbekat sebagai seorang perajin seni cetak yang mempunyai keterampilan teknis luar biasa. Rekan- rekan sezamannya nampaknya memberikan pujian yang tinggi pada bakatnya sebagai pembuat etsa bila ada orang yang mempertimbangkan proyek-proyek besar yang dipercayakan kepadanya. Kami bertanya-tanya, apakah kesahajaan atau kesalehan Luyken yang menyebabkan hasil karyanya sempat diabaikan oleh orang-orang yang memiliki selera dan yang suka memelihara barang yang berniali artistik. Sekarang, tiga abad kemudian, kita menemukan kembali seniman berbakat itu. Waktu untuk mempelajari dan mengenalnya tersedia kembali.
Ia adalah seorang seniman yang mempunyai produktivitas monumental: lebih dari 3.000 lembar etsa. Namun ia tetap orang bersahaja yang mengesampingkan pujian. Mengenai seninya ia berkata, “Ia hanya melayani saya sebagai sebatang tongkat untuk menjelajahi negeri pada saat sekarang.”5 Jan Luyken adalah penyyair dan seniman, tetapi juga seorang musafir. Pengarang : Thieleman Jansz. van Braght, 1625-1664
Thieleman Jansz. van Braght menulis dan menerbitkan buku Martyr Mirror pada tahun 1660 keran ia beranggapan, bahwa gereja Menonit pada zamannya memerlukan kesaksian mengenai para ayah dan ibu mereka yang telah dengan gagah berani mati demi iman mereka yang sederhana.
Ia tidak menujukkan kepada kami kekurangan-kekurangan sesamanya orang-orang Menonit dengan jelas. Kami harus menduga-duga. Pada masa hidup van Braght beberapa orang Menonit telah menjadi kaya. Para intelektual di kalangan orang- orang Menonit yang kaya itu telah memperkenalkan unsur-unsur yang rasional ke dalam agama mereka . Sedangkan orang- orang Menonit yang lainnya tetap menghidupkan spiritualisme Anabaptis yang lebih awal, bahkan ada yang kurang memperhatikan gereja yang kelihatan. Ada juga orang-orang Menonit yang telah memasuki hampir setiap cabang kebudayaan Belanda dalam abad di mana peran kebudayaan menjadi semakin penting. Sungguh, tidak ada saat atau tempat lain dalam seluruh sejarah Menonit ketika orang-orang Menonit berperan serta begitu sepenuhnya dalam segala segi dari budaya nasional yang bersemangat sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Menonit Belanda di abad tujuh belas. Namun ada beberapa orang Menonit yang meninggalkan kelompoknya, dan memilih ajaran agama yang lebih simpatik menurut kebudayaan dan minat intelektualitas mereka. Van Braght barangkali mendapatkan, bahwa masing-masing tekanan yang diberikan pada tiap-tiap paham tersebut di atas terlalu berlebihan, ia percaya bahwa paham-paham itu merusak iman yang lebih murni dan alkitabiah, yang dihargainya.
Van Braght pasti telah terganggu oleh Perang Anak-anak Domba, perjuangan kelompok yang dimulai di Amsterdam, tetapi kemudian merambah keluar sampai ke pusat-pusat Menonit lainnya. Sebagai seorang pengkhotbah yang bersungguh- sungguh di gereja Lamist, tentulah ia mengerti kepahitan yang menyakitkan yang disebabkan oleh perpecahan tersebut. Walaupun ia dipandang oleh sesama orang Menonit di gereja Lamist sebagai seorang konservatif namun dia dapat menjadi penengah di antara kelompok-kelompok tersebut.
Dalam setiap peristiwa, dengan sedih ia melaporkan bahwa ada beberapa orang yang tidak akan pernah menerima apa pun yang ditulisnya. Karena itu, ia memutuskan untuk menulis, menurut dia, bagi orang-orang yang memiliki watak yang baik. Ia mengajak berdiskusi dengan orang lain mengenai temuan-temuannya, bahkan jikalau perlu ia mau mengganti karya tulisnya itu jika terbukti keliru, selaman kesehatannya memungkinkan.I
Van Braght dilahirkan pada tahun 1625 di Dordrecht. Ia anak seorang saudagar kain, yang pekerjaannya dia lanjutkan. Ia belajar bahasa-bahasa asing, termasuk bahasa kuno, sebagaimana yang dilakukan oleh banyak orang sebangsanya. Pada umur duapuluh tiga tahun ia menjadi seorang pengkhotbah Menonit, jabatan yang dipegangnya hingga akhir hayatnya pada tahun 1664.2 Perdebatannya dengan beberapa pengkhotbah gereja Reformed Belanda, tentang pandangannya yang seksama mengenai baptisan, seperti yang ditulisnya dalam buku Martyrs Mirror yang diperdebatkan dari abad ke abad, memberi kesan bahwa itulah topik yang memberi informasi dan menunutun penelitian pribadinya terhadap sejarah gereja dan teologi.
Van Braght menulis beberapa buku. Buku Martyrs Mirror memerlukan penelitian yang lengkap, memerlukan penelitian yang lengkap, sedangkan buku-buku yang lain kurang, tetapi tetap membutuhkan cukup riset. Ia melakukan semua itu ketika ia masih muda. Ia baru mencapai awal umur 30-an ketika ia melakukan penelitian dan menulis buku Martyrs Mirror-nya itu, yang diterbitkan ketika ia baru berumur 35 tahun. Ia meninggal pada umur 39 tahun. Dalam masa hidup yang singkat itu, apa yang dicapainya memang monumental.
Hasil karya van Braght bernafaskan semangat moral yang serius, terutama buku Martyrs Mirror. Namun hasil keryanya hidup dalam buku School of Moral Virtue3 (Pendidikan Moral Baik), sebuah buku yang ditunjukan kepada kaum muda, untuk mendorong mereka agar hidup baik, dalam patokan keagamaan Menonit. Edisi terakhir, ke-18, diterbitkan pada tahun 1824. semangat yang sama diwujudkan dalam karyanya FiftyOne Sermons on Varied Scripture Passage4 (“Khotbah Kelima puluh satu khotbah tentang Berbagai Perikop Alkitab”) dan dalam beberapa lagu pujian karangannya. Van Braght adalah seorang Menonit yang taat. Ia ingin membangkitkan kembali dan meneruskan kesederhanaan alkitabiah tentang kehidupan moral yang bersungguh-sungguh, yang ditemukannya dalam kehiupan orang-orang Anabaptis yang mula-mula.
