FONDASI IMAN KRISTEN

Author: Ranto Vaber Simamora

Semua orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus harus tahu bahwa satu-satunya dasar iman Kristen adalah Alkitab. Iman seorang Kristen tidak didasarkan pada hal lain, selain Alkitab. Kita akan melihat beberapa contoh hal -hal yang bukan fondasi dari iman Kristen.

1. Iman Kristen tidak berdiri di atas Konsili/rapat.

Konsili adalah musyawarah/rapat para pemuka gereja tertentu. Konsili hanya sebagai sebuah sidang yang mengumumkan apa yang dipercayai oleh sebuah kelompok gereja tertentu.

Ada tujuh konsili/rapat yang diadakan sebelum tahun 1000 Masehi : 1. Konsili Nikea (I) 325 M, 2. Konsili Konstantinopel (I) 381 , 3. Konsili Efesus 431 M, 4. Konsili kalsedon 451 M, 5. Konsili Konstantinopel (II) 553 M, 6. Konsili Konstantinopel (III) 680-681 M, 7. Konsili Nikea (II). Selain ketujuh konsili ini, ada banyak konsili-konsili lainnya yang diadakan oleh berbagai aliran gereja.

Tanpa Konsili, kebenaran firman Tuhan tetap sempurna. Justru dengan adanya konsili, kebenaran firman Tuhan banyak dipertanyakan, karena banyak umat lebih memilih percaya pada konsili dari pada apa kata Alkitab. Lalu, apakah tidak boleh rapat (konsili)? Tentu saja boleh untuk kalangan sendiri. Yang tidak boleh adalah menjadikan rapat (konsili) menjadi ukuran bagi gereja lokal yang lain.

2. Iman Kristen tidak berdiri di atas Pengakuan Iman (Kredo) gereja tertentu.

Pengakuan iman adalah Kredo. Para rasul tidak pernah membuat “pengakuan iman rasuli”. Pengakuan iman itu dibuat pada abad ke 4 masehi, empat ratus tahun setelah para rasul meninggal. Penulis “pengakuan iman rasuli” tidak diketahui tetapi dia sengaja mencatut nama para rasul. Mereka yang membuat judul tersebut ingin orang lain berpikir bahwa para rasul yang membuat “pengakuan iman rasuli”, tetapi faktanya para rasul tidak pernah membuat pengakuan iman tersebut.

Semua pengakuan iman yang dibuat oleh tiap-tiap gereja hanyalah sebagai kesepakatan bersama, agar satu suara dalam pengajaran. Pengakuan iman yang benar juga sebagai pembimbing dalam menghadapi pertentangan dengan ajaran lain. Pengakuan iman tidak boleh membelenggu kebenaran dalam Alkitab. Karena itu “Pengakuan iman” gereja mana pun bukanlah patokan kebenaran bagi semua orang Kristen lainnya.

3. Iman Kristen tidak berdiri di atas perkataan rohaniawan gereja tertentu.

Biasanya beberapa gereja menyebutnya sebagai “bapak-bapak gereja”, tapi penyebutan yang benar adalah rohaniawan gereja. Perkataan “rohaniawan gereja” banyak jadikan sebagai rujukan untuk membenarkan sebuah ajaran. Beberapa gereja tidak dapat berdiri tanpa perkataan mereka. Bagi mereka Alkitab tidak cukup sebagai dasar iman. Mereka perlu dasar iman yang lain seperti “perkataan rohaniawan gereja”.

Perkataan rohaniawan gereja harus dipandang sebagai masukan dan penambah pengetahuan tentang “sejarah pemikiran” dalam dunia Kristen, tidak boleh lebih dari itu. Karena perkataan rohaniawan gereja mana pun bukanlah patokan kebenaran.

4. Iman Kristen tidak berdiri di atas fenomena/kejadian tertentu.

Dalam “kekristenan” ada banyak fenomena/peristiwa yang katanya terjadi padahal tidak. Katanya Maria menampakkan diri di Lordes, katanya pendeta “A” berjalan di atas air, katanya Yesus menampakkan diri di atas awan, dll. Semua fenomena ini adalah cara si Iblis menipu manusia. Ada juga yang benar-benar terjadi tetapi bukan dari Tuhan, melainkan dari si iblis untuk memanipulasi manusia.

5. Iman Kristen tidak berdiri di atas pengalaman pribadi seseorang.

Si “A” bersaksi bahwa dia dibawa Tuhan 7 kali ke Sorga, si “B” berkata dia bertemu secara langsung dengan Lusifer, si “C” tidak mau kalah, berkata dia dibawa Tuhan ke Neraka. Si “D” bersaksi, Tuhan langsung berbicara kepadanya, bahwa kiamat akan terjadi 22 Oktober 1884. Si “E” (pemimpin gereja besar di dunia) bermimpi bahwa Tuhan berkata kepadanya Yesus akan datang, sebarkan informasi ini kepada beberapa orang, kalau tidak disebarkan akan mendapat celaka dan kalau disebarkan akan mendapat berkat dari Tuhan.

Kesaksian pengalaman pribadi ini, bukanlah ukuran kebenaran bagi orang percaya lainnya. Kesaksian seperti ini justru menjadi ajang penyesatan dibanyak gereja.

6. Iman Kristen tidak berdiri di atas buku-buku sejarah gereja tertentu.

Sejarah gereja tertentu hanyalah sebagai pengetahuan umum, untuk mengetahui sejarah pemikiran dan tokoh-tokoh dalam gereja. Sejarah gereja bukanlah dasar iman Kristen. Sejarah dapat ditulis ulang oleh para penguasa sesuai agenda mereka, dan banyak penulis sejarah gereja menulis sesuai dengan ajaran yang ia anut.

7. Iman Kristen tidak berdiri di atas “Tradisi suci” di luar Alkitab.

Tradisi suci yang benar adalah yang tertulis dalam Alkitab. Semua tradisi yang tidak tertulis dalam Alkitab bukanlah tradisi suci melainkan tradisi hasil karya rohaniawan gereja tertentu yang dilestarikan dari turun temurun.

Dasar iman orang percaya adalah Alkitab bukan tradisi gereja tertentu. Tidak ada keharusan cara beribadah atau cara berpakaian gereja tertentu menjadi ukuran bagi gereja lain. Iman Kristen bukan tentang tata cara ibadah dan cara berpakaian jemaat mula-mula tetapi tentang ajaran. Alkitab hanya memberikan syarat dalam sebuah jemaat harus “sopan dan teratur”. Semua suku bangsa boleh beribadah sesuai budaya mereka masing-masing dan tidak perlu harus mengikuti cara beribadah bangsa Yunani atau pun bangsa Yahudi.

8. Iman Kristen tidak berdiri di atas buku-buku apokrifa atau pun deuterokanonika.

Orang Yahudi adalah sebuah bangsa yang memiliki banyak tulisan, tetapi bangsa ini juga merupakan bangsa pendongeng. Ada 1001 cerita dongeng yang dikarang sebagai bahan ajar. Bangsa Yahudi juga banyak menulis tentang kisah-kisah kepahlawanan. Kisah-kisah ini ditulis menjadi sebuah buku. Buku-buku ini dikenal sebagai apokrifa (tersembunyi).

Ada beberapa aliran “Kristen” yang menambahkan apokrifa sebagai kitab mereka. Bangsa Yahudi sendiri tidak mengakui buku-buku sejarah (apokrifa) sebagai firman Tuhan. Kristen mula-mula hanya mengakui ke 66 kitab dalam Alkitab sebagai firman Tuhan.

9. Iman Kristen tidak berdiri di atas teologi tertentu.

Seorang teolog dapat menulis jurnal ilmiah atau sebuah buku teologi. Buku-buku teologi seperti buku teologi sistematik, teologi dogmatik, teologi biblika, hanyalah sebuah metode untuk memahami isi Alkitab secara urut atau tersistem.

Tentu saja kita boleh membaca semua buku-buku teologi tetapi semua itu bukanlah dasar iman kita. Buku-buku ini hanya alat untuk memahami bagian-bagian Alkitab. Karena sifatnya hanyalah sebuah “alat” maka tidak boleh dijadikan sebagai ukuran iman. Banyak sekali orang Kristen terutama mahasiswa teologi yang lebih percaya buku teologi dibanding Alkitab. Padahal di buku-buku teologilah berkumpul semua jenis pemikiran liar yang menolak Alkitab sebagai satu-satunya patokan kebenaran.

Fondasi Iman Kristen hanya Alkitab

Tuhan mengilhamkan Alkitab.

Tuhan tidak mengilhamkan semua hal yang kita sudah baca di atas, Tuhan hanya mengilhamkan Alkitab. Alkitab adalah firman Tuhan karena setiap huruf dan kata dalam Alkitab adalah ilham dari Roh Kudus. Tuhan memakai pribadi penulis untuk menulis Alkitab, tetapi mereka tidak bisa menambahkan pemikiran mereka saat menuliskan firman Tuhan.

Tuhan mengilhamkan firman-Nya (II Timotius 3:16) hanya di dalam ke-66 kitab dalam Alkitab. Di luar dari ke 66 kitab, itu bukanlah firman Tuhan.