Di sini kami tertarik terutama pada buku Martyrs Mirror-nya. Orang mengagumi kapasitasnya yang tak terbatas untuk bekerja keras, pada semangatnya untuk tetap mencari sumber-sumber bru mengenai tokoh-tokoh martisnya. Ia tidak mengenal lelah menulis banyak dari bukunya dari tempat tidurnya selama ia sakit.
Seberapa tepatkah ia? Bagaimana mutu ilmu pengetahuannya?
- ini adalah pertanyaan adil mengingat sifatnya yang memoertahankan diri mengenai yang ditulisnya.
Sebagai seorang ilmuwan ia sangat berhati-hati terhadap para nasa sumbernya. Misalnya ia memulai penelitiannya hanya karena ia ingin mencetak ulang buku martir Menonit terbitan sebelumnya.5 Kemudian ia mendapatkan, bahwa para pengarang buku itu telah mengesampingkan terlalu banyak bukti dokumenternya dan membuat terlalu banyak kesalahan faktual.
Oleh karena itu, ia menulis kepada banyak ahli pengarsipan, dan menemukan banyak materi baru, khususnya dalam catatan- catatan dari sidang-sidang pengadilan. Kemudian ia melengkapi kekurangan-kekurangan yang ada dan membenahi kesalahan- kesalahan dalam tulisan-tulisan yang lebih awal mengenai martir. Tulisannya memiliki ciri sebagai suatu karya yang penuh perhatian sampai ke hal-hal yang sekecil-kecilnya, yang nyaris dapat dianggap remeh belaka. Ia berusaha untuk selalu tepat hingga kepada hal-hal yang rinci. Ia menyadari bagaimana sulitnya menyampaikan sesuatu dengan tepat, lalu akhirnya menyatakan, bahwa ia yakin telah membuat beberapa kesalahan. Integritasnya itu patut mendapat pujian.
Sebagai contoh mengenai ketelitiannya yang cermat terhadap suatu detil, ambil saja kasus dai Joris Wippe, yang ditenggelamkan di Dordrecht pada tahun 1558. Van Braght memeriksa arsip-arsip kota untuk menemukan pernyataan resmi mengenai kematiannya. Akhirnya ia dapat menyingkap nama sembilan orang hakin yang menjatuhkan hukuman kepada Wippw.
Kemudian ia memutuskan bahwa ia tidak yakin para hakim tadi memutuskan dengan suara bulat untuk membunuhnya, karena mereka telah berusaaha meneruskan kasus tadi ke The Hague, dengan maksud agar mereka dapat menghindari pelaksanaan hukum mati karena pelanggaran kaum Anabaptis yang berlaku di daerah itu. Pengetahuan van Braght atas sejarah patut dijadikan teladan pada zamannya, lebih dari seabad sebelum lahirnya pendekatan yang sungguh-sungguh untuk mengupas sejarah secara kritis.
Tentu, keryanya itu tidak akan memuaskan tuntutan para ilmuwan abad keduapuluh. Ia menerima dengan terlalu lugu beberapa kisah yang sebagian besar didengarnya dari penuturan orang. Ia memang melakukan beberapa kesalahan. Lebih dari itu, ia tidak memperhitungkan orang-orang Anabaptis yang memilih agar mereka tidak dibunuh. Dengan demikian, ia gagal menceritakan kisah-kisah yang benar-benar seimbang pada waktu itu6. Walau bagaimanapun juga, karyanya itu mengemukakan segi-segi penting dari hidup dan mati di negeri Belanda pada abad keenam belas.
Lempengan-lempengan yang Hilang Ditemukan Kembali
Ke 104 lempengan tembaga milik Jan Luyken yang digunakan dalam buku Martyrs Mirror terbitan tahun 1685 telah hilang. Lempengan-lempengan itu dilihat untuk terakhir kali oleh para ahli sejarah Menonit di Jerman Selatan pada tahun 1930.
Lempengan-lempengan itu dikira telah hancur selama masa Perang Dunia II atau barangkali telah dilebur sebagai rongsokan besi tua pada masa perang di Jerman. Pada tahun 1975, tigapuluh lembar lempengan di antara yang hilang itu telah muncul kembali. Tujuh lempengan dibeli oleh orang-orang Menonit Amerika, tetapi duapuluh tiga lainnya berpindah tangan kepada seorang kolektor barang seni dari Rhineland. Selama tigabelas tahun, walaupun telah dilakukan penyelidikan berulang kali, tidak ada jawaban yang diperoleh mengenai keduapuluh tiga lembar lempengan tadi.
Pada akhir Mei 1988, Amos Hoover, seorang ahli sejarah Old Order Menonit dari Lanchaster County, Pennsylvania, menelpon Robert Kreider dari North Newton, Kansas, untuk melaporkann bahwa benda-benda yang hilang itu telah ditemukan! Kolektor barang seni dari Jerman itu telah mati dan lempengan-lempengan miliknya itu siap untuk dijual. Segera John Oyer dari Goshen, Indiana, bergabung dalam usaha pencarian lempengan-lempengan itu. Setelah itu terjadilah negosiasi selama sepuluh bulan.
Pada suatu Sabtu pagi di bulan April tahun 1989, di sekitar sebuah meja di kedai kopi di Grunstadt, Jerman, sekelompok orang berkumpul untuk membuka setiap bungkus dari duapuluh tiga lempengan itu dengan sikap hormat dan berhati-hati dan untuk memeriksa karya seni etsa Jan Luyken yang halus itu. Inilah karya seni buatan seorang penyair dan perajin seni cetak Menonit yang telah berusaha dengan rasa hormatnya, dengan keterampilan dan kasih sayangnya, mengabadikan kenangan terhadap leluhurnya, yaitu kaum martir Anabaptis, yang hidup hanya beberapa generasi sebelumnya. Di bawah ini secara garis besar disajikan pengembaraan kepingan-kepingan tembaga yang hilang itu:
1685 – Di Amsterdam, seratus empat lembar lempengan tembaga karya Jan Luyken itu digunakan dalam pencetakan edisi kedua buku Martyrs Mirror. Lempengan-lempengan Luyken ini dipakai seluruhnya atau sebagian pada waktu buku ini dicetak dalam bahasa Belanda pada tahun 1698, 1715(?), 1732, 1738, dan 1762.
1778 – Hans Nafziger, seorang uskup Amish dari daerah Palatinate Jerman, memperoleh lempengan-lempengan tembaga itu untuk kepentingan pencetakan buku tersebut dalam bahasa Jerman di Primasens pada tahun 1780. Ia bekerjasama dalam proyek itu dengan rekan Menonitnya, Peter Weber. Edisi ini menggunakan terjemahan dalam bahasa Jerman yang disiapkan oleh Ephrata Brethren di perbatasaan Pennsylvania.
1880 – Suatu surat kabar Rotterdam melaporkan bahwa lempengan-lempengan Luyken ditemukan dalam sebuah peti di rumah orang yang bernama Ed Heim, seorang petugas kereta api di Lambrecht di daerah Palatinate.
1925 – Ahli sejarah Menonit, Christian Hege dari Frankfurt dan Christian Neff dari Weierhof tahu bahwa sembilanpuluh lembar di antara lempengan-lempengan terebut dimiliki oleh seseorang bernama Christian Wolf dari Munich. Hans Weber, Sr. dari Munich menerima lempengan-lempengan tersebut pada saat kematian Wolf. Hilangnya empatbelas lempengan yang lain tetap tidak dapat diterangkan.
1930 – Harold S. Bender dan Neff, ahli-ahli sejarah Menonit, melihat sembilanpuluh lembar lempengan itu, tetapi dalam masa depresi pada watu itu, mereka tidak dapat mengupayakan dana sebanyak kira-kira $2.000,- untuk membelinya.
1944 – Hans Weber, Jr., yang telah mewarisi lempengan-lempengan itu ketika ayahnya meninggal, bersama keluarganya mengungsi ke sebuah hutan ketika tentara Sekutu mulai menghujani daerah itu dengan bom secara gencar. Ia meninggalkan sembilanpuluh lembar lempengan itu tersembunyi di dalam tiga buah peti bahan bangunan di perusahaannya di Grunstadt, Jerman.
1945 – Tentara Amerika menduduki rumah Weber dan tempat perusahaannya di bidang bahan bangunan.
1969 – Amos Hoover mengunjungi Palatinate untuk mencari lempengan-lempengan yang hilang itu. Namun ia tidak menemukan jejaknya.
1875 – Hans Weber, Jr., pemilik lempengan-lempengan itu mati. Sebuah peti berisi tigapuluh lempengan diselamatkan ketika para pekerja membersihkan gudang di perusahaan keluarga tersebut. Setiap lempengan itu dibungkus dengan kertas koran dan ditutupi dengan batu bata dan keramik. Anak-anak Weber menawarkan lempengan-lempengan itu kepada seorang pendeta Menonit yang tinggal berdekatan, yang pernah memberitahu mereka tentang pencarian yang dilakukan oleh Hoover sebelumnya. Hoovers menuliskan “sudah kehendak Tuhan” pada suratnya yang meeberitakan, bahwa lempengan-lempengan tersebut dapat dibeli.
1977 – Setelah melakukan tawar-menawar selama dua tahun, Amos Hoover membeli tujuh lempengan dari Thomas Weber, anak laki-laki almarhum Hans Weber. Entah bagaimana , duapuluh tiga lembar lempengan lainnya terlepas dari genggamannya ke dalam tangan seorang kolektor barang seni yang bernama Lamberts di Rhineland. Sementara tetap mempertahankan dua lembar lempengan, Hoover menjual lima lembar lainnya kepada orang-orang atau lembaga-lembaga yang tertarik. Hoover mendorong Robert Kreider, dari North Newton, Kansas, agar ia melanjutkan usahanya untuk mengamankan duapuluh tiga lembar lempengan lainnya. Usaha pencarian ini tidak berhasil.
1988 – Thomas Weber memberitahu Amos Hoover bahwa kolektor barang seni tersebut telah mati dan lempengan-lempengan itu dijual kembali. Keluarga Weber tidak tertarik untuk membeli kembali lempengan-lempengan itu. Hoover menelepon Kreider. Kemudian ditindaklanjuti dengan surat, telegram, telepon serta kunjungan, dan memalui itu semua, terjadilah serangkaian tawar-menawar yang berlangsung lamban. John Oyer dari Goshen, Indiana bergabung dalam kelompok itu, diikuti segera oleh Gary Waltner dari Weierhof, Jerman, dan Willy Hege dari Altkirch, Perancis.
1989 – Duapuluh tiga lembar lempengan itu berhasil dibeli di Grunstadt atas nama para pendukung Menonit. Dulu pernah ada 104 lembar lempengan tembaga karya Luyken, tetapi sekarang hanya tinggal tigapuluh lembar saja. Sekarang dimanakah tujuhpuluh empat lembar lainnya? Apakah sudah dijual sebagai besi tua di masa perang? Ataukah terlupakan di atas suatu rak di loteng rumah? Apakah menjadi benda-benda yang tidak dikenal di gudang museum? Ataukah dibuang di tempat pembuangan sampah kota? Apakah diambil sebagai cinderamata oleh tentara pendudukan?
Tigapuluh lembar lempengan masih bertahan selama perang, perampokan dan tidak diabaikan sebagai pembawa kenangan para martir nun jauh di masa lalu, tetapi tetap hidup hingga kini.
Catatan – catatan Akhir
Catatan Akhir untuk halaman 20-75
Untuk singkatan-singkatan, silahkan anda melihat Daftar Kepustakaan mengenai kutipan selengkapnya atas karyanya.
XIVth and Xvth Centuries (London: Edward Arnold, 1948), passim, mempunyai ilustrasi yang sangat baik mengenai praktik ini. Van Braght tidak menyebutkan pesta atau perjamuan makan sebelum hukuman mati dilaksanakan. Namun ia mempunyai banyak sekali cerita lisan mengenai pertemuan- pertemuan terakhir antara korban dengan imam yang berkuasa atau pejabat tinggi pemerintah daerah - kesempatan bagi kaum Anabaptis untuk memperingatkan akan upah ilahi yang akan diterima pada masa yang akan datang, misalnya. Banyak peristiwa ini dapat digambarkan secara visual sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, tidak perlu di tempat pelaksanaan hukuman mati, tetapi pada suatu pertemuan sebelumnya, dimana orang- orang merasa lebih santai membahas ketidakbersalahan korban atau penghakiman oleh Allah. Hazenpoet ditangkap dan dibunuh pada tahun 1557, bukan 1556 seperti yang tercantum pada catatan Van Braght.