Tuhan memelihara Alkitab.

Tuhan tidak bisa salah. Alkitab adalah firman Tuhan. Karena itu Alkitab tidak bisa salah. Tuhan memelihara Firman-Nya dari zaman Adam sampai sekarang ini dengan cara menyalin ulang Firman itu. Tuhan memakai orang-orang kudus-Nya untuk menyalin firman Tuhan dari wadah yang satu ke wadah yang lain. Dari batu ke kulit binatang, dari kulit binatang ke papyrus, dari papyrus ke kertas, dari kertas ke elektronik.

Wadah firman Tuhan silih berganti tetapi firman Tuhan kekal untuk selama-lamanya (Mazmur119:89). Tuhan tetap memelihara firman-Nya sampai saat ini.

Kepustakaan:

Bagaimana kita tahu bahwa Alkitab itu benar?

Ratusan buku telah ditulis mengenai bukti-bukti pengilhaman ilahi Alkitab, dan bukti-bukti ini sangat banyak dan bervariasi. Sayangnya, kebanyakan orang tidak pernah membaca satu buku pun mengenai topik ini. Bahkan, tidak banyak yang membaca Alkitab itu sendiri! Jadi, banyak orang terpengaruh oleh gambaran populer yang keliru bahwa Alkitab mengandung banyak kekeliruan dan tidak lagi bermanfaat bagi kehidupan modern kita.

Namun para penulis Alkitab berulangkali menyatakan bahwa mereka menyampaikan Firman Allah itu sendiri, yang sama sekali tidak mengandung kesalahan dan memiliki otoritas. Sangatlah menakjubkan jika seorang penulis mengatakan hal tersebut, dan jika 40 orang penulis Kitab Suci dengan keliru mengklaim hal tersebut, maka pastilah mereka semua berdusta atau tidak waras atau keduanya.

Namun di pihak lain, jika kitab yang teragung dan paling berpengaruh di sepanjang zaman, yang mengandung kesusastraan yang sangat indah dan tuntunan moral yang paling sempurna yang pernah disusun, ternyata ditulis oleh para penipu fanatik, maka harapan apa yang masih tersisa dalam usaha menemukan arti dan tujuan hidup di dunia ini?

Jika seseorang dengan sungguh-sungguh menyelidiki bukti-bukti alkitabiah ini, ia akan menemukan bahwa klaim pengilhaman ilahi tersebut (yang dinyatakan lebih dari 3.000 kali dengan berbagai cara) sangat bisa dibenarkan.

Nubuat Yang Digenapi

Bukti mengagumkan tentang nubuat yang digenapi hanyalah salah satunya. Ratusan nubuat di dalam Alkitab telah digenapi, secara spesifik dan mendetail, seringkali lama setelah penulis nubuat tersebut meninggal.

Contohnya, Daniel meramalkan pada tahun 538 SM (Daniel 9:24-27) bahwa Kristus akan datang sebagai Juru Selamat dan Raja Israel yang dijanjikan 483 tahun setelah Raja Persia mengijinkan orang-orang Yahudi membangun kembali Yerusalem, yang pada saat itu masih berupa reruntuhan. Nubuat ini, dengan jelas dan pasti, digenapi beberapa ratus tahun kemudian.

Banyak nubuat yang berkenaan dengan berbagai bangsa dan kota yang dengan berjalannya sejarah secara umum, digenapi semuanya secara literal. Lebih dari 300 nubuat digenapi oleh Kristus sendiri pada kedatangan-Nya yang pertama. Nubuat lain berhubungan dengan penyebaran kekristenan, agama-agama palsu, dan pokok-pokok lainnya.

Tidak ada kitab kuno maupun modern lain yang serupa dengan kitab ini. Nubuatan-nubuatan yang samar-samar dan biasanya keliru dari orang-orang seperti Jeanne Dixon, Nostradamus, Edgar Cayce, dan yang lainnya sama sekali tidak dapat dimasukkan dalam kategori yang sama, demikian pula kitab-kitab agama lainnya seperti Al-Quran, Ucapan-ucapan Khong Hu Cu dan tulisan-tulisan agama lainnya. Hanya Alkitab yang memperlihatkan bukti nubuatan yang mengagumkan ini, dan menunjukkannya dengan skala yang begitu luar biasa sehingga menjadikan semua penjelasan mengenai asal-usulnya terlihat absurd, kecuali penjelasan bahwa Kitab ini adalah penyataan ilahi.

Ketepatan Sains dan Sejarah Yang Unik

Ketepatan sejarah dalam Kitab Suci menempatkannya dalam kelas tersendiri, jauh lebih superior dibandingkan tulisan-tulisan Mesir, Asyur dan bangsa-bangsa kuno lainnya. Peneguhan arkeologi atas catatan Alkitab sepanjang abad 20 demikian banyaknya. Dr. Nelson Glueck, yang barangkali adalah ahli arkeologi Israel terbesar di jaman modern ini, mengatakan:

“Tidak ada penemuan arkeologi yang menyanggah suatu pernyataan Alkitab. Banyak penemuan arkeologi yang telah meneguhkan, baik secara garis besar maupun rinci, berbagai pernyataan sejarah di dalam Alkitab. Dengan cara serupa, tinjauan yang sesuai atas pernyataan Alkitab seringkali membawa pada penemuan yang mengagumkan.” Ketepatan Ilmiah Bukti penyataan ilahi yang mengagumkan lainnya diperlihatkan dalam banyaknya prinsip-prinsip ilmu pengetahuan modern yang dicatat sebagai fakta-fakta di dalam Alkitab jauh sebelum para ilmuwan meneguhkannya secara eksperimen. Beberapa hal diantaranya:

Tentu saja semua hal ini tidak diungkapkan dalam bahasa teknis ilmu pengetahuan modern, melainkan dalam ungkapan pengalaman hidup manusia sehari-hari. Namun demikian, semuanya sangat sesuai dengan fakta-fakta ilmu pengetahuan modern.

Penting dicatat bahwa tidak ada kekeliruan yang pernah ditunjukkan di dalam Alkitab, baik mengenai ilmu pengetahuan, sejarah atau pokok lainnya. Memang banyak kekeliruan yang sudah diklaim orang, namun para ahli Alkitab selalu mampu menyajikan penyelesaian yang masuk akal atas semua masalah yang muncul.

Struktur Yang Unik

Struktur Alkitab yang mengagumkan juga perlu ditekankan. Meskipun Alkitab merupakan kumpulan dari 66 buah kitab, yang ditulis oleh 40 penulis atau lebih dalam rentang waktu 2000 tahun, namun Alkitab tetap merupakan satu Kitab, yang memiliki kesatuan dan konsistensi sempurna di setiap bagiannya.

Para penulis Alkitab, pada saat menuliskan kitabnya, tidak memiliki bayangan bahwa pesan mereka pada akhirnya akan dikumpulkan menjadi sebuah Kitab seperti ini, namun demikian semuanya tersusun rapi dan menyampaikan tujuan uniknya sendiri sebagai sebuah komponen dari keseluruhannya. Setiap orang yang mempelajari Alkitab dengan sungguh-sungguh pada akhirnya akan menemukan pola struktur dan matematis yang mengagumkan yang terjalin di setiap bagiannya, dengan keterkaitan dan simetri yang tidak dapat dijelaskan sebagai sesuatu yang bersifat kebetulan belaka atau yang dengan sengaja disusun demikian.

Satu-satunya tema Alkitab yang secara konsisten dikembangkan dengan agung dari Kejadian sampai Wahyu adalah karya Allah yang besar dalam penciptaan dan penebusan segala sesuatu, melalui Anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus.

Efek Alkitab Yang Unik

Alkitab juga unik dalam hal pengaruh yang diberikannya kepada orang-orang dan kepada sejarah bangsa-bangsa. Kitab ini merupakan kitab yang paling laku sepanjang zaman, menarik bagi hati maupun pikiran, dicintai oleh setidaknya sebagian orang dari setiap ras atau bangsa atau suku bangsa yang pernah dibawakan kitab ini, kaya atau miskin, orang terpelajar atau sederhana, raja atau orang biasa, dan semua orang dari berbagai latar belakang dan garis kehidupan yang berbeda. Tidak ada kitab lain yang pernah mendapat sambutan universal atau yang pernah menghasilkan efek yang tak berkesudahan seperti itu.

Satu bukti terakhir bahwa Alkitab itu benar diperoleh melalui kesaksian mereka yang sudah mempercayainya. Banyak sekali orang, dahulu maupun sekarang, yang berdasarkan pengalaman pribadinya telah menemukan bahwa janji-janji yang ada di dalam Kitab itu benar, nasihatnya tepat, perintah dan larangannya bijaksana dan pesan keselamatannya yang indah memenuhi semua kebutuhan baik untuk hidup sekarang maupun hidup kekal.

Penulis: Henry Morris dan Martin Clark, diadaptasi dari buku mereka The Bible Has the Answer, diterbitkan oleh Master Books, 1987. Disampaikan oleh Films for Christ seizin Master Books. Diterjemahkan oleh: Tjia Djie Kian

Alasan Percaya Alkitab

  1. KEJUJURANNYA. Alkitab sungguh jujur. Alkitab memperlihatkan Yakub, bapak dari “bangsa pilihan,” sebagai seorang penipu. Alkitab juga menggambarkan Musa, sang pemberi Hukum Taurat, sebagai seorang pemimpin yang merasa tidak aman dan keras kepala, yang dalam usaha pertamanya untuk menolong bangsanya sendiri, membunuh seorang laki-laki dan kemudian lari menyelamatkan diri ke padang gurun. Alkitab menggambarkan Daud bukan hanya sebagai raja yang paling dikasihi, panglima perang, dan pemimpin rohani, tetapi juga sebagai orang yang mengambil isteri orang lain dan kemudian, untuk menutupi dosanya, bersekongkol untuk membunuh sang suami. Pada satu sisi, Kitab Suci pernah menilai bahwa umat Allah, bangsa Israel, begitu buruk sehingga Sodom dan Gomora tampak baik bila dibandingkan dengan mereka. {.Yeh 16:46-52} Alkitab memperlihatkan bahwa sifat alamiah manusia memusuhi Allah. Alkitab memprediksikan masa depan yang penuh dengan masalah. Alkitab mengajarkan bahwa jalan ke Surga sempit dan jalan ke Neraka lebar. Jelaslah, Kitab Suci ini tidak ditulis untuk mereka yang hanya menginginkan jawaban sederhana atau pandangan terhadap agama dan manusia yang ringan dan serba optimis.

  2. KETAHANANNYA. Ketika negara Israel yang modern muncul kembali setelah ribuan tahun orang Israel tercerai-berai, seorang gembala Beduin menemukan satu dari harta karun arkeologis yang paling penting di zaman ini. Dalam sebuah gua di tepi Barat Daya Laut Mati, di dalam sebuah buli-buli yang pecah ditemukan dokumen-dokumen yang telah disembunyikan selama dua ribu tahun. Temuan-temuan tambahan menghasilkan salinan-salinan naskah yang umurnya seribu tahun lebih tua dari salinan-salinan tertua yang diketemukan sebelumnya. Satu dari yang paling penting adalah salinan kitab Yesaya. Isinya ternyata sama dengan kitab Yesaya yang ada di Alkitab kita. Gulungan-gulungan naskah Laut Mati itu muncul dari debu bagaikan jabatan tangan yang bersifat simbolik untuk mengucapkan selamat datang kepada bangsa Israel yang baru kembali ke tanah airnya. Gulungan-gulungan itu menyingkirkan pendapat dari sebagian orang yang mengatakan bahwa Alkitab yang asli sudah hilang ditelan waktu dan sudah rusak.

  3. PERNYATAANNYA MENGENAI DIRINYA SENDIRI. Apa yang dikatakan Alkitab tentang dirinya sendiri adalah hal yang penting untuk diketahui. Jika para penulis Kitab Suci sendiri tidak pernah mengklaim bahwa mereka berbicara bagi Allah, tentunya kita berbuat lancang jika kita membuat klaim itu bagi mereka. Mungkin kita juga akan menghadapi persoalan lain. Kita mungkin akan menghadapi sejumlah misteri yang tidak terpecahkan, yang terkandung di dalam tulisan yang bersifat historis dan etis. Dan kita tidak akan mempunyai sebuah buku yang telah mengilhami munculnya sinagoga dan gereja yang tidak terhitung jumlahnya di seluruh dunia. Suatu Alkitab yang tidak mengklaim bahwa ia berbicara atas nama Allah tentunya tidak akan menjadi fondasi bagi iman ratusan juta orang Yahudi dan Kristen (2 Pe 1:16-21). Namun, dengan didukung oleh bukti dan argumentasi yang cukup, para penulis Alkitab telah mengklaim bahwa mereka diilhami oleh Allah. Berhubung jutaan orang telah mempertaruhkan kehidupan mereka saat ini dan saat kekekalan pada klaim-klaim itu, Alkitab bukanlah buku yang baik jika para penulisnya berbohong secara konsisten tentang sumber informasi mereka.

  4. MUKJIZATNYA. Peristiwa keluarnya Israel dari Mesir memberikan dasar historis untuk mempercayai bahwa Allah telah menyatakan Diri-Nya sendiri kepada Israel. Seandainya Laut Merah tidak terbelah sebagaimana yang diceritakan Musa, Perjanjian Lama kehilangan otoritasnya untuk berbicara atas nama Allah. Demikian pula Perjanjian Baru juga bergantung pada mukjizat. Seandainya Yesus secara badani tidak bangkit dari kematian, Rasul Paulus mengatakan bahwa iman Kristen didirikan di atas kebohongan. (1 Kor 15:14-17) Untuk memperlihatkan kredibilitasnya, Perjanjian Baru menyebutkan saksi-saksinya, dan ini dilakukannya di dalam kerangka-waktu yang memungkinkan klaim-klaim itu diuji kebenarannya. (1 Kor 15:1-8) Banyak dari para saksi itu akhirnya mati sebagai martir, bukan untuk membela keyakinan moral atau rohani yang abstrak tetapi untuk klaim mereka bahwa Yesus telah bangkit dari kematian. Memang mati sebagai martir bukan hal aneh, namun tetaplah penting untuk menyadari apa yang menyebabkan mereka rela kehilangan nyawanya. Banyak orang rela mati untuk sesuatu yang mereka percaya sebagai kebenaran. Dan tidak ada yang rela mati untuk sesuatu yang mereka tahu sebagai kebohongan.

  5. KESATUANNYA. Empat puluh pengarang yang berbeda menulis 66 kitab dalam Alkitab selama lebih dari 1.600 tahun. Empat ratus tahun yang hening memisahkan 39 kitab Perjanjian Lama dari 27 kitab Perjanjian Baru. Namun demikian, dari Kejadian sampai Wahyu, semua kitab menceritakan satu cerita yang utuh. Bersama-sama mereka memberikan jawaban yang konsisten terhadap pertanyaan-pertanyaan terpenting yang dapat kita tanyakan: Mengapa kita di sini? Bagaimana kita dapat mengatasi rasa takut? Bagaimana kita dapat berhasil? Bagaimana kita bisa bangkit dari keadaan kita yang buruk dan tetap berpengharapan? Bagaimana kita dapat berdamai dengan Pencipta kita? Jawaban-jawaban Alkitab yang konsisten terhadap pertanyaan-pertanyaan ini memperlihatkan bahwa Kitab Suci bukanlah banyak buku melainkan satu buku.

  6. KEAKURATANNYA DARI SEGI SEJARAH DAN GEOGRAFI. Selama berabad-abad banyak orang meragukan keakuratan Alkitab dari segi sejarah dan geografi. Namun para arkeolog modern berulang-ulang telah menggali dan menemukan bukti mengenai orang-orang, tempat-tempat, dan kebudayaan-kebudayaan yang digambarkan dalam Kitab Suci. Dari waktu ke waktu, deskripsi dalam Alkitab telah dibuktikan sebagai catatan yang lebih dapat diandalkan daripada spekulasi para ahli. Turis masa kini yang mengunjungi musium dan tempat-tempat yang dilukiskan di Alkitab mau tak mau sangat terkesan dengan latarbelakang geografis dan historis dari teks Alkitab yang ternyata riil.

  7. REKOMENDASI DARI KRISTUS. Banyak orang telah mengatakan hal yang baik mengenai Alkitab, tetapi tidak ada yang memberi rekomendasi sekuat yang diberikan Yesus dari Nazaret. Ia merekomendasikan Alkitab bukan hanya dengan ucapan-Nya tetapi juga dengan kehidupan-Nya. Pada saat-saat pencobaan-Nya, pengajaran di hadapan orang banyak, dan penderitaan-Nya, Yesus dengan jelas memperlihatkan bahwa Ia mempercayai Kitab Suci Perjanjian Lama lebih dari sekadar tradisi nasional. (Mat 4:1-11; 5:17-19) Yesus percaya bahwa Alkitab adalah buku tentang Diri-Nya sendiri. Kepada orang-orang senegeri-Nya Ia berkata, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehnya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” (Yoh 5:39-40)

  8. KEAKURATAN NUBUATANNYA. Dari zaman Musa, Alkitab telah menubuatkankan peristiwa-peristiwa yang tak seorang pun ingin mempercayainya. Sebelum Israel masuk ke Tanah Perjanjian, Musa menubuatkan bahwa Israel akan tidak setia, bahwa Israel akan kehilangan tanah yang Allah berikan kepadanya, dan bahwa Israel akan tercerai-berai ke seluruh dunia, dikumpulkan kembali, dan kemudian dibangun kembali (Ul 28-31). Pusat dari nubuatan Perjanjian Lama adalah janji tentang Mesias yang akan menyelamatkan umat Allah dari dosa-dosa mereka dan pada akhirnya membawa penghakiman dan kedamaian bagi seluruh dunia.