Embarrassment of Riches (Berkeley: University of California Press, 1988), 617, melaporkan bahwa pada abad ketujuh belas uang sebesar 200 guilder merupakan gaji tahunan seorang pendeta Gereja Reformed.
“Saudara-saudaraku, pria dan wanita, selamat tinggal, semua! Sekarang haruslah berpisah kita, sampai berjumpa pula di luar angkasa, dengan Kristus sebagai Kepala kita satu-satunya: Untuk ini, kalian sendiri harus bersiap sedia, dan kalian akan kunantikan disana.”
Schuttarye, Gilden en Regeering … (Amsterdam: Yntema en Tieboel, 1760-[1794]), 1.321.
Veelderhandle Liedekens.
Leynes lain di dalam daftar, yang mungkin sanak saudaranya: Lievin pada 1534, Merelbek pada 1551, dan Jan tanpa tanggal.
Balanda Selatan untuk payudara.
hukuman mati mengeluarkan pucuk-pucuk daun hijau, bersama dengan sebuah puisi yang menjelaskan peristiwa itu. Kisah penjatuhan hukuman mati atas van Beckum diceritakan kembali oleh Ludwig Rabus. Padahal, sebagai seorang penganut aliran Lutheran biasanya ia tidak mau menceritakan tentang para martir Anabaptis.
barang apapun. Mereka memberlakukannya pada tahun 1529 di Moravia, dan melaksanakannya dengan lebih mantap lagi pada tahun 1533 dibawah pimpinan Jacob Hutter yang namanya dijadikan dasar nama kelompok mereka itu. Moravia pada abad ke-16 merupakan suatu tempat perlindungan yang langka, yang memungkinkan kaum Anabaptis hidup bersama dalam satu masyarakat komunal. Kelompok Hutterian mengajak kelompok Anabaptis lainnya untuk bergabung, termasuk mereka yang disebut Swiss Brethren, mendiskusikan suatu kehidupan yang lebih unggul berdasarkan Alkitab dalam hal kepemilikan bersama dan dalam hal penerapan disiplin yang lebih ketat di kalangan semua anggotanya. Kini ada kira-kira 25.000 orang keturunan Hutterian di kalangan penduduk koloni Moravia yang mula-mula hidup di Amerika Utara.
“saudara perempuanku di dalam Tuhan,” yaitu isterinya. Lihat Die Lieder, 551-611, untuk mendapatkan lagu-lagu pujian karagan Schmidt yang masih tetap dinyanyikan hingga sekarang, yang terdiri atas 112 bait.
memaksa para penjaga agar menangkap tahanannya itu. Lihat Leroy Beachy, “Unser Leit,” The Budget (Sugarcreek, Ohio), 16 Nov. 1988, hal.10, mengenai ceritanya yang menarik tentang Dirk dari penduduk Asperen pada musim panas, 1989. Pada bulan Mei 1990, John dan Carol Oyer mengumpulkan rincian informasi tambahan dari pendeta Gereja Reformed di Asperen dan juga dari seorang ahli sejarah regional kota itu. Orang yang disebutkan terakhir itu, yaitu Jan van Leerdam, telah mencari-cari di antara berbagai catatan arsip dan menemukan informasi baru yang tidak dimanfaatkan van Braght. Van Leerdam segera menyebarkan cerita tersebut di kalangan orang-orang Belanda di daerahnya, antara lain disebabkan karena ia merasa ngeri terhadap kekukasaan untuk membunuh orang-orang pada abad ke-16 yang disebabkan hanya oleh alasan keagamaan saja. Di banyak pedesaan orang-orang Spanyol membunuhi para pejuan Belanda yang menolak pemerintahan mereka. Jarang mereka membunuh hanya karena masalah keagamaan. Van Braght menemukan transkip buatan seorang ahli arsip pada tahun 1606 mengenai hukuman pengadilan itu. Ia juga melaporkan tentang cerita-cerita lisan mengenai kesakitan yang berlebihan yang ditimbulkan oleh algojo-algojo yang bekerja serampangan. Cerita itu telah menarik perhatian daerah-daerah lain; misalnya, lihat H. Tollens Czn., Nieuwe Gedichten, pada sebuah puisi. Juga lihat ten Cate, I, 78.
Theologie, XXXIII (1863), 3-166; XXXIV (1864), 483-673; XXXVIII (1868), 475-591. Juga ten Cate, I, 42. Baru-baru ini sebuah novel ditulis mengenai kehidupannya; M.van der Seal, Anneke Jane.: Historische verbaal uit den eersten tijd der bervorming (Urk: de Vuurtoren, 1976).
Spanyol. Neeltgen, seorang wanita berumur 75 tahun dan ibu dari Trijntgen, salah seorang dari empat orang tersebut, tidak disiksa dengan merentangkan anggota tubuhnya karena umurnya sudah sangat lanjut. Tiga buah lagu rohani yang menyebutkan peristiwa-peristiwa ini ditulis di dalam buku-buku nyanyian pujian kaum Anabaptis yang paling langka, Ein schon gesangbuchlein.
terlepas, sehingga ia harus diusung ke tempat tidurnya setelah penyiksaan. Van Braght menemukan banyak surat dari para tahanan untuk isteri-isteri dan teman-teman mereka. Namun hanya sedikit di antaranya yang menceritakan tentang penyiksaan itu dengan terperinci, atau mengisi surat mereka dengan kegembiraan yang luar biasa. MM, 705.
Mecenseffy, ed., Osterreich, I. Teil, Quellen zur Geschichte der Taufer, XI (Gutersloh: Gerd Mohn, 1964); Die Lieder, 89-115; Joseph Beck. Die Geschichts-Bucher der Wiederetaufer in Osterreich-Ungarn (Vienna, 1883; cetakan ulang, Nieuwkoop; de Graaf, 1967), 654.