  9. KEBERLANGSUNGANNYA. Kitab-kitab Musa ditulis 500 tahun sebelum kitab-kitab Hindu yang paling awal. Musa menulis kitab Kejadian 2.000 tahun sebelum Muhammad menulis Quran. Selama masa yang panjang itu, tak ada buku yang dikasihi atau dibenci seperti Alkitab. Tak ada buku yang secara konsisten telah dibeli, dipelajari, dan dikutip seperti Alkitab. Sementara jutaan judul-judul lain muncul dan tenggelam, Alkitab tetap merupakan buku yang menjadi ukuran bagi buku-buku lain. Sekalipun sering diabaikan oleh orang yang merasa tak nyaman dengan ajaran-ajarannya, Alkitab tetap merupakan buku utama dari peradaban Barat.

  10. KUASANYA UNTUK MENGUBAH HIDUP MANUSIA. Orang yang tidak percaya sering menunjuk kepada mereka yang mengatakan bahwa mereka percaya Alkitab tetapi hidupnya tidak berubah. Tetapi sejarah juga ditandai oleh mereka yang kehidupannya menjadi lebih baik oleh karena buku ini. Sepuluh Perintah Allah telah menjadi sumber pengarahan moral bagi banyak orang yang tak terhitung jumlahnya. Mazmur-mazmur Daud telah memberikan kekuatan pada waktu kesulitan dan kehilangan. Khotbah Yesus di Bukit telah menjadi obat bagi jutaan orang untuk mengatasi kesombongan dan sikap legalisme. Uraian Paulus mengenai Kasih di .1Kor 13 telah banyak melunakkan hati yang sedang marah. Perubahan hidup dari orang-orang seperti Rasul Paulus, Agustinus, Martin Luther, John Newton, Leo Tolstoy, menunjukkan perubahan yang dapat dilakukan Alkitab. Bahkan satu bangsa atau suku seperti Celtic di Irlandia, Viking yang liar di Norwegia, atau Indian Auka di Equador, Dayak dan Batak di Indonesia, telah diubah oleh Firman Allah dan kehidupan serta karya Yesus Kristus yang tak terbandingkan.

ANDA TIDAK SENDIRIAN jika Anda masih meragukan Alkitab. Alkitab, sama seperti dunia di sekitar kita, memang mengandung unsur-unsur misteri. Namun demikian, jika Alkitab benar-benar seperti yang dikatakannya, Anda tidak perlu memilah-milah sendiri bukti-bukti yang ada. Yesus justru menjanjikan pertolongan ilahi bagi mereka yang ingin mengenal kebenaran tentang diri-Nya dan ajaran-Nya. Sebagai tokoh utama dari Perjanjian Baru, Yesus berkata, “Barangsiapa mau melakukan kehendak Allah, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri.” (.Yoh 7:17)

Satu kunci penting untuk mengerti Alkitab adalah bahwa Alkitab tidak pernah bermaksud untuk menarik kita kepada dirinya sendiri. Setiap prinsip di dalam Alkitab memperlihatkan kebutuhan kita akan pengampunan yang disediakan Kristus bagi kita. Alkitab memperlihatkan mengapa kita perlu membiarkan Roh Kudus hidup melalui kita. Untuk hubungan yang seperti inilah Alkitab diberikan kepada kita. Saduran dari RBC Ministries Asia, Ltd.(cd SABDA 3.0)

Inspirasi dan Kanonisasi Alkitab Perjanjian Baru

Author: David Cloud - wayoflife.org

terjemahan https://www.wayoflife.org/reports/inspiration_canonization_of_the_new_testament.html

Berikut ini adalah kutipan terbaru dari buku Faith vs. the Modern Bible Versions, yang tersedia dari Way of Life Literature:

Dalam bagian ini kita akan membahas pemberian dan kanonisasi Perjanjian Baru dari sudut pandang iman, yang berarti kita mendasarkan pengajaran kita secara langsung pada Alkitab itu sendiri. Inilah, dan hanya inilah, iman yang sejati. “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Allah” (Roma 10:17). Doktrin apa pun yang tidak didasarkan pada Firman Allah bukanlah iman, tetapi merupakan tradisi manusia dan tidak memiliki otoritas ilahi.

Buku-buku kontemporer tentang sejarah Alkitab umumnya mengulang doktrin Katolik bahwa pengembangan kanon Perjanjian Baru dilakukan secara serampangan dan terjadi dalam jangka waktu yang lama dan dilakukan oleh sinode-sinode Katolik.

Gagasan tentang kanon Perjanjian Baru yang lengkap dan jelas yang sudah ada sejak awal, yaitu sejak zaman para rasul, tidak memiliki dasar dalam sejarah. Kanon Perjanjian Baru, seperti halnya kanon Perjanjian Lama, adalah hasil dari sebuah perkembangan, dari sebuah proses yang dirangsang oleh perselisihan-perselisihan dengan orang-orang yang meragukan, baik di dalam maupun di luar Gereja, dan terhambat oleh ketidakjelasan dan keraguan-keraguan alamiah, dan yang tidak mencapai titik akhir hingga definisi dogmatis dari Konsili Trente. … dalam Sinode Hippo (393), pandangan Doktor yang agung menang, dan kanon yang benar diadopsi (“Canon of the New Testament” Ensiklopedia Katolik, Jilid III, 1908).

Lebih lanjut, adalah hal yang umum bagi para ahli Alkitab untuk mengatakan bahwa para penulis Perjanjian Baru tidak tahu bahwa mereka sedang menulis kitab suci. Pertimbangkan contoh berikut ini dari International Standard Bible Encyclopedia yang berpengaruh, yang menyertai sebagian besar paket perangkat lunak Alkitab komputer:

Ketika pekerjaan penulisan dimulai, tidak ada seorang pun yang mengirimkan surat atau menyusun sebuah Injil yang memiliki tujuan yang pasti untuk berkontribusi dalam pembentukan apa yang kita sebut sebagai ‘Alkitab’. … Mereka tidak berpikir untuk menciptakan sebuah literatur suci yang baru (“Canon, New Testament,” International Standard Bible Encyclopedia).

Ini adalah kesesatan yang sangat besar. Kita harus memahami bahwa sebagian besar buku-buku tentang sejarah Alkitab dalam 100 tahun terakhir atau lebih ditulis oleh orang-orang yang telah terinfeksi secara mendalam oleh semangat ekumenisme dan oleh skeptisisme yang telah merasuki kesarjanaan Alkitab.

Jika kita membiarkan Alkitab berbicara sendiri, kita akan mengetahui kebenaran dan dapat menghindari ketidakpercayaan di zaman ini.

1. Perjanjian Baru ditulis di bawah ilham Ilahi.

Yesus Kristus menerima firman dari Allah Bapa (Yoh. 17:8) dan Ia berjanji bahwa firman itu tidak akan berlalu (Mat. 24:35). Ia juga berjanji bahwa Roh Kudus akan menuntun para rasul ke dalam seluruh kebenaran, mengingatkan mereka akan segala sesuatu, dan menunjukkan kepada mereka hal-hal yang akan datang (Yoh. 14:25-26; 16:12-13). Dengan demikian, para rasul dan nabi yang menulis Perjanjian Baru tidak perlu bergantung pada alat bantu manusia yang penuh dengan kesalahan. Edward F. Hills dengan bijak mengamati: “Perjanjian Baru berisi firman yang diturunkan Kristus dari surga untuk keselamatan umat-Nya dan sekarang masih tertulis dalam Kitab Suci. … Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, Firman-Mu tetap di surga (Mazmur 119:89). Meskipun Kitab Suci ditulis dalam suatu periode sejarah tertentu, Kitab Suci bukanlah hasil dari periode tersebut, tetapi merupakan rencana Allah yang kekal. Ketika Allah merancang Kitab Suci di dalam kekekalan, Dia memiliki seluruh sejarah manusia dalam pandangan-Nya. Oleh karena itu, Kitab Suci selalu relevan. Pesannya tidak akan pernah bisa ketinggalan. Rumput menjadi kering dan bunga menjadi layu, tetapi Firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya (Yesaya 40:8).”

Paulus tahu bahwa para rasul menulis firman Allah di bawah bimbingan Roh Kudus (1 Korintus 2:9-13).

Paulus menganggap tulisannya berotoritas, yaitu firman Allah (1 Korintus 11:2; 14:37; Galatia 1:11-12; Kolose 1:25-28; 1 Tesalonika). 2:13; 2 Tes. 3:6, 14).

Paulus berharap tulisannya disebarkan dari gereja ke gereja (Gal. 1:2; Kol. 4:16; 1 Tes. 5:27).

Paulus menyatakan bahwa Kitab Suci ditulis oleh para nabi Perjanjian Baru melalui wahyu ilahi di bawah ilham Roh Kudus (Rm. 16:25-26; 1 Kor. 2:6-16; Ef. 3:4-5).

Petrus mengatakan bahwa firman yang diberitakan oleh para rasul adalah firman Allah (1 Petrus 1:25).

Petrus menempatkan perintah-perintah para rasul pada tingkat yang sama dengan perintah para nabi Perjanjian Lama (2 Petrus 3:2). Seorang Yahudi tidak akan berani membuat klaim seperti itu jika ia tidak yakin bahwa tulisan-tulisan para rasul adalah Kitab Suci, karena ia memandang para nabi Perjanjian Lama sebagai nubuat-nubuat Allah.