Gerd Mohn, 1972), 20-24. Lihat juga Paul Dedic, “Lang von Wellenberg, Matthaus,” ME, III, 286-87.
di dalam arsip-arsip keuskupan agung Salzburg.
hukuman dan kematian, tetapi tidak berhasil menemukan rincian tentang bagaimana hukuman mati itu dilaksanakan.
sekitarnya, atau dari daerah-daerah yang jauh, selama berbulan-bulan. Di dalam sidang-sidang pengadilan orang-orang tahanan yang dari luar kota itu tidak dapat menyebutkan nama orang-orang yang memberi tumpangan kepada mereka, tetapi hanya menunjukkan di mana mereka tinggal. Mereka juga tidak dapat menyebutkan nama para pengrajin itu – penjahit pakaian wanita, tukang sepatu, dsb. - yang mempekerjakan mereka selama berbulan-bulan terus menerus. Mereka hanya dapat menandai hasil pekerjaan tangan dan tempat tinggal mereka.
Review, LXI (1987), 46-57.
ini menjadi bagian dari Amsterdam.
terdapat pada catatan tersebut; Dissenbeke adalah daerah tempat tinggalnya. Suaminya bekerja disana sebagai seorang tukang batu. Ia dihukum mati, bersama tiga orang wanita lainnya, pada tanggal 6 Oktober 1573. Van der Zijpp, “Maeyken Wens”, ME, III, 439-40; Cramer, dalam “Doopsgezinde Bijdragen, 1898, hal. 114; 1899, hal.104, 108, 121; 1904, hal. 115-33 (terutama hal.127). Lihat juga van der Haeghen, II, No. 841.
tiran yang agung; Periksalah sudah matang atau masih mentah, yang anda anggap daging yang lebih baik.”
lainnya yang udah tidak ada lagi. (1) Ausbund, lagu No. 61; empat lagu pujian kaum Hutterite dalam Die Lieder, 48-59; Gustav Bossert, “Gmund, Schwabisch”, ME, II, 528-30; MM II, 433-34. Van Braght mengutip suatu sumber yang tidak menyebutkan nama penulisnya, sumber yang melaporkan dari sudut pandang Anabaptis, tetapi sangat mirip dengan kisah lisan zaman dulu yang ditulis kembali di kemudian hari.. Van Braght mencatat tujuh orang yang dihukum mati pada tahun 1529, tetapi catatan pengadialan yang digunakan oleh Bossert dalam artikel ME-nya menunjukkan tanggal hukuman mati itu jatuh pada 7 Desember 1528. Ausbund percaya bahwa tujuh orang yang dihukum mati itu laki-laki semua. Catatan pengadilan yang diperoleh Bossert menunjukkan, bahwa salah seorang diantaranya adalah seorang wanita.
ditulis oleh Hans Muller atau Jeremias Mangold untuk kaum Menonit Belanda. Van Braght secara luas menggunakan materi ini. Sejak tahun 1742 laporan ini telah dicetak ulang dalam setiap Ausbund edisi Amerika Utara.
Perancis), memasukkan Arnold dalam buku-buku martir, orang yang disebut terakhir ini dianggap sebagai anggota kaum Waldenses. Kaum Humiliati kemudian menjadi ordo semi biarawan. Arnold tidak mempunyai hubungan resmi dengan para pendahulu mereka, tetapi beberapa ahli sejarah gereja menghubungkannya dengan mereka.
Paus biasanya menemukan para penyelidik mereka dari kalangan ordo ini, sehingga padri-padrinya kadang-kadang dijuluki “anjing-anjing Tuhan” (dalam bahasa Latin disebut domini cones) dan digambarkan oleh seniman-seniman pada zaman mereka sebagai anjing-anjing pemburu putih berbintik-bintik hitam, karena pada waktu-waktu tertentu mereka mengenakan jubah putih yang ditutupi mantel-mantel hitam.
menganggap kaum Waldenses lebih dekat pada gereja sejarah yang lebih murni dan benar daripada kaum Cathari, meskipun ia menghormati kaum Cathari karena moralnya lebih baik daripada Gereja Katolik Roma. Menurut ahli-ahli serjarah kaum Waldense, seperti Comba, sudah lama meyakini, bahwa kaum Waldenses telah diusir dari daerah-daerah Perancis Selatan dan mendiami daerah pegunungan di Italia Barat Laut (saat itu bernama Piedmont). Van Braght tetap bersikeras terhadap sekelompok korban yang terdiri atas 200 orang pada tahun 1243 yang membuat orang yakin bahwa mereka adalah 200 orang Cathari dari Montsegur, hubungan ini dilaporkan oleh Enea Balmas pada tahun 1975. Lihat Emilio Comba, History of the Wsldensians of Italy (terj. Bah. Ingg.: London, 1889); Amedeo Molnat, Storia dei Valdesi, 3 jilid. (Toriono: Claudiana, 1974); Tanpa nama pengarang, Staria delle persecuzioni e guerre contro il popolo chiamato valdese …, ed. dan terj.(dari bahasa Perancis) oleh Enea Balmas (Torino:Claudiana, 1975), Adriaen Haemstede, ahli kemartiran kaum Reformed Belanda, memasukkan 200 orang korban itu ke dalam bukunyamengenai para martir, dan menyebut mereka kaum Albigenses, bukan Waldenses; rupa-rupanya van Braght mengabaikan bukti itu.
Catatan-catatan tersebut pada umumnya menunjukkan permusuhan dengan kaum itu, karena itu tidak sepenuhnya dapat dipercaya. Asal muasal kaum Waldenses dari kelompok-kelompok sebelumnya, Humiliati atau Patarini atau lain-lainnya – serta adanya kemungkinan keterkaitannyaa dengan Cathari yang jelas bidat menurut pernilaian para ahli sejarah - hanya merupakan perkiraan saja. Hubungannya dengan Waldo agaknya lebih jelas. Penyiksaan yang terjadi kemudian sangat banyak jumlahnya, sehingga hal-hal yang lebih terperinci tentang para korbannya pada umumnya hilang. Saya tidak mendapatkan keterangan mengenai Dulcinus dan Margaret, atau tentang kaum Waldenses di Novara, menurut standar sejarah yang terakhir kaum Waldenses: Amedeo Molnar, Storia dei Valdesi, I (Torino: Claudiana, 1974); Jean Gonnet dan Amedeo Molnat, Les Vaudois au moyen age (Torino: Claudiana, [1974]). Tidak satu pun dari pengarang-pengarang itu berusaha menyingkap seluruh penyiksaan itu. Van Braght dan beberapa orang Menonit lain di jamannya percaya bahwa kaum Waldenses bukanlah merupakan pendahulu tetapi yang mendirikan gerakan Anabaptis.
abad keenam belas, Friedrich Roth, ed. Die Chronik von Clemens Sender, Die Chroniken der deutschen Stadte vom 14, bis ins 16, Jahrhundert, XXIII (Leipzig: Hirzel, 1894), 159, Gustav Uhlhorn, Urbanus Rhegius (Elberfeld, 1861), 62, menggunakan Sender dan juga notulen dari dewan kota untuk mencatat data yang sama. Van Braght mengikuti laporan-laporan martir yang sebelumnya dalam menggunakan nama-nama Hans Koch dan Leonhard Meister untuk menyebut Kager dan Speyset. Meister adalah istilah bahasa Jerman untuk “master”, misalnya sebagai contoh: “master weaver”, yaitu seorang pemintal benang yang telah lulus tahapan-tahapan sebagai orang yang magang dan pendamping, akhirnya ia menghasilkan pekerjaannya yang canggih yang dapat diterima oleh serikta sekerja dan karena itu, ia diberi ijin untuk membuat dan memasarkan barang-barang rajutan. Neff, “Koch, Hans,” ME, III, 210, memutuskan dengan alasan yang tidak diterangkan, bahwa Kagen bukan nama yang tepat bagi Koch; Hege, “Karger, Hans,” ME, III, 135, lebih suka menggunakan nama tokoh yang disebutkan pertama itu dengan akhiran “r” daripada huruf “n”, tetapi ia tidak menyamakan orang itu sebagai Koch. Saya lebih memilih laporan yang sebelumnya.
akan terjadi pada waktunya, seperti yang terjadi pada Cyprianus sendiri. Penulis-penulis Kristen Eusebius yang di kemudian hari menjadi uskup Kaisare, dan Lactantius, keduanya adalah saksi mata dari beberapa peristiwa yang lebih mengerikan, telah memberi kita keterangan yang sangat jelas. Walaupun dibesar-besarkan, para ahli sejarah mendapatkan keterangan mereka dapat dipercaya sebab kekejaman pemerintah Roma pada umumnya sudah diketahui secara umum. Eusebius, History of the Church from Christ to Constantinus, terj. G.A. Williamson (Baltimore: Penguin Books, 1965); Lactantius, De mortibus persecutorum (On the Deaths of the Persecutors), dalam Lactantius, The Minor Works, terj. Sister Mary Francis McDonald, The Farher of the Church, LIV (Washington, D.C.: Catholic University of America Press, 1965), 119-203. Lihat juga Philip Schaff, History of the Christian Church (rev.ed.: New York).
Catatan akhir untuk halaman 80-82
-
Irvin B. Horst, “Jan Luyken: Devout Poet and Printmaker,” Eastern Mennonite College Bulletin, February, 1976, hal.3
-
Dick Coster, “Joannes Luyken,” De Stem, 1927, hal. 645, disebutkan oleh Horst, ibid., hal.3.
-
ibid, hal. 6.
-
Dalam sebuah edisi selanjutnya, bekerjasama dengan anaknya, Casper, Luyken menambahkan sebelas karya cetak mengenai para martir yang lebih mutahir. Ini merupakan karya seni etsa yang bermutu lebih rendah.
-
Horse, hal. 4.
Catatan akhir untuk halaman 83-84
-
Halaman **, r., v., 1660 edit.: hal. 19 dari edisi berbahasa Inggris.
-
Van der Haeghen, 49; lihat juga H. Westra, N. van der Zijpp, “Braght, Tieleman Jansz van,” ME, I, 400-01.
-
De Schole der zedelijcken Deught, geopent voor de Kinderen der Christenen (n.p., 1657).
-
Een-en-vyftigh Predicatien, over verscheyde Schrifiuer – plaetsen … (Amsterdam, Jan Rieuwertsz, 1670).
-
Hans de Ries et al., Historie der Martelaers afie waerachtige Getuygen Jesu Christi … (Haarlem: Daniel Keyset, 1615). Van Braght menyebutkan buku ini sebagai “buku tua.”
-
Lihat penilaian yang seksama atas kepakaran van Braght, S[amuel] Cramer, “Die Geloofwaardigheid van van Braght,” Doopsgezinde Bijdragen (1899), 65-164.
Catatan akhir untuk halaman 85-87
- Amos B. Hoover, “Jan Lyken’s Lost Martyrs Mirror Engravings, “Pennsylvania Mennonite Haritage I (Januari, 1978), 2-5. Surat-menyurat milik Robert S. Kreider dan John S. Oyer.
Daftar Kepustakaan
Ausbund, Das ist: Etliche schone Chrisliche Lieder, wie sie in dem Gefangis zu Passau in dem Schloss von den Schweizer-Brudern … gedichtet worden. (n.p., 1564; Lancaster Country, Pa.: Amish Congregations, 1984).
Thieleman J. van Braght, The Bloody Theater or Martyrs Mirror of the Defenseless Christians, terjemahan Joseph F. Sohm (Scottdale, Pa.: Mennonite Publishing House, 1984). Disebut sebagai MM.
Steven Blaupot ten Cate. Geschiedenis der Doopsgezinden, in Holland, Zeeland, Utrecht en Gelderland (Amsterdam: van Kampen, 1847).
The Chronicle of the Hutterian Brethern I, terjemahan dan penyuntingan oleh: the Hutterian Brethern (Rifton, New York: Plough Publishing House, 1987).
Jean Crespin, Le livre des martyrs (Geneve: Crespin, 1554). Dikembangkan sebagai Histoire des martyrs persecutez et mis mort pour la verite de l’Euangile ([Geneve: Eustace Vignon], 1582). Edisi tahun 1619 dicetak dalam 3 jilid. (Toulouse: A Chauvin, 1885-89). French Reformed.
John Foxe, Actes and Menuments of the Letter and Perillous Dayes … (edisi kedua: London, 1570), Anglican. Het Offer des Heeren, edisi 1570, Samuel Cramer, ed., Bibliotheca Reformatoria Neerlandica, II (The Hague: Nijhoff, 1904).
Greta Grosheide, Bijdrage tot de Geschiedenis der Anabaptisten in Amsterdam (Hilversum: J. Schippen Jr., 1938). Ferdinand van der Haeghen, et al., Bibliographie des martyrologes protestant Neerlandais, 2 jilid. (The Hague: Nijhoff, 1890).