Petrus menyebut surat-surat Paulus sebagai “Kitab Suci” dan menempatkannya pada tingkat yang sama dengan Perjanjian Lama (2 Petrus 3:15-16). “Meskipun beberapa [surat-surat Paulus] telah ada selama mungkin lima belas tahun, namun tinta pada surat-surat yang lain masih belum kering, dan mungkin 2 Timotius belum ditulis ketika Petrus menulis. Tulisan-tulisan Paulus diakui dan dinyatakan oleh otoritas rasuli sebagai Kitab Suci segera setelah muncul” (Wilbur Pickering).

Kitab Wahyu ditulis sebagai Firman Allah yang bersifat nubuat (Why. 1:3; 21:5; 22:18-19).

Lukas mengklaim pemahaman yang sempurna tentang hal-hal dalam Injil, yang hanya dapat diperoleh melalui wahyu Ilahi (Lukas 1:3). Lukas sedang menyombongkan diri atau ia sedang mengklaim mendapatkan ilham.

Paulus mengutip dari Injil Lukas dan menyebutnya sebagai Kitab Suci, menempatkannya pada tingkat yang sama dengan Ulangan (bandingkan 1 Tim. 5:18; Ul. 25:4; Luk. 10:7). Wilbur Pickering mengamati: “Mengambil sudut pandang tradisional dan konservatif, 1 Timotius secara umum dianggap ditulis dalam kurun waktu lima tahun setelah Lukas. Lukas diakui dan dinyatakan oleh otoritas rasuli sebagai Kitab Suci segera setelah ia selesai ditulis” (The Identity of the New Testament Text, bab 5).

Dalam memperingatkan orang-orang percaya akan guru-guru palsu, Yudas merujuk kepada “perkataan yang telah diucapkan sebelumnya oleh rasul-rasul Tuhan Yesus Kristus” (Yudas 17). Ia memegang kata-kata ini sebagai standar ilahi.

Yohanes mengangkat pengajaran para rasul sebagai standar mutlak Kebenaran (1 Yohanes 4:6).

Kesimpulan

Bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang tidak dapat salah merupakan dasar dari setiap aspek dari masalah versi teks Alkitab. Alkitab tidak dapat diperlakukan hanya sebagai sebuah buku biasa. Alkitab harus selalu diperlakukan sebagai sesuatu yang kudus dan supernatural, sesuatu yang berbeda dengan semua tulisan lainnya.

Ketika berbicara tentang teks dan versi Alkitab, kita harus memperhatikan kata-kata dan detailnya karena Alkitab diilhamkan secara verbal dan lengkap. Kita tidak dapat menerima posisi teks modern yang mengatakan bahwa ribuan kata tidak memiliki arti apa-apa. Tujuan kita setiap saat adalah untuk memiliki kata-kata yang diberikan oleh Roh Allah kepada orang-orang kudus di masa lampau.

2. Perjanjian Baru telah selesai dan dimeteraikan.

Kitab Suci Perjanjian Baru telah selesai ditulis pada zaman para Rasul. Paulus dan Yudas menggambarkan wahyu Allah untuk zaman ini sebagai “iman” (1Tim. 4:1; Yud. 3). Hal ini dapat disebut sebagai “iman Perjanjian Baru”. Ini adalah tubuh kebenaran yang lengkap yang terdiri dari Injil, Kisah Para Rasul, dan Surat-surat.

Yudas mengatakan bahwa iman ini “telah disampaikan kepada orang-orang kudus.” Ini jelas berbicara tentang finalitas dan kesempurnaan. “Orang-orang kudus” adalah, pertama-tama, para nabi, orang-orang kudus Allah, yang kepada mereka wahyu itu diberikan. Orang-orang kudus, kedua, adalah saudara-saudara kudus di dalam gereja-gereja Perjanjian Baru yang menerima wahyu sebagai firman Allah (1 Th. 2:13).

Kitab Suci Perjanjian Baru dimeteraikan pada pasal terakhir dengan peringatan yang sungguh-sungguh untuk tidak menambah atau mengurangi dari Kitab Suci (Why. 22:18-19).

Karena para rasul tahu bahwa “seluruh Kitab Suci” diperlukan untuk menjadikan manusia sempurna, diperlengkapi dengan segala perbuatan baik (2 Tim. 3:16-17), maka sangatlah konyol jika kita berpikir bahwa mereka tidak terlibat dalam melengkapi kanon Kitab Suci untuk gereja-gereja. Mereka adalah pembangun fondasi (“dan dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi,” Efesus 2:20). Dalam pekerjaan seperti itu, tidak ada yang lebih penting daripada mengumpulkan Kitab Suci yang baru ditulis.

Hal ini mungkin dilakukan di Efesus di bawah arahan Yohanes, yang menulis lima kitab terakhir Perjanjian Baru dan hidup lebih lama dari rasul-rasul lainnya.

Kita tidak diberitahu hal ini secara persis di dalam Alkitab, karena kita tidak perlu mengetahuinya. Kita cukup diberitahu bahwa hal itu telah terjadi, kita diberitahu segala sesuatu yang Allah ingin kita ketahui (Ul. 29:29); dan kita menerima Firman Allah dengan iman. (“Sebab tanpa iman kita tidak mungkin berkenan kepada-Nya,” Ibrani 11:6).

Gereja Katolik Roma mengklaim bahwa mereka memberikan Alkitab kepada kita, tetapi kita tahu bahwa hal ini tidak benar, bukan hanya karena Alkitab telah selesai ditulis pada zaman para rasul jauh sebelum ada Gereja Katolik Roma, tetapi juga karena dua alasan yang tidak dapat disangkal:

Doktrin dan praktik Katolik Roma TIDAK ditemukan di dalam Alkitab. Gereja-gereja yang digambarkan dalam Perjanjian Baru TIDAK SAMA dengan Gereja Katolik. “Gereja” tersebut dibentuk selama berabad-abad setelah kematian para rasul, ketika para guru palsu mengotori gereja Perjanjian Baru dan menambahkan tradisi-tradisi buatan mereka.

Doktrin dan praktik Katolik Roma tidak hanya tidak ditemukan dalam Alkitab, tetapi juga bertentangan dengan Alkitab, sehingga tidak dapat menjadi sumbernya. Dogma-dogma Katolik seperti kepausan, Mariolatri, Orang Kudus, Imamat, Misa, dan Api Penyucian tidak hanya tidak ditemukan dalam Perjanjian Baru, tetapi juga bertentangan dengan pengajaran dan praktik Perjanjian Baru. Pertimbangkan beberapa contoh:

3. Perjanjian Baru telah diterima.

Kita melihat hal ini dalam Yohanes 16:13; 17:8; Kis. 2:41; 8:14; 11:1; 17:11; 1 Tes. 1:6; 2:13. Meskipun catatan sejarah ini tidak ada di luar halaman-halaman Alkitab, kita tahu bahwa penerimaan dan kanonisasi kitab-kitab Perjanjian Baru bukanlah hal yang sembarangan seperti yang digambarkan dalam kebanyakan buku-buku sejarah Alkitab. Roh Kudus yang sama yang memberikan Kitab Suci Perjanjian Baru melalui pengilhaman telah menuntun gereja-gereja dalam menerimanya.

Kita telah melihat bukti-bukti dari Alkitab bahwa kitab-kitab Perjanjian Baru diterima sebagai Firman Allah di dalam gereja-gereja para rasul. Kita memiliki bukti lebih lanjut dari tulisan-tulisan para pemimpin gereja dari 100 tahun pertama setelah para rasul.

Klemens dari Roma. “Klemens dari Roma, yang surat pertamanya kepada jemaat di Korintus biasanya bertanggal sekitar tahun 96 M, menggunakan Alkitab secara bebas, menarik otoritasnya, dan menggunakan materi Perjanjian Baru di samping materi Perjanjian Lama. Klemens mengutip Mazmur 118:18 dan Ibrani 12:8 secara berdampingan sebagai “firman yang kudus” (56:3-4). Ia mengaitkan 1 Korintus dengan ‘rasul Paulus yang diberkati’ dan mengatakan bahwa ‘dengan ilham yang benar ia telah menulis kepada kamu’ (47:1-3). Ia dengan jelas mengutip dari kitab Ibrani, 1 Korintus dan Roma, dan mungkin juga dari kitab Matius, Kisah Para Rasul, Titus, Yakobus dan 1 Petrus. Di sini uskup [pendeta] Roma, sebelum penutupan abad pertama, menulis surat resmi kepada gereja di Korintus di mana sejumlah kitab Perjanjian Baru diakui dan dinyatakan oleh otoritas uskup sebagai Kitab Suci, termasuk kitab Ibrani” (Wilbur Pickering, The Identity of the New Testament Text). Meskipun kita tidak tahu dari mana Pickering mendapatkan informasi bahwa Klemens adalah “uskup Roma” (karena penyelewengan jabatan uskup belum terjadi) atau berbicara dengan “otoritas keuskupan” (karena satu-satunya otoritas yang dimiliki oleh seorang pendeta atau uskup adalah Alkitab itu sendiri), faktanya adalah bahwa Klemens, yang menulis pada akhir abad pertama, tidak lama setelah wafatnya para rasul, mengakui kitab-kitab Perjanjian Baru sebagai Kitab Suci di samping Kitab Suci yang lama.

Polikarpus, dalam suratnya kepada jemaat di Filipi pada sekitar tahun 115 M, “merangkai rangkaian kutipan dan kiasan yang jelas dan hampir tak terputus-putus terhadap tulisan-tulisan Perjanjian Baru. … Mungkin ada lima puluh kutipan yang jelas yang diambil dari Matius, Lukas, Kisah Para Rasul, Roma, 1 dan 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 dan 2 Tesalonika, 1 dan 2 Timotius, 1 dan 2 Petrus, dan 1 Yohanes, dan banyak kiasan termasuk Markus, Ibrani, Yakobus, serta 2 dan 3 Yohanes. (Satu-satunya penulis PB yang tidak dimasukkan adalah Yudas!) Sikapnya terhadap tulisan-tulisan Perjanjian Baru terlihat jelas dalam 12:1: ‘Aku yakin, bahwa kamu telah terlatih dengan baik dalam Kitab Suci. … Sekarang, seperti yang dikatakan dalam Kitab Suci ini: “Janganlah kamu marah dan janganlah kamu berbuat dosa,” dan “Janganlah matahari menjadi gelap karena murka.” Berbahagialah orang yang mengingat hal ini.” … Dalam kedua kasus tersebut, ia menyatakan Efesus sebagai ‘Kitab Suci’. Wawasan lebih lanjut tentang sikapnya dapat ditemukan dalam 3:1-2. ‘Saudara-saudara, aku menulis hal ini kepadamu tentang kebenaran, bukan atas kehendakku sendiri, tetapi karena kamu yang pertama-tama mengundang aku. Sebab baik aku, maupun seorang pun yang serupa dengan aku, tidak dapat menandingi hikmat Paulus yang diberkati dan yang mulia, yang ketika hidup di tengah-tengah kamu, dengan tekun dan sabar mengajarkan firman kebenaran kepada orang-orang sezamannya, dan yang ketika ia tidak hadir, ia menulis surat kepada kamu. Dengan membaca surat-suratnya dengan teliti, kamu akan dapat menguatkan dirimu sendiri dalam iman yang telah diberikan kepadamu, “yang adalah ibu dari kita semua…” Ini dari seorang uskup yang mungkin adalah uskup yang paling dihormati di Asia Kecil, pada zamannya. Ia menjadi martir pada tahun 156 M” (Pickering).

Justin Martyr (wafat tahun 165 M) bersaksi bahwa gereja-gereja pada zamannya bertemu pada hari Minggu dan “membaca memoar para rasul atau tulisan-tulisan para nabi” (Apology, I, 67). Ia juga berkata: “Karena para rasul dalam memoar-memoar yang mereka tulis, yang disebut Injil, telah mewariskan apa yang diperintahkan kepada mereka…” (Apology). “[Sama seperti Abraham percaya kepada suara Allah] demikian juga kita, setelah percaya kepada suara Allah yang diucapkan oleh para rasul Kristus…” (Trypho 119). “Dan selanjutnya, ada seorang yang bernama Yohanes, salah seorang rasul Kristus, yang bernubuat dengan wahyu yang diberikan kepadanya, bahwa mereka yang percaya kepada Kristus akan tinggal seribu tahun lamanya di Yerusalem.” (Trypho 81).

Athenagorus pada tahun 177 M mengutip Matius 5:28 dan menyebutnya sebagai Kitab Suci. “… kita bahkan tidak boleh menuruti pandangan mata yang penuh nafsu. Karena, kata Kitab Suci, ‘barangsiapa memandang perempuan dengan cemar, sudah berzinah di dalam hatinya’” (Plea).

Teofilus, yang ditahbiskan menjadi gembala jemaat di Antiokhia pada sekitar tahun 170 M, mengutip 1 Tim. 2:1 dan Roma 13:7 sebagai “Firman Ilahi” (Risalah kepada Autolycus, iii). Ketika mengutip dari Injil Yohanes, ia mengatakan bahwa Yohanes “diilhami oleh Roh Kudus” (Ibid., ii). Ia berkata, “Pernyataan-pernyataan dari para nabi dan Injil ternyata konsisten, karena semuanya diilhami oleh Roh Allah yang satu” (Ibid., ii).

Irenaeus meninggal pada tahun 202 M dan sejumlah besar karyanya masih ada. Terjemahannya ke dalam bahasa Inggris mencakup antara 600-700 halaman di Perpustakaan Ante-Nicene. “Irenaeus menyatakan bahwa para rasul mengajarkan bahwa Allah adalah Penulis dari kedua Perjanjian (Against Heretics IV, 32.2) dan secara jelas menganggap tulisan-tulisan Perjanjian Baru membentuk Kanon kedua. Ia mengutip dari setiap pasal dalam Matius, 1 Korintus, Galatia, Efesus, Kolose dan Filipi, dari semua kecuali satu atau dua pasal dalam Lukas, Yohanes, Roma, 2 Tesalonika, 1 dan 2 Timotius, dan Titus, dari sebagian besar pasal dalam Markus (termasuk dua belas ayat terakhir), Kisah Para Rasul, 2 Korintus, dan Wahyu, serta dari semua kitab lainnya kecuali Filemon dan 3 Yohanes. Kedua kitab ini sangat pendek sehingga Irenaeus mungkin tidak memiliki kesempatan untuk merujuk kepada keduanya dalam karya-karyanya yang masih ada – ini tidak berarti bahwa ia tidak mengetahui tentang keduanya atau menolaknya. Jelaslah bahwa dimensi Kanon Perjanjian Baru yang diakui oleh Irenaeus sangat dekat dengan apa yang kita pegang saat ini. Sejak zaman Irenaeus, tidak ada keraguan mengenai sikap Gereja terhadap tulisan-tulisan Perjanjian Baru – tulisan-tulisan tersebut adalah Kitab Suci” (Pickering).

Bahkan beberapa kritikus tekstual modern yang naturalistik telah menyimpulkan bahwa Perjanjian Baru dalam kanon 27 kitab yang ada sekarang ini sudah ada dalam bahasa Yunani tidak lebih dari pertengahan abad ke-2, yaitu sekitar 60 tahun setelah para rasul. Lihat David Trobisch, The First Edition of the New Testament, Oxford/New York: Oxford University Press, 2000.

Dari abad kedua kita memiliki bukti bahwa sudah menjadi kebiasaan bagi setiap gereja untuk memiliki salinan tulisan-tulisan para rasul untuk dibaca dan dikhotbahkan. “Pada hari yang disebut hari Minggu, di suatu tempat berkumpul orang-orang yang tinggal di kota atau di desa, dan di sana dibacakan riwayat hidup para rasul dan tulisan-tulisan para nabi, selama masih ada waktu. Ketika pembaca telah selesai, presiden dalam sebuah ceramah mendorong dan mengundang kita untuk meniru hal-hal yang mulia ini” (Justin Martyr, Apology). Wilbur Pickering mengamati: “Baik Yustinus Martir maupun Irenaeus menyatakan bahwa Gereja telah tersebar ke seluruh bumi, pada zaman mereka – ingatlah bahwa Irenaeus, pada tahun 177, menjadi uskup di Lyons, di Galia (Prancis kuno), dan ia bukanlah uskup yang pertama di wilayah tersebut. Menggabungkan informasi ini dengan pernyataan Yustinus bahwa memoar para rasul dibacakan setiap hari Minggu di jemaat-jemaat, jelaslah bahwa pasti ada ribuan salinan tulisan Perjanjian Baru yang digunakan pada tahun 200 M. Setiap jemaat membutuhkan satu salinan untuk dibaca, dan pasti ada juga salinan-salinan pribadi di antara mereka yang mampu membelinya.” (The Identity of the New Testament Text).

Tentunya banyak orang percaya akan termotivasi untuk membuat salinan Kitab Suci mereka sendiri, dan tidak diragukan lagi, hal ini juga terjadi pada para pengkhotbah. Saya belum pernah melihat poin penting ini ditekankan dalam sejarah Alkitab yang lain, tetapi hal ini masuk akal. Saya tidak percaya bahwa ini adalah masalah keharusan untuk membeli salinan dari juru tulis profesional. Meskipun memakan waktu, tidaklah sulit untuk membuat salinan Perjanjian Baru. Dalam beberapa tahun pertama kehidupan Kristen saya, yaitu pada masa Sebelum Komputer (saya bertobat pada tahun 1973 pada usia 23 tahun), saya menyalin banyak sekali bagian dari Kitab Suci dalam semangat saya untuk menghafal dan dalam proses studi saya. Seandainya saya hidup di masa sebelumnya ketika Kitab Suci tidak tersedia dalam bentuk cetak, saya tidak ragu bahwa saya akan membuat salinan saya sendiri dari Kejadian hingga Wahyu, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, dan saya juga akan membuat salinan bagian-bagian untuk dibagikan kepada saudara-saudara lain dan bahkan kepada orang-orang yang tidak percaya. Selama bulan-bulan awal setelah saya diselamatkan, saya dengan susah payah membuat salinan kesaksian saya dengan mengetiknya berulang kali dan menggunakan kertas karbon untuk melipatgandakan usaha saya, karena saya terlalu miskin untuk mencetaknya. Saya membagikannya dalam pekerjaan penginjilan saya. Saya yakin bahwa banyak orang percaya mula-mula memiliki semangat yang sama untuk membuat salinan Firman Tuhan dan pamflet penginjilan. Hal ini wajar saja, karena orang percaya lahir dari Firman (Yak. 1:18; 1 Pet. 1:23), hidup oleh Firman (Mat. 4:4), mengenal kebenaran oleh Firman (Yoh. 8:31-32), pelaku Firman (Yak. 1:22), bertumbuh oleh Firman (1 Petrus 2:2), bekerja oleh iman yang berasal dari Firman (Roma 10:17), disucikan oleh Firman (Efesus 5:26), dan mempertahankan diri oleh Firman (Efesus 6:17).