Andriaan van Haemstede, Historien oft Gheschiedenissen der vromer Martelaren (n.p., 1559). Direvisi dan diperluas oleh Joannes Gysius, sebagai De Historie der Martelaren … (Amsterdam: Weduwe van Schipper, 1671: cetak ulang, Utrecht: Hertog, 1980). Dutch Reformed.
W.J.Kuhler, Geshiedenis der Nederlandsche Doopsgezinden in den 16e Eeuw, 2 jilid (Haarlem: Tjeenk Willink, 1932-1950).
Die Lieder der Hutterischen Bruder (Scttdale, Pa., 1914; cetak ulang: Winnipeg, Man., 1953; Cayley, Alta., 1962, 1974).
The Mennonite Encyclopedia, ed. Harold S. Bender et al., 4 jilid. (Scottdale, Pa., and Newton, Kans.: Mennonite Publishing House dan Mennonite Publication Office, 1955-1959). Disebut sebagai ME.
Ludwig Rabus, Historien, der heiligen ausserwolten Gottes Zeugen, Bekennern, vnd Martyrern, so zum theyl … ersten Kirchen … zum theyl aber zu disen vnsern letsten zeytten … (Strassburg: B. Beck Erben, 1552-56). Lutheran.
Ein shon gesangbuchlein Geistlicher lieder, zusamen getragen Auss dem Alten und Newen Testament Durch frome Christen und liebhaber Gottes … (n.p. [barangkali Rhineland, n.d. 1563-65])
Veelderhande Liedekens, ghemaeckt wt den Ouden ende Nieuwen Testamente (n.p., 1569).
A.L.E. Verheyden, Anabaptism in Flanders, 1530-1650 (Scottdale, Pa.: Herald Press, 1961).
Buku-buku Lain yang Disarankan untuk Dibaca
Myron S. Augsburger, Faithful Unto Death: Fifteen Young People Who were not Afraid to Die for their Faith (Waco, Texas: Word Books, 1978).
Victor G. Doerksen, “The Anabaptist Martyr Ballad, “ Mennonite Quarterly Review, LI (1977), 5-21.
The Drama of Martyrs, Intro. Jan Gleysteen (lancaster, Pa.,: Mennonite Historical Associates, 1975).
Cornelius J. Dyck, “ The Suffering Church in Anabaptistm,” MQR, LIX (1985), 5-23.
Dave and Neta Jackson, On Fire for Christ. Stories of Anabaptist Martyrs Retold from Martyrs Mirror (Scottdale, Pa. Dan Kitchener, Ont.: Herald Press, 1989).
Alan Kreider, “ ‘The Servant is Not Greater than His Master’: The Anabaptists and the Suffering Church,” MQR, LVIII (1984), 5-29.
Jan Luiken: Printmaker, 1649-1712, Eastern Mennonite Collage Bulletin, Februari, 1976.
James W. Lowry, In the Whale’s Belly and Other Martyr Stories (Harrisonburg, Va.: Christian Light Publication, 1981).
“ A Martyrs’ Mirror Digest,” Mennonite Life, XXII (April 1967).
“ The Martyrs Mirror: Some Esseys,” Mennonite Life, XLV (September 1990).
Gerald C. Studer, “History of the Martyrs’ Mirror,” MQR, XXII (1948), 163-79.
A. Orley Swartzentruber, “The Piety and Theology of the Anabaptist Martyrs in van Braght’s Martyrs’ Mirror, MQR, XXVIII (1954), 5-26, 128-42.
Para Pengarang
John S. Oyer mengajar mata kuliah Sejarah Eropah dan Menonit di Goshen Collage, Goshen Indiana, sejak tahun
- Dia menyelesaikan studi kepascasarjanaannya di Harward University, Universitas Chicago (dengan gelar Ph.D.) dan di Heidelburg University. Pada tahun 1964 dia mengarang Lutheran Reformers Against Anabaptists (The Hague : Nijhoff). Sejak tahun 1966 dia telah menyunting the Mennonite Quarterly Review, sebuah jurnal “Sejarah Anabaptis/ Menonit.
Untuk kegiatan risetnya, dia dan isterinya, Carol (Schertz), dan empat anak mereka telah hidup lebih lama di Jerman, Austria dan Switzerland. Sejak tahun 1949 dia dan isterinya menjadi warga jemaat College Mennonite Church, Goshen, Indiana. Robert S. Kreider adalah seorang pendidik (Ph.D., dari University of Chicago). Dia telah mengajar mata kuliah Sejarah dan Perdamaian sebagai dosen di Bluffton (Ohio) College dan Bethel Collage, North Newton, Kansas. Dia telah melayani sebagai dekan akademi dan rektor. Kreider seringkali melanglang dunia melaksanakan tugas-tugas yang dipercayakan oleh Mennonite Central Committee, Mennonite World Conference dan China Education Exchange. Akhir-akhir ini dia pensiun sebagai Profesor pada Peace Studies dan Director of The Kansas Institute for Peace and Conflict Resolution. Di antara karya tulisnya dia menyunting The Anabaptist-Mennonite Time Line (Faith and Life Press, 1986).
Kreider dan isterinya, Lois, tinggal di North Newton, Kansas, dan menjadi warga jemaat Faith Mennonite Church. Mereka dikaruniai lima orang anak.
Kisah-kisah ini mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sukar
-
Apakah pengajaran untuk mengasihi musuh merupakan nasihat yang praktis?
-
Mengapa orang-orang yang baik menganiaya dan membunuh orang-orang yang baik?
-
Mengapa mereka yang kuat takut terhadap orang-orang yang lemah?
-
Mengapa orang-orang yang baik menentang orang-orang baik yang mengupayakan kebaikan bersama?
-
Apakah seseorang mempunyai hak untuk memperlakukan tubuh orang lain sebagai ciptaan Allah dengan seenaknya?
-
Mengapa pemerintahan yang modern terus melanjutkan usaha penganiayaan dan pembunuhan?
-
Apakah hukuman mati dapat mencegah/menangkal calon kriminal?
-
Kepercayaan-kepercayaan apa yang berharga sehingga pemeluknya bersedia mati untuknya?