Pada sekitar tahun 208, Tertulianus menunjuk kepada gereja-gereja yang didirikan oleh para rasul dan mengindikasikan bahwa “tulisan-tulisan otentik” masih ada dan menjadi standar mutlak yang digunakan untuk mengukur kebenaran di dalam gereja-gereja yang percaya. Ia mendesak para bidat untuk “lari ke gereja-gereja rasuli, di mana takhta para rasul masih ada di tempatnya, di mana tulisan-tulisan otentik mereka sendiri masih dibacakan, dengan suara yang jelas dan dengan wajah yang jelas pula. Achaia sangat dekat dengan Anda, (di mana) Anda menemukan CORINTH. Karena kamu tidak jauh dari Makedonia, kamu memiliki FILIPI; (dan di sana juga) kamu memiliki orang-orang Tesalonika. Karena Anda dapat menyeberang ke Asia, Anda akan menemukan EPHESUS. Dan karena kamu dekat dengan Italia, kamu memiliki ROMA, yang darinya bahkan otoritas langusng (para rasul sendiri) datang ke tangan kita sendiri” (Tertulianus, Prescription against Heretics, 36, dikutip dari Pickering). Pickering mengamati: “Beberapa orang mengira bahwa Tertulianus mengklaim bahwa tanda tangan Paulus masih dibaca pada zamannya (208), tetapi paling tidak, maksudnya adalah bahwa mereka menggunakan salinan-salinan yang setia. Apakah ada hal lain yang diharapkan? Sebagai contoh, ketika jemaat Kristen di Efesus melihat tanda tangan asli surat Paulus kepada mereka mulai rusak, apakah mereka tidak dengan hati-hati membuat salinan yang sama untuk mereka gunakan? Akankah mereka membiarkan tanda tangan itu musnah tanpa membuat salinannya? (Pasti ada banyak orang yang datang untuk membuat salinan surat mereka atau untuk memverifikasi pembacaan yang benar). Saya percaya bahwa kita harus menyimpulkan bahwa pada tahun 200, Gereja Efesus masih berada dalam posisi untuk membuktikan kata-kata asli dari suratnya (dan juga surat-surat yang lain)…”

Pada tahun 367 M, Athanasius, yang dengan berani menentang ajaran sesat Arian yang menyangkal keilahian Yesus Kristus (meskipun ia memiliki ajaran sesatnya sendiri!), menerbitkan daftar kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menurutnya “diturunkan dan dipercayai sebagai ilahi.” Daftar ini berisi semua 27 kitab yang ada dalam Perjanjian Baru kita saat ini.

Semua pengakuan iman Reformasi menjunjung tinggi ke-66 kitab dalam Alkitab sebagai Kitab Suci yang ilahi. Contohnya adalah Pengakuan Iman Reformed 1534, Pengakuan Iman Helvetic 1536, Pengakuan Iman Belgia 1561, dan Pengakuan Iman Westminster 1643, dan Pengakuan Iman Baptis Philadelphia, 1742, untuk menyebutkan beberapa di antaranya. Westminster mengatakan bahwa ke-66 kitab dalam Alkitab “diilhamkan secara langsung oleh Allah, dan oleh pemeliharaan dan pemeliharaan-Nya yang tunggal, dijaga kemurniannya di segala zaman, oleh karena itu adalah otentik; sehingga dalam semua kontroversi agama, gereja pada akhirnya harus berpegang pada kitab-kitab tersebut.”

Apakah arti penting dari fakta-fakta sejarah ini?

Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa Roh yang sama yang mengilhami Kitab Suci telah menerangi orang-orang percaya untuk mengenali dan menerimanya (Yoh. 16:13; 1 Yoh. 2:20). Dengan demikian, proses kanonisasi bukanlah proses yang sembarangan seperti yang biasa digambarkan dalam buku-buku kontemporer tentang sejarah Alkitab. Allah tidak membiarkan hal yang sangat penting ini terjadi begitu saja. Dia menuntun secara khusus agar gereja-gereja menerima tulisan-tulisan yang terinspirasi dan menolak tulisan-tulisan yang palsu.

Teks Alkitab yang asli tidak hilang di antara orang-orang percaya pada abad-abad mula-mula; tulisan-tulisan para rasul yang otentik masih tersedia pada awal abad ke-3; dan tidak ada kebutuhan untuk melakukan kritik tekstual pada abad-abad mula-mula gereja.

Orang-orang percaya mula-mula adalah orang-orang yang melek huruf. “… dunia di mana Kekristenan lahir, jika bukan dunia sastra, adalah dunia yang melek huruf pada tingkat yang luar biasa; di Timur Dekat pada abad pertama zaman kita, menulis adalah pendamping kehidupan yang esensial pada hampir semua tingkatan sampai pada tingkat yang tidak ada bandingannya dalam ingatan yang masih hidup” (Cambridge History of the Bible, Jilid I, hlm. 48).

Kita dapat berharap bahwa sebagian besar manuskrip dan versi yang masih ada kemungkinan besar akan mewakili teks Alkitab yang murni, karena salinan-salinan otentik telah diperbanyak secara besar-besaran di seluruh gereja-gereja yang percaya kepada Alkitab oleh semangat orang-orang kudus yang setia. Naskah-naskah dan versi-versi yang korup digunakan untuk sementara waktu dan di tempat-tempat tertentu, seperti Mesir, tetapi tidak dapat bertahan karena aktivitas pemeliharaan Roh Kudus dan kewaspadaan orang-orang percaya.

Kita dapat berharap untuk menemukan teks paling murni dari Kitab Suci Perjanjian Baru bukan di Mesir, melainkan di Asia Kecil dan Eropa. “Saya percaya kita dapat menyimpulkan bahwa secara umum kualitas salinan akan menjadi yang tertinggi di daerah sekitar Tulisan Asli (autoggraph) dan secara bertahap akan memburuk seiring dengan bertambahnya jarak. … Dengan menggabungkan Asia Kecil dan Yunani, wilayah Aegea menyimpan setidaknya delapan belas (dua pertiga dari total) dan mungkin sebanyak dua puluh empat dari dua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru; Roma menyimpan setidaknya dua dan mungkin sampai tujuh; Palestina mungkin menyimpan sampai tiga (tetapi pada tahun 70 Masehi [saat Roma menghancurkan Yerusalem] kitab-kitab tersebut akan dikirim untuk disimpan dengan aman, kemungkinan besar ke Antiokhia); Aleksandria (Mesir) tidak memiliki satupun. Wilayah Aegea jelas memiliki awal yang paling baik, dan Aleksandria yang paling buruk – teks di Mesir mungkin hanya merupakan tangan kedua, paling banter. Sepintas lalu, kita dapat berasumsi bahwa pada periode awal transmisi naskah PB, salinan-salinan yang paling dapat diandalkan adalah yang beredar di wilayah yang memiliki Tulisan Asli (authograph)” (Wilbur Pickering, The Identity of the New Testament, bab 5).

4. Perjanjian Baru dipelihara dengan hati-hati dan diteruskan kepada generasi-generasi berikutnya (1 Tim. 6:13-14; Mat. 28:19-20; 2 Tim. 2:2).

Orang-orang percaya di gereja mula-mula diajar untuk memelihara Kitab Suci “dengan tidak bercacat” (1 Tim. 6:13) dan meneruskan apa yang telah diajarkan oleh para rasul kepada orang-orang yang setia, yang dapat mengajar orang lain (2 Tim. 2:2).

Mereka diajar untuk meneruskan iman dengan hati-hati kepada generasi-generasi penerus disiplin dan gereja. Kristus memerintahkan hal ini dalam Matius 28:19-20, memerintahkan gereja-gereja untuk mengajar para murid untuk “melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Hal ini mengharuskan jemaat untuk memiliki “segala sesuatu” secara tertulis, yang telah mereka lakukan dalam Injil, Kisah Para Rasul, dan surat-surat.

Tidak ada yang sembarangan atau ceroboh dalam proses ini. Satu-satunya yang akan sembarangan atau ceroboh dalam hal ini adalah guru-guru palsu dan orang-orang Kristen nominal, mereka yang tidak membaca alkitab. Satu-satunya yang akan sembarangan atau ceroboh dalam hal ini adalah guru-guru palsu dan orang-orang Kristen nominal, mereka yang tidak membaca alkitab.