-
1 Hoog, 192. Johan Huizinga, The Waning of the Middle Ages: A Study of the Forms of Life, Thought and Art in France and Nedherlands in the ↩
-
2 P. C. G. Guyot, Bijdragen tot de Geschiedenis der Doopsgezinde te Nijmegen (Nijmegen: Vieweg, 1845), 19-23. Simon Schama, The ↩
-
3 “Oorlof aen Broeders en Sisters gemeen” (“Selamat jalan bagi Saudara-saudara sekalian”/ Farewell to All Brothers and Sisters), MM,560. ↩
-
4 Sumber informasi kami satu-satunya tentang Kramer adalah van Braght. Ia tidak dapat menemukan catatan pengadilan yang resmi. ↩
-
5 Jan Wagenaar, Amsterdam in zyne Opkomst, Aanwas, Geschiedenissen, Voorregten, Koophandel, Gebouwen, Kerkenstaat, Schoolen, ↩
-
6 P. Sijbolts, “De Doopsgezinden te Middelburg in de 16de eeuw,” Doopsgezinde Bijdragen, 1908, hal. 51; Grosheide, 183-84. ↩
-
7 Sebuah lagu pujian yang ditulis mengenai dirinya, “Ick moet u nu gaen verclaren, Watter t’Amsterdam is geschiet,” dan diterbitkan dalam ↩
-
8 “Ghy Christen al te samen,” Het Offer, 534. ↩
-
9 A. L. E. Verheyden, Het Gentsche Martyrologium (1530-1595) (Brugge: De Tempel, 1946), 20-21, yang mencantumkan nama van der ↩
-
10 Van der Haeghen, I, xv. ↩
-
11 Bukan usus, seperti yang tercantum pada kerajinan seni cetak Luyken. Istilah yang dipergunakan dalam sumber, bust, adalah istilah dalam ↩
-
12 Perpecahan keluarga secara tajam diceritakan dengan sangat jelas dalam buku Ausbund, Lagu no.17. ↩
-
13 Zurich Zentralbibliothek memiliki surat selebaran dari kalangan non-Menonit yang menggambarkan tonggak untuk mengikat korban ↩
-
14 Hutterian Brethren mempraktikkan kepemilikan bersama atas barang-barang. Mereka tidak mengizinkan seorang anggota pun memiliki ↩
-
15 Lihat The Chronicle, 354-63, untuk mendapatkan banyak yang sekecil-kecilnya dari surat-suratnya, yang sebagian besar dialamatkan kepada ↩
-
16 Pemburu Dirk bertindak dengan kekuasaannya sendiri. Tidak ada walikota atau orang lain yang berdiri di pinggiran danau kecil itu untuk ↩
-
18 Penyiksaan terhadap empat orang ini sangat brutal, tanpa alasan khusus. Bangsa Belanda menganggapnya sebagai kekejaman bangsa ↩
-
19 MM, 705. ↩
-
20 Rupanya algojo menarik tembang terlalu kuat, sehingga dua pilinan dari tambang itu putus. Persendian-persendian Janssen hampir semua ↩
-
21 Ibid., 707. ↩
-
22 Aldo Stella, Anabattismo e antitrinitarismo in Italia nel XVI secolo: Nuave ricerche storiche (Padova: Liviana, 1969) 258-68; Grete ↩
-
24 Riset kami sendiri menunjukkan bahwa Mecenseffy tidak menemukan atau menerbitkan semua catatan yang ada mengenai kaum Anabaptis ↩
-
25 Kami hanya memiliki cerita yang ditulis oleh van Braght, yang berhasil mengungkapkan dan mencetak laporan resmi dewan kota tentang ↩
-
26 Augsburg adalah kota yang dihuni kaum Anabaptis, yang memberi tumpangan kepada anggota kelompok Anabaptis lain dari daerah ↩
-
27 Lihat Gary Waite, “Staying Alive: The Methods of Survival as Practiced by an Anabaptist Fugitive, David Joris”, Menonite Quarterly ↩
-
28 Durgerdam adalah sebuah desa kecil di pinggiran kota Amsterdam, yang disebut juga Doornickendam pada abad keenam belas. Kini desa ↩
-
29 Grosheide, 180, menggunakan catatan dari arsip-arsip Amsterdam tersebut. ↩
-
31 Beberapa sarjana menyangkal keberadaan Maeyken Wens. Samuel Cramer menandainya sebagai Maeyken Dissenbeke, yang namanya ↩
-
32 Beck, 151. ↩
-
33 “Assum est, versa et manduca”, yang diterjemahkan oleh John Foxe, I, 93: “Tubuhku yang sebelah sini sudah cukup matang, baliklah oh, ↩
-
34 Untuk laporan ini seseorang memerlukan data agar seimbang dari empat sumber, yang beberapa bagiannya menggunakan data dari sumber ↩
-
35 Laporan yang terlengkap adalah Ein wahrhaftiger Bericht von den Brudern im SchweitzerLand, in dem Zucher Gebiet (1645), barangkali ↩
-
36 Laporan yang selengkapnya adalah Cornelius Bergmann, Die Tduferbewegung in Kanton Zirich (Leipzig: Heinsius Nachhf. 1916) ↩
-
37 Ludwig Rabus (seorang Lutheran), Adriaen Haemstede (seorang Reformed Belanda) dan Jean Crespin (warga jemaat gereja Reformed ↩
-
38 Kaum Dominikan adalah ordo biarawan yang didirikan oleh Dominic pada tahun 1218, dan diberi nama Ordo Kaum Pengkhotbah. Para ↩
-
39 Van Braght membaca tulisan para ahli sejarah di masa hidupnya yang menganggap kaum Cathari kemungkinan besar adalah kaum Waldenses. Ia ↩
-
40 Foxw, I, 869, 871-72. ↩
-
41 Asal mula kaum Waldenses tersimpan dalam misteri karena hanya sedikit saja catatan yang dapat diselamatkan pada tahun-tahun awal. ↩
-
42 Laporan ini diambil terutama dari catatan seorang dari kota Augsburg yang menjadi pencatat peristiwa-peristiwa yang terjadi pada awal ↩
-
43 The Chronicle, I, 54-55, Beck, 25-26. ↩
-
44 Rabus, II, 162 v. ↩
-
45 Banyak orang Kristen mengikuti nasihat para pemimpin seperti Cyprianus, yang menasihati mereka agar melarikan diri dari penyiksaan. Penyiksaan ↩