Benarkah, saat ini, Tuhan hanya berbicara melalui Alkitab?

Author: Ranto Vaber Simamora

Mengapa semua orang saat ini HANYA boleh percaya pada Alkitab (66 kitab) saja? Mengapa kita tidak boleh percaya pada kitab agama lain atau pada kesaksian orang yang naik ke sorga, orang yang ngaku-ngaku pergi ke neraka atau kepada orang yang katanya bertemu malaikat? Karena saat ini, Tuhan berbicara kepada manusia HANYA melalui Alkitab.

Sebelum Alkitab lengkap/sempurna, Tuhan berbicara kepada manusia dengan pelbagai cara (Ibrani 1:1). Kita akan melihat cara-cara yang Tuhan pakai dalam berkomunikasi kepada manusia sebelum Alkitab selesai ditulis.

1. Tuhan berbicara kepada manusia secara langsung

Dalam Kejadian 2-3 Tuhan berbicara kepada Adam dan Hawa secara langsung. Dalam rupa manusia Tuhan berjalan bersama Adam sebelum mereka jatuh dalam dosa. Tetapi saat ini Tuhan tidak lagi duduk dan berjalan bersama-sama dengan kita, seperti yang Ia lakukan kepada Adam.

2. Tuhan berbicara kepada manusia melalui (via) suara

Setelah kejatuhan Adam, Tuhan berbicara kepada manusia melalui suara. Tuhan berbicara kepada Kain (Kej. 4:6), dan Nuh (Kej. 6:13) melalui suara. Saat ini Tuhan tidak berbicara melalui suara kepada semua orang. Tuhan berbicara melaui firman-Nya (Alkitab).

3. Tuhan berbicara kepada manusia melalui undian

Yunus ditetapkan sebagai penyebab laut bergelora melalui sistem undi (Yunus 1:7). Matias juga dipilih menggantikan posisi Yudas Iskariot melalui sistem undi (Kis. 1:26). Tetapi saat ini, kita tidak mengundi seseorang untuk mengetahui apakah dia berbuat dosa atau tidak.

4. Tuhan berbicara kepada manusia dalam rupa manusia (Theophany)

Tuhan bertemu Abraham dalam rupa manusia (Kej. 18:1-3). Yakub juga bertemu Tuhan dalam rupa manusia (Kej. 32:28-30). Apakah Tuhan saat ini bertemu Anda dalam rupa manusia? Tentu saja tidak! Karena saat ini, Tuhan tidak bertemu dengan kita dalam rupa seorang manusia.

5. Tuhan berbicara kepada manusia melalui urim dan tumim.

Urim dan Tumim (Kel. 28:30) merupakan dua buah batu yang terletak di kantong penutup dada imam besar. Tuhan menyatakan kehendakNya melalui kedua batu ini (I Sam. 14:41). Saat ini kedua batu ini sudah tidak ada. Apakah itu artinya Tuhan sudah tidak berbicara lagi? Tuhan masih tetap berbicara melalui Alkitab.

6. Tuhan berbicara kepada manusia melalui mimpi.

Tuhan menyatakan kehendakNya melalui mimpi kepada Yusuf, Firaun, Nebukadnezar, Maria dll. Semua yang mimpi dalam Alkitab itu saksinya adalah Tuhan. Saat ini semua manusia bermimpi disebabkan oleh banyak kesibukan (Pengkotbah 5:2).

7. Tuhan berbicara kepada manusia lewat nubuatan.

Melalui para Nabi-Nya Tuhan menubuatkan banyak hal dalam Alkitab. Banyak dari nubuat-nubuat ini sudah digenapi dan lainnya masih menunggu penggenapannya. Wahyu 22:18 memberi peringatan agar tidak menambah dan mengurangi nubuat-nubuat dalam Alkitab. Karena nubuat sudah tidak boleh ditambahi, maka sekarang ini, tidak ada lagi nabi.

8. Tuhan berbicara kepada manusia melalui perantaraan para Nabi.

Nabi adalah penyampai pesan Tuhan kepada umat. Melalui nabi-nabi, Tuhan menyatakan kehendakNya dan menyingkapkan hal-hal yang akan datang (Nubuat). Karena semua hal-hal yang akan datang sudah Tuhan singkapkan maka sekarang jabatan nabi sudah tidak ada lagi.

9. Tuhan berbicara kepada manusia dengan mengutus malaikat.

Tuhan mengutus malaikat untuk menyampaikan pesan dan untuk melindungi umatNya. Semua yang bertemu Malaikat dalam Alkitab, kita percaya itu benar karena dicatat dalam Alkitab.

10. Tuhan berbicara kepada manusia melalui para rasul.

Para rasul menjadi ukuran kebenaran saat Alkitab Perjanjian Baru masih dalam proses penulisan. Melalui mereka Tuhan menyatakan firmanNya.

11. Tuhan berbicara kepada manusia melalui karunia-karunia roh.

Karunia-karunia roh adalah suatu kemampuan adikodrati yang Tuhan berikan kepada seseorang tanpa melalui proses belajar (I Korintus 12:1-11). Tuhan memberikan karunia-karunia roh untuk membangun jemaat saat Alkitab masih dalam proses penulisan, tapi saat Alkitab selesai ditulis karunia-karunia roh ini akan berhenti (I Korintus 13:10). Karunia-karunia roh ini ada masa pemakaiannya. Tidak di semua zaman memiliki karunia-karunia roh, zaman Adam, zaman Abraham, zaman Daud dan saat ini, karunia-karunia roh sudah tidak ada.

12. Tuhan berbicara kepada manusia secara langsung (Yesus Kristus).

Tuhan Yesus berbicara secara langsung kepada manusia dalam rupa manusia. Setiap orang pada zaman itu dapat melihat dan menyentuhnya. Tetapi sekarang Tuhan Yesus sudah di Sorga (Kis. 1:9-11).

13. Tuhan berbicara kepada manusia HANYA melalui Alkitab saja.

Setelah kitab Wahyu ditulis oleh Rasul Yohanes di pulau Patmos pada tahun 98 Masehi, sejak saat itulah Tuhan HANYA berbicara kepada manusia melalui Alkitab. Kalau dulu Tuhan berbicara kepada manusia melalui banyak cara, sekarang Tuhan HANYA bicara melalui Alkitab (Wahyu 22:18-19).

Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang mampu membatasi cara Tuhan berbicara, Tuhanlah yang membatasi manusia agar percaya HANYA pada firman-Nya saja.

Tuhan membatasi manusia agar ia terhindar dari permainan nabi-nabi palsu, rasul-rasul palsu, pengajar-pengajar palsu, rohaniawan-rohaniawan palsu dan kitab-kitab palsu, terlebih terhadap tipu muslihat Iblis yang memakai banyak cara untuk menipu banyak orang.

Ada banyak “ajaran tertentu” yang membuat tradisi gerejanya menjadi patokan kebenaran. Yang lain membuat konsili gerejanya menjadi patokan kebenaran. Sebagian mengutip “bapa-bapa gereja mereka” menjadi ukuran kebenaran. Dan ada yang membuat credo/pengakuan iman gereja setara dengan Alkitab.

Dengan kata lain, mereka menghakimi Alkitab menurut perkataan rohaniawan gereja mereka. Alkitab hanya sebagai pelengkap dari setiap buku atau kredo yang mereka buat.

Sesungguhnya TIDAK ADA tradisi, teolog, konsili, rohaniawan atau “bapa-bapa gereja tertentu” yang menjadi patokan kebenaran. Patokan KEBENARAN adalah Alkitab, satu-satunya Firman Tuhan.

Roh Kudus memimpin orang percaya pada seluruh kebenaran. Tuhan Yesus mengutus Roh Kudus untuk menuntun semua orang pada seluruh kebenaran. Ia menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh. 16:8). Dia adalah penolong yang lain yang Tuhan Yesus utus dari Sorga. Roh Kudus menerangi pikiran dan hati setiap orang percaya saat mereka membaca dan merenungkan firman Tuhan. Roh Kudus juga mengingatkan orang percaya akan firman Tuhan saat mereka menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan.

Tuhan dapat memakai 1001 cara agar manusia datang kepada Firman-Nya. Sekalipun saat ini, Tuhan HANYA berbicara kepada manusia melalui Alkitab, tetapi Tuhan juga dapat memakai SEMUA cara untuk menyadarkan seseorang agar percaya kepada Firman-Nya. Seperti kejahatan saudara-saudara Yusuf, Tuhan bisa pakai untuk tujuan yang mulia. Demikian juga kesalahan dari kitab-kitab agama lain dapat Tuhan pakai untuk membuat seseorang mencari kebenaran. Sakit penyakit, kematian, masalah kehidupan, bencana alam, semua ini dapat Tuhan pakai untuk menggugah hati seseorang sehingga dia mencari kebenaran dan menemukannya dalam Alkitab (firman Tuhan).

Jadi, untuk zaman ini Tuhan HANYA berbicara melalui Alkitab dan tuntunan Roh Kudus, tetapi Tuhan juga dapat “memakai” sebuah kejadian atau kejahatan untuk mendorong manusia datang kepada firman-Nya dan akhirnya ia diselamatkan.

Kepustakaan